Wednesday, 6 January 2016

Contoh Pidato Perpisahan



Assalaamu’alaikum Wr.Wb.
Selamat sore untuk para undangan.
Yth. Bapak Bupati Gresik
Yth. Kepala UPT Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik
Yth. Ibu Kepala Sekolah SDN 1 Sidomoro Gresik
Yth. Para Guru dan Staf SDN 1 Sidomoro Gresik

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt. Yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita sekalian sehingga kita dapat berkumpul bersama di acara perpisahan Kelas VI dalam keadaan sehat wal afiat.

Tak lupa pula Shalawat serta Salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. Yang telah membimbing kita dari jalan gelap ke jalan terang benderang yaitu agama Islam yang mulia.

Ketiga kalinya, saya sampaikan terima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah SDN 1 Sidomoro Gresik yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk memberikan sedikit pidato di acara yang kita semua tunggu-tunggu ini.

Ilmu ibarat cahaya, ilmu ibarat harta, dan ilmu adalah modal kita dalam melakukan amal. Jenjang pendidikan sekolah dasar ini adalah awal anak-anak menimba ilmu di usia yang sesuai untuk otak dalam melakukan analisis dan pemikiran lebih jauh setelah jenjang taman kanak-kanak sebagai dasarnya. Di jenjang sekolah dasar ini pula jenjang yang paling lama anak-anak menuntut ilmu. Hal itu tidak lain karena di masa-mas inilah otak mengalami perkembangan pesat setelah masa-masa emasnya ketika taman kanak-kanak.

Kini setelah enam tahun berpayah-payah, berjuang dalam suka dan duka bersama seluruh warga sekolah, kami anak-anak kelas VI Sekolah Dasar Negeri 1 Sidomoro Gresik sangat bersyukur atas kelulusan kami secara penuh. Tidak ada satu pun dari kami yang tidak lulus. Kelegaan menjadi hal tersendiri manakala kami melihat nama-nama kami dalam deretan nama-nama anak yang lulus di tahun ini.

Bukan hanya masa depan yang kami ingat tatkala memikirkan tentang kelulusan. Akan tetapi, bayangan wajah demi wajah guru-guru yang senantiasa sabar membimbing kami dan ikhlas mencurahkan seluruh ilmu dan waktunya demi kesuksesan kami. Kalian bagaikan orang tua kami sendiri di sekolah ini. Sekalipun ada sedikit marah, kesal, dan sedih yang kalian tampakkan, tak lain itu karena kalian hanyalah manusia biasa yang mendidik kami, anak-anak dengan penuh kreatifitas sekaligus kebandelan. Beribu maaf kami haturkan, beribu kasih kami kirimkan atas seluruh jasa-jasa kalian.

Sekolah ini adalah sejarah bagi kami. Sekolah ini adalah awal keberhasilan kami. Sekolah ini adalah kenangan terindah bersama semuanya. Semoga Allah senantiasa mengiringi kita dengan ridho-Nya.Aamiin.

Demikian sedikit pidato dari saya. Permohonan doa yang sangat kami pintakan kepada semuanya untuk kesuksean langkah kami selanjutnya. Saya mohon maaf bila dalam pidato saya tadi ada kata-kata yang kurang berkenan. Terima kasih atas perhatiannya.

Wassalaamu’alaikum Wr.Wb.

(My Lovely)

Thursday, 31 December 2015

Melupakan 2 Hal dan Mengingat 2 Hal Saat Tahun Baru

Tahun baru masehi bukanlah tahun baru Islam. Akan tetapi banyak pula bahkan hampir semua masyarakat di dunia baik Islam maupun agama lainnya merayakan tahun baru masehi. Apapun itu, dalam moment tertentu seperti tahun baru atau bila perlu dalam setiap harinya kita melakukan perenungan diri.

Dua hal menjelang dan saat tahun baru yang bisa menjadi resolusi diri kita baiknya perlu dicoba. Dua hal menjelang tahun baru yang perlu diingat adalah pertama, melupakan semua keburukan atau kekhilafan orang terhadap diri kita. Kedua, adalah melupakan semua kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang.

Dua hal saat tahun baru yang baiknya kita ingat adalah pertama, mengingat semua keburukan kita kepada orang agar tumbuh keinginan untuk memperbaiki diri. Kedua, mengingat semua kebaikan orang kepada kita sehingga tumbuh keinginan untuk berbuat hal serupa terhadapa manusia yang lain.

