“Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa.”
Tak kan habis dkisahkan, tak kan habis dikenangkan. Hanya saja kali ini, kuingin kita bermuhasabah kembali bagi setiap kawan yang memiliki ibu.
Berawal dari seorang teman yang berceletuk kepadaku ketika kutemui sore itu.
“Huh! Memang ya, kasih anak itu cuman sepanjang galah, tapi kasih ibu itu sepanjang masa”, celetuknya.
“Lho memangnya ada apa?” buruku setelah melihat wajahnya yang terlihat kesal.
Selanjutnya, melajulah serentetan kisah. Semua itu berawal ketika ia tak tega melihat neneknya yang sudah sangat renta dan sakit-sakitan itu dibiarkan dengan penderitaannya tanpa ada tindakan medis dari keluarga. Bukan karena uang yang banyak pula ia akhirnya memeriksakan neneknya tersebut ke dokter, tapi lantaran ia berfikir ‘Kalau aku yang jadi nenek, lalu anak-anak dan cucunya sendiri tak peduli, tentu betapa sedihnya ….’
Pasalnya memang ibu temanku ini sudah tidak peduli lagi dengan kelanjutan hidup sang nenek renta. Sempat pula temanku, dengan gayanya yang khas menunjukkan kepadaku bagaimana ia naik pitam dengan sikap masa bodoh ibunya tersebut.
“Mak, dulu emak waktu kecil kan juga pernah sakit parah tapi embah berusaha bagaimanapun caranya biar emak bisa sehat lagi. Sekarang embah sakit kenapa emak membiarkan saja?” serbunya.
“Embahmu itu emang sudah tua, sudah waktunya meninggal. Jadi biarkan saja kalau memang sakit, itu sudah wajar. Ndak perlu dibawa ke dokter. Mending uangnya sini buat emak,” jawab ibunya enteng.
Aku yang hanya terbengong dan awalnya tidak mengerti makna kalimat ‘kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa’ hanya bisa manggut-manggut. Bukan kisah tragisnya di sini yang membuatku merenung karena mungkin di luar sana ada banyak kisah lebih memilukan yang dialami para ibu. Akan tetapi temanku pada akhirnya tersadar. Jika kejengkelannya pada ibunya yang masa bodoh dengan neneknya itu ia biarkan, ia khawatir hal serupa pula yang akan ia lakukan. Lalu, bagaimana pula yang akan dilakukan anaknya kepadanya, dan seterusnya.
Bukankah seorang ibu itu menjadi cermin bagi anaknya.
“Tidak bisakah diriku lebih bersabar dan terus berusaha mengingatkan ibu yang memang tingkat pendidikannya jauh dari aku?” gumamnya perlahan kepadaku.
Tiada kata yang bisa kuselipkan dari kisahnya selain firman Allah Swt. :
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Wallahua’lam bish showab. [My Lovely]

No comments:
Post a Comment