Tahun baru masehi bukanlah hari yang spesial menurut sebagian orang. Hari itu adalah hari yang sama dengan hari lainnya. Sebagian orang yang lain berpendapat bahwa tahun baru masehi adalah hari dimana kita mulai lembaran baru hidup. Apapun pemikiran kita, muhasabah diri tentulah penting dalam tiap detik hidup kita. Barakallah.

Wallahu a'lam bish showab.

(My Lovely)

Monday, 28 December 2015

Pendadaran Calon Prajurit (Renggo Rekso Utomo Bagian 2)




Iring-iringan berkuda  itu berjalan perlahan menyusuri jalanan kota  Kadipaten   Candi Sari  yang masih sepi karena  hari memang masih sangat pagi buta , di ufuk timur matahari belum menampakan diri hanya samar samar terlihat sedikit sinar merah jingga pertanda pagihari akan menjelang , mereka sengaja tidak memacu kudanya karena akan membangunkan para penduduk sepanjang jalan yang dilewatinya .

Beberapa saat kemudian rombongan berkuda itu sampai di gerbang kota Kadipaten Candi Sari  dan mereka terus berjalan menuju keluar kota yang mengarah ke Kota Kerajaan Jenggolo Manik , mereka terus menyusuri jalan yang berpasir halus yang Nampak jelas bekas  roda roda pedati dan terkadang jalan itu berbatu kecil-kecil yang ditata rapi , semakin lama mereka semakin jauh meninggalkan kota Kadipaten Candi Sari  dan lambat laun hari mulai terang karena di ufuk timur  matahari terlihat bulat dengan warna merah , pemandangan di kanan kiri jalan itu mulai terlihat dengan jelas , di sebelah kanan jalan terlihat ladang yang di belakangnya terdapat bukit dengan pepohonan yang rimbun , sedangkan di sebelah kiri jalan terhampar persawahan dengan tanaman padi yang subur menghijau yang sebentar lagi padi ini akan segera berbuah , dikejauhan sana Nampak aliran sungai yang berliku-liku dengan air yang tenang menandakan banyaknya air yang cukup untuk mengairi persawahan yang sekian luasnya .

Ki Prawiro yang berkuda paling depan mulai memacu kudanya diikuti oleh penunggang kuda lainnya semakin cepat . . . semakin cepat . . . akirnya iring-iringan itu berpacu dengan cepat , mereka tidak kawatir terperosok dijalan itu karena sudah terang benderang dan sinar mata hari mulai terasa sedikit menyengat kulit , di jalanan itu Nampak debu mengepul karena hempasan kaki kuda – kuda yang sedang berpacu , Ki Prawiro yang menunggang kuda paling depan memperlambat lari kudanya diikuti oleh penunggang kuda di belakangnya dan akirnya kuda kuda itu hanya berlari kecil , para penunggang kuda yang di belakang baru tahu ternyata di depan mereka ada pedati yang berjalan sangat lambat karena penuh dengan muatan bamboo yang entah mau dibawa kemana , mereka mendahului pedati itu satu demi satu kemudian kuda kuda itu kembali dipacu dengan cepat .

Perjalanan mereka memasuki sebuah hutan dan jalanan mulai menanjak , semakin masuk kedalam hutan jalanan itu semakin menanjak dan kuda kuda itu berjalan dengan pelan pelan , selain jalannya menanjak juga banyak bebatuan yang bisa membuat kuda kuda itu terpeleset apabila tidak hati-hati , mereka terus berjalan hingga tiba di lambung bukit dimana mereka bisa melihat sisi seberang bukit itu yang mana tampak pemandangan sangat indah sampai nun jauh disana terbentang persawahan dan ladang .

Ki Prawiro menghentikan kudanya menepi jalan lalu turun dari pelana kemudian menambatkan kudanya pada sebatang perdu , para penunggang kuda yang lain mengikuti apa yang dilakukan Ki Prawiro yang kemudian mereka beristirahat duduk di atas sebuah batu besar yang ada di bawah pohon randu alas yang berdaun lebat dan rindang , kuda kuda yang ditambatkan pada perdu perdu di pinggir jalan itupun mulai makan rumput yang tumbuh subur di sepanjang jalan itu .

Ki Prawiro       :    Kita beristirahat sejenak di sini . . . . ngger .  .  .  .
Sentanu           :    Baiklah Paman . . . .
Ki Prawiro       :    Setahu saya kalian ini pada saling belum kenal antara satu dengan yang
lainnya  . . .untuk itu silahkan kalian saling berkenalan , karena nantinya kalian harus saling kerja sama  .  .  . walaupun pada hal-hal tertentu kalian juga harus saling berlomba .

Empat orang  anak muda yang pergi ke Kota Raja bersama Ki Prawiro itupun saling berkenalan , ada seorang anak muda yang berparas tampan dengan baju yang sangat bagus , pemuda ini bernama Sundoko , Sundoko  adalah anak seorang saudagar kaya dari Kota Kadipaten Candi Sari , namun sayangnya pemuda ini berperilaku agak sombong , dia mengikuti kepergian ke Kota Kerajaan ini karena dipaksa oleh orang tuannya yang sudah kerepotan untuk mendidik Sundoko yang sangat nakal sekali , dia sering membuat onar dimana-mana terutama sering berkelahi bersama teman temannya di tempat perjudian sabung ayam , ayah Sundoko juga sangat geram kepada anaknya itu yang selalu menghambur-hamburkan uangnya untuk berfoya-foya dengan teman temannya , setiap kali ayahnya memarahi Sundoko ibunya selalu membela dan memanjakannya , yang ke dua adalah anak muda yang berpenampilan sangat rapi , anak muda yang kedua ini sangat pendiam tetapi selalu memperhatikan semua hal di sekitarnya , pemuda ini bernama Waskito Budi , Waskito Budi adalah putra seorang Abdi Dalem Adipati Candi Sari yang sudah lama bersahabat dengan Ki Prawiro , anank ini memang dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya agar kelak di kemudian hari bisa menjadi Punggowo Kerajaan Jenggolo Manik , setidak tidaknya itulah yang diinginkan kedua orang tuanya , yang ketiga adalah Sentanu , Sentanu ini masih ada pertalian darah dengan Ki Prawiro , karena Sentanu adalah anak adik kandung Ki Prawiro , ayah Sentanu menjadi kepala Padukuhan di Kademangan Ngadipuro  yang tidak jauh dari Kota Kadipaten Candi Sari , sedangkan yang keempat adalah Rekso Utomo .

Mereka saling berjabatan tangan dan saling menyebutkan nama masing masing untuk berkenalan , hanya Sundoko yang terlihat malas malasan untuk berkenalan dengan yang lain , dia hanya menanggapi perkenalan itu dengan dingin lalu dia mengambil posisi duduk dipuncak batu besar yang ebntuknya memang seperti gunung atau seperti tumpeng , karena perhentian itu memang terkenal dengan sebutan palerenan watu tumpeng .

Ki Prawiro       :     Angger semuanya . . . hari sudah siang sebentar lagi mata hari akan condong
kebarat , yang membawa bekal silahkan dimakan , karena kita bisa sampai di perkampungan sekitar nanti sore .

Tanpa ada yang menjawap mereka segera mengeluarkan bekal masing masing , ternyata semua orang di rombongan kecil itu membawa bekal , tak terkecuali Ki Prawiro juga membawa bekal , hanya bekal Ki Prawiro tidak sebanyak bekal para anak anak muda itu . . Ki Prawiro hanya mengeluarkan dua buah lepet dari beras ketan yang dibungkus daun kokrok ( semacam daun rotan ) , sedangkan para pemuda yang lain mengeluarkan bekal mereka yang besar besar yang berisi makanan yang enak enak , maklumlah para ibu mereka sangat kawatir anak mereka kelaparan ditengah jalan , Rekso juga tidak ketinggalan . . . dibukanya bekal yang dibuatkan oleh bibinya , Rekso sendiri tidak tahu isinya apa yang pasti bekal itu besar juga , setelah bungkusan kain yang menutupi bekal itu dibuka ternyata di dalamnya ada dua bungkusan dari daun pisang , yang satu gulungan daun pisang yang didalamnya berisi nasi pulen  . . . Rekso tersenyum memandangi gulungan nasi dalam daun pisang buatan bibinya itu , karena sama persis seperti buatan ibunya di deasa kalau membawakan bekal jika dia pergi ke Padhepokan Windu Jati , lalu Rekso membuka bungkusan satunya yang agak kecil dari bungkusan nasi dan ternyata isinya dua paha ayam panggang yang di tumpuki dengan serundeng kelapa muda , Sentanu yang duduk di dekat Rekso memandangi bekal yang dibuka Rekso , Rekso yang melihat Sentanu seperti itu lalu menyodorkan lauknya kearah Sentanu . . . Sentanu memandangi Rekso dan paha ayam panggang itu dengan tajam penuh selidik lalu diambil sepotong paha ayam panggang itu tanpa ada keraguan sedikitpun lalu ditaruh diatas bekal nasinya , lalu lauk pauknya sendiri yang telah dibuatkan oleh ibunya yang ternyata adalah sambal goring ati langsung ditaruh dihadapan Rekso dan mereka duduk berhadapan makan bersama .

Selama istirahat makan itu Rekso sesekali memperhatikan jalanan  dan  hutan di sekelilingnya , Rekso  juga memperhatikan kalau Waskito Budi juga melakukan hal yang sama , tak seberapa lama kemudian Waskito Budi mendekati Rekso sambil berbisik perlahan .

Waskito           :    Apa kamu merasakan apa yang kurasakan . . . aku sedari tadi juga
memperhatikan kamu
Rekso              :    Ya . . . aku mengerti apa yang kamu maksutkan . . . kita harus tetap waspada
tetapi jangan terlihat mencolok biar yang lainnya tidak ketakutan
 Waskito          :    Aku setuju

Waskito kemudian kembali duduk di tempatnya semula , sedangkan Sentani yang mendengar pembicaraan itu menjadi bingung  dan  heran  . . . benaknya bertanya tanya  . . . ada apa . . . ? dia pun mulai mengamati dengan teliti melalalui pandangan  dan pendengarannya , Rekso yang sudah terbiasa dengan kondisi hutan  dan lingkungan pedesaan , juga pengalamannya sebagai murit Padhepokan Windu Jati  sudah curiga sedari tadi , sama dengan Waskito yang curiga bahwa dihutan dengan pepohonan yang besar besar itu tidak ada terlihat seekor binatang pun bahkan suara burung yang biasanya selalu berkicau di mana-mana kali ini tiada seekorpun yang ada di situ , hal ini menjadikan keanehan . . . pasti para penghuni hutan ini menyingkir karena ada penghuni lain yang membuat mereka ketakutan di tempat itu .

Benar juga kecurigaan kedua pemuda itu . . . karena tak berapa lama dari balik semak di seberang jalan itu muncul seorang yang bertubuh tinggi besar dengan wajah menyeramkan , begitu muncul orang itu langsung mendekati mereka dan berhenti berkacak pinggang dengan garang sambil tertawa keras keras , seketika itu pula dari balik pohon besar di sebelah kanan dan kiri mereka duduk muncul tiga  orang yang bertampang seram dengan rambut panjang acak acakan , mereka maju sambil matanya melotot  mendekati tempat duduk Ki Prawiro beserta rombongan kecilnya , dari belakang batu besar yang diduduki rombongan kecil itu yang lepas dari perhatian mereka terdengar suara teriakan sangat keras yang membuat mereka sangat terkejut .


bersambung

(Karman)


Thursday, 24 December 2015

Fenomena Senam Pinguin

"Kemaksiatan itu bagaikan kita sedang berjalan di pantai, tak terasa kita sudah berada di tengah laut."

Kalimat itu terlontar begitu saja ketika aku menanyakan pendapat salah seorang teman yang duduk di sebelahku setelah kami sama-sama melihat video senam yang diperagakan oleh kalangan berjilbab  dengan menggunakan topeng.

Hal yang berputar-putar dalam pikiranku adalah tentang apa bedanya senam itu dengan senam-senam yang lain dimana mendapat tanggapan negatif mulai dari sisi music dan gerakan.

Sebagian orang berpendapat bahwa sah-sah saja toh itu tujuannya baik untuk kebugaran tubuh dan lagi pemberian contohnya syar'i, menggunakan pakaian syar'i dan memakai topeng. Sebagian orang lainnya menilai bahwa jika senam pada umumnya dinilai tak syar'i dari sisi music dan gerakan, senam pinguin ini justru menggunakan lagu ala diskotik.

Sebagian yang lain mengatakan bahwa tidak ada masalah dengan semua itu. Jika syar'i nya yang dimaksudkan, tinggal senam di dalam ruangan tertutup saja walau menggunakan musik seperti layaknya senam pada umumnya.

Apapun pendapat setiap orang, mereka berhak berpendapat. Hal yang paling penting adalah tetap menjaga stamina dan tentunya iman izzah kita sebagai seorang muslim.

https://www.youtube.com/watch?v=v_O33KYyHVg

Wallahua'lam bish showab.
(My Lovely)

Monday, 14 December 2015

Renggo Rekso Utomo (Lanjutan ketiga Bagian 1)

Ki Dipoyono   :    Ini sebuah pusaka untukmu Rekso . . . . pusaka itu sebenarnya bukan miliku . . .
pusaka ini adalah milik ayahmu yang dititipkannya kepadaku dan harus keberikan kepadamu bila kamu sudah dewasa ngger . . . terimalah pusaka ini yang merupakan warisan dari orang tuamu

Lebih terkejut lagi hati Rekso menerima keris pusaka itu , bahkan matanya berkaca kaca seakan air matanya akan tumpah dipipinya , tetapi sebagai seorang lelaki apalagi dia gemblengan dari sebuah Padhepokan yang termashur di lereng gunung Wilis , sedapat dapatnya Rekso menahan air mata itu jatuh dari pelupuk matanya , dengan tangan yang bergetar Rekso menerima keris pusaka itu dari tangan pamannya , diamatinya benda itu tajam tajam seolah dia ingin mengenali seluruh bentuk dan lekuk serta guratan guratan keris itu untuk disimpan didalam ingatannya 

Rekso              :    Terima kasih paman . . . . terima kasih paman , terima kasih bibi . . . . untuk
semua yang telah paman  dan  bibi lakukan kepadaku , saya tidak tahu dengan apa Rekso akan membalas semua kebaikan ini kepada paman  dan  bibi . . .

Rekso kemudian memeluk pamannya erat erat seakan ungkapan rasa terima kasih yang tak terhingga , kemudian dipeluknya bibi satu-satunya itu erat erat dan tak bias tertahan lagi pecahlah tangis Rekso di pelukan bibinya , tangisan Rekso kali ini benar benar mengandung sejuta makna , tangisan kegembiraan  dan  haru atas semuanya dari paman  dan  bibinya , tangisan kesedihan meninggalkan ibunya sendirian di desa , tangisan yang lama tertahan atas nasip cintanya terhadap Galuh Roro Rengganis , semuanya tumpah jadi satu didalam pelukan wanita paruhbaya yang tak lain adik dari ibunya .

Nyai Dipo sendiri juga meneteskan air mata ketika keponakannya menangis dipelukannya , tetapi tangis nyai Dipo adalah tangis bahagia karena bias membantu keponakannya yang sangat dicintainya bahkan sudah dianggap seperti anak sendiri , sedangkan Ki Dipoyono  justru tersenyum menyaksikan yang terjadi diahadapannya itu .

Nyai  Dipo      :    Sudah .  .  . sudah . . . . ngger . . . . , jangan terlarut dalam tangisan  . . . . tidak
baik bagi seorang lelaki . . . . bibi mengerti perasaanmu  ngger
Ki Dipoyono   :    Sudahlah Rekso . . . . hayo segera berkemas , kita tunggu datangnya Ki
Prawiro di depan rumah

Rekso pun melepaskan pelukannya kepada bibinya , lalu diusapnya air mata yang ada di pipinya dengan kain yang dipakainya , lalu diambilnya semua bekal yang telah disiapkan dibawa kedepan rumah .

Di halaman depan rumah Ki Dipoyono ternyata Suradi sudah menunggu disamping kuda milik Rekso yang ditambatkan pada sebatang pohon kedondong yang tumbuh subur dan berbuah lebat di halaman rumah itu , dulu Rekso sering memanjat pohon kedondong itu untuk memetik buahnya .

Suradi pun segera menyongsong bawaan yang ada ditangan Rekso kemudian diikat dengan baik diatas pelana kuda itu  dan tak seberapa lama terlihat dad empat  orang penunggang kuda yang berhenti di depan rumah Ki Dipoyono , dan salah seorang dari rombongan kecil itupun turun dari kuda , setelah menambatkan kudanya pada pagar perdu halaman rumah Ki Dipoyono orang itu pun melangkah masuk ke halaman depan rumah Ki Dipoyono , seseorang itu tak lain adalah Ki Prawiro .

Ki Prawiro       :    Bagimana . . . ? Rekso . . . . sudah siap untuk berangkat . . . ?
Rekso               :    Saya sudah siap berangkat Ki Prawiro
Ki Prawiro       :    Kalau begitu ayo kita segera berangkat . . . karena perjalanan kita akan jauh
Ki Dipoyono . . . kami berangkat dulu . . . . mari nyai Dipo . . .
Ki Dipoyono   :    Mari . . . mari . . . Ki Prawiro , selamat jalan  sampai tujuan
Nyai  Dipo      :    Iya . . . iya . . . Kakang . . . . hati-hati dijalan
Rekso              :    Paman  dan  Bibi . . . . saya mohon pamit , pergi untuk waktu yang belum tahu
. . . aku mohon do’a  dan  restu  dari  paman  dan bibi .  .  .  bila nanti berkunjung ke desa untuk selamatan wafatnya eyang tolong sampaikan semuanya kepada ibu .  .  .  . dan sekali lagi terima kasih atas segalanya yang telah paman  dan  bibi lakukan buat Rekso
Ki Dipoyono   :    Rekso  . . . . aku do’akan semoga kamu bias menjadi orang yang berguna
untuk Kerajaan  ini  .  .  . menjadi prajurit yang linuwih . . . . yang bisa dibanggakan dan mengangkat derajat keluarga . . . . kamu harus kiat berlatih  dan  belajar , jangan merasa pintar . . . . menurutlah sama Ki Prawiro yang akan membimbingmu disana .
Nyai  Dipo      :    Iya . . . iya  . . . ngger anakku . . . . bibi akan selalu berdo’ untuk kamu . . .
semoga kamu selamat  dan  terhindar dari mara bahaya dimanapun kamu berada . . . . dan senantiasa GUSTI  akan selalu melindungi dirimu , pasti nanti kusampaikan semuanya kepada ibumu . . . . berangkatlah nak dengan restuku .
Rekso              :    Terima kasih paman  .  .  . terima kasih  bibi . .  . saya pergi dulu

Kemudian Rekso memeluk paman  dan  bibinya erat erat , lalu dijabatnya tangan Suradi yang memberikan tali kuda kepadanya .

Rekso              :    Suradi .  .  .  . tolong jaga paman  dan  bibiku
Suradi              :    Baik  denmas

Rekso pun naik ke atas kuda dan perlahan kudanya melangkah keluar halaman rumah itu diikuti paman  dan  bibinya serta Suradi yang mengikuti di belakangnya sampai di pinggir jalan , sedangkan para penunggang kuda yang lain sudah siap sedari tadi menunggu Rekso yang berpamitan kepada paman dan  bibinya segera menjalankan kudanya beriringan dengan Ki Prawiro yang berada paling depan dari rombongan kecil itu .

Sekali lagi Rekso menoleh kearah paman  dan  bibinya sembari melambaikan tangannya , Ki Dipoyono  dan  Nyai Dipo  juga melambaikan tangannya kepada Rekso  sambil memandangi kepergian Rekso sampai iring-iringan itu hilang di kegelapan pagi .

bersambung

(Karman) 

Tuesday, 8 December 2015

Bernazar, Mensedekahkan Seluruh Harta



Makalah

Bernazar, Mensedekahkan Seluruh Harta



Mata Kuliah : Masail al-fiqhiyah 
Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah


Prodi : Perbandingan Agama

 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Ajaran Islam merupakan suatu ajaran agama yang sangat komplit, baik dalam mengatur hubungan hamba dengan Tuhannya juga mengatur hubungan hamba dengan hamba yang lainnya. Semua itu diatur dalam ajaran Islam mulai hal yang paling kecil sampai hal yang paling besar. Aturan-aturan tersebut selain tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an juga di contohkan oleh seorang Rasul yang membawa risalah ajaran agama Islam, sehingga ajaran Islam bukan hanya sekedar ajaran agama teori tetapi suatu ajaran yang sangat mudah dimengerti karena di ajarkan melalui praktek sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Banyak sekali ajaran Islam yang langsung di contohkan oleh Rasulullah SAW, baik yang berupa ajaran tauhid, fiqih, dan sebagainya. Dalam ajaran ilmu fiqih beliau selain mengajarkan masalah bersuci, shalat, puasa, haji dan sebagainya, beliau juga mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa menjaga perkataannya dan mengumbar janji yang tidak ada buktinya sama sekali, atau manusia berjanji pada Tuhannya untuk melakukan sesuatu jika keinginannya terpenuhi, namun pada kenyataannya orang-orang jahiliyah dahulu sering ingkar terhadap perkataannya tersebut.
Oleh karena itu Rasulullah SAW memberikan ajaran bagaimana kalau seseorang itu berjanji dengan orang lain, dan berjanji pada Tuhannya (bernadzar) untuk melakukan sesuatu apabila keinginannya terpenuhi, kemudian hal apa saja yang menyebabkan sah atau tidaknya janji tersebut, hingga bagaimana seseorang apabila melanggar janji itu. Apakah harus membayar sebuah denda atau kifarat dan apa saja yang harus dilakukan agar janji yang tidak ditepatinya/dilanggarnya itu mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Maka alangkah kompleksnya ajaran agama Islam dan sangat pantas apabila Islam itu disebut agama Rahmatan lil ‘Alamin.

B.     Rumusan Masalah
Dalam uraian berikut ini akan dibahas, diantaranya:
1.      Apa pengertian nadzar?
2.      Apa hukum nadzar?
3.      Bagaimana hukum bernadzar mensedekahkan seluruh harta?
4.      Apa konsekuensinya apabila tidak mampu memenuhi nadzarnya?

C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetauhi hukun bernadzar mensedekahkan seluruh harta serta konsekuensinya apabila tidak mampu memenuhi atau melaksanakan nadzarnya.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Nadzar
Nazar artinya janji untuk berbuat baik, menurut  istilah syariat berarti kemestian atau kewajiban berbuat suatu kebaikan yang disebabkan oleh perkataan yang dikeluarkan.
Sesuatu nazar yang berbentuk ibadah yang asalnya sunat akan menjadi wajib dengan bernazar untuk melakukannya. Salah satu contohnya adalah bernazar untuk mensedekahkan seluruh hartanya apabila keinginannya tercapai.
Sedekah asal kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela. Juga berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata.
Apabila seseorang bernadzar untuk mensedekahkan seluruh hartanya untuk keinginan tertentu, misalnya di sembuhkan dari penyakit yang di deritanya, maka nazar tersebut menjadi wajib di laksanakan apabila apa yang di inginkan benar-benar tercapai atau terpenuhi.
Apabila orang yang bernadzar tidak melakukan nadzarnya baik karena tidak mampu atau tidak mau, maka konsekuensinya melihat dulu jenis nadzarnya apakah termasuk nadzar ibadah, mubah, maksiat, makruh atau syirik. maka harus membayar kafarah yamin (tebusan sumpah).
Nadzar secara bahasa berarti mengharuskan. Sedangkan nadzar secara istilah syariat dapat diartikan sebagai perbuatan seorang mukalaf (orang yang telah terbebani syari’at) yang mengharuskan dirinya dengan satu bentuk ibadah, yang mana sesuatu itu pada asalnya tidak wajib atas orang tersebut.
Nadzar adalah mewajibkan suatu perkara atau perbuatan yang asalnya tidak wajib secara syariah. Seperti, bernazar melakukan shalat sunnah, berpuasa sunnah, bersedekah pada orang miskin apabila yang dikehendakinya tercapai. Niat utama adalah untuk semakin mendekatkan diri pada Allah.
Syarat sah dan terjadinya nadzar terbagi 2 yaitu:
1.      syarat pelaku nadzar
a.       Berakal sehat.
b.      Beragama Islam (muslim).
c.       Diucapkan dengan kata-kata, tidak cukup hanya dengan niat. Apabila seseorang berniat nadzar tanpa ada ucapan, maka nadzarnya tidak sah dan tidak wajib memenuhi nadzar tersebut.
2.      perkara yang dibuat nadzar
a.       Perkara ibadah. Seperti shalat sunnah, puasa sunnah, sadaqah. Perkara yang bukan bersifat ibadah seperti perkara maksiat atau perkara mubah (seperti makan dan minum) tidak sah nadzarnya.
b.       Harta yang dijadikan nadzar harus menjadi hak milik pelaku nadzar saat bernadzar.
c.       Bukan perkara fardhu atau wajib. Seperti shalat 5 waktu atau puasa Ramadan.
3.      Macam-macam nadzar
Dari segi isi kandungan nadzar, nadzar ada dua jenis yaitu:
a.       nadzar lajaj (نذر لجاج) yaitu bernazar dengan mencegah diri dari melakukan sesuatu. Seperti, "Saya besok tidak akan bepergian".
b.      Nadzar mujazat yaitu nadzar (janji pada diri sendiri) untuk melakukan sesuatu. Nadzar majazat ini ada dua macam, yaitu Nadzar tabarrur adalah nadzar yang dilakukan secara spontan tanpa dikaitkan dengan keberhasilan melakukan sesuatu. Seperti, seseorang berkata, "Saya akan shalat sunnah besok", dan Nadzar yang dikaitkan dengan keberhasilan melakukan sesuatu. Seperti seseorang berkata, "Apabila anak saya sembuh, saya akan bersedekah pada fakir miskin".

B.     Hukum Nadzar
Apakah bernadzar itu boleh (mubah), mendapat pahala (sunnah), kurang baik (makruh) atau dilarang (haram)?. Ada beberapa pendapat ulama yang berbeda karena adanya dalil Quran dan hadits yang juga bermacam-macam. Intinya, nadzar sebaiknya dihindari. Tapi kalau sudah terjadi, maka wajib (harus) dipenuhi kalau nadzarnya berkaitan dengan ibadah. Seperti tersebut dalam hadits sahih:
هِ يَعْصِفَلاَ يَعْصِيَهُ نَذَرَ أَنْ ، وَمَنْ فَلْيُطِعْهُ اللَّهَ يُطِيعَ أَنْ نَذَرَ مَنْ
Artinya: Barangsiapa yang bernadzar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nadzar tersebut. Barangsiapa yang bernadzar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiati-Nya. ” (HR. Bukhari no. 6696)
1.      Nadzar itu Sunnah (baik dan mendapat pahala)
Dalil dari Quran:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Artinya: Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nadzarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.(QS. Al Baqarah 2:270)
2.      Nadzar itu Makruh (sebaiknya tidak dilakukan)
Dalil dari hadits:
الْبَخِيلِ مِنَ بِهِ جُ رَيُسْتَخْوَإِنَّمَا ، شَيْئًا يَرُدُّ لاَ إِنَّهُ اقَالَ لنَّذْرِ اعَنِ لنبي نهي
Artinya: Nabi melarang untuk bernadzar, beliau bersabda: ‘Nadzar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil (pelit)’. (HR. Bukhari Muslim)
الْبَخِيلِ مِنَ جُ بِهِ رَتَخْيُسْوَإِنَّمَا شَيْئًا ا لْقَدَرِمِنَ يُغْنِى لاَ النَّذؒرَ فَإِنَّ تَنْذُرُوا لاَ
Artinya: Janganlah bernadzar. Karena nadzar tidaklah bisa menolak takdir sedikit pun. Nadzar hanyalah dikeluarkan dari orang yang pelit. (HR. Muslim)

C.    Hukum Bernadzar Mensedekahkan Seluruh Harta
Para ulama telah sepakat (ijtima’) bahwa melaksanakan nazar adalah wajib, dan terdapat dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As Sunnah yang mencela orang-orang yang tidak melaksanakan nazarnya, isi nazar yang benar adalah qurbah (pendekatan diri) kepada Allah, seperti sedekah, shalat, puasa, amal-amal kebaikan dan sebagainya. Hal ini seperti yang ditunjukkan dalam hadis yang berbunyi:
(رواه احمد رأبو داود) تعالى اللَّهِ وَجْهُ بِهِ يُبْتَغَى فِيمَا إِلاَّ نَذْرَ لاَ
“Tidak ada nazar kecuali pada sesuatu yang dapat diperoleh ridha Allah”. (HR. Ahmad dan Abu Daud).
Sebagian imam berpendepat bahwa nazar itu bila tidak berupa amalan yang mendekatkan diri kepada Allah tidak dianggap nazar, misalnya bernazar untuk melakukan sesuatu yang mubah.
Melihat dari konteks di atas maka di bolehkan bernadzar mensedekahkan seluruh harta apabila di lakukan hanya memperoleh ridho Allah semata.

D.    Konsekuensi apabila tidak mampu memenuhi nadzar
Apabila orang yang bernadzar tidak melakukan nadzarnya baik karena tidak mampu atau tidak mau, maka konsekuensinya melihat dulu jenis nadzarnya apakah termasuk nadzar ibadah, mubah, maksiat, makruh atau syirik. Lihat penjelasan Hukum Menunaikan Nadzar di atas.. Intinya, harus membayar kafarah yamin (tebusan sumpah). Urutan Kafarah Yamin (tebusan sumpah) bagi yang tidak melaksanakan nadzar adalah sebagai berikut (pilih salah satu, prioritas berdasar urutan):
1.      Memberi makan kepada sepuluh orang miskin, atau
2.      Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, atau
3.      Memerdekakan satu orang budak
4.      Jika tidak mampu ketiga hal di atas, barulah menunaikan pilihan berpuasa selama tiga hari.
Namun demikian kafarat nazar tidak disebutkan secara mendetail dalam hadits.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Nadzar adalah mewajibkan suatu perkara atau perbuatan yang asalnya tidak wajib secara syariah. Seperti, bernazar melakukan shalat sunnah, berpuasa sunnah, bersedekah pada orang miskin apabila yang dikehendakinya tercapai. Niat utama adalah untuk semakin mendekatkan diri pada Allah.
Para ulama telah sepakat (ijtima’) bahwa melaksanakan nazar adalah wajib, dan terdapat dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As Sunnah yang mencela orang-orang yang tidak melaksanakan nazarnya, isi nazar yang benar adalah qurbah (pendekatan diri) kepada Allah, seperti sedekah, shalat, puasa, amal-amal kebaikan dan sebagainya.
Sebagian imam berpendepat bahwa nazar itu bila tidak berupa amalan yang mendekatkan diri kepada Allah tidak dianggap nazar, misalnya bernazar untuk melakukan sesuatu yang mubah.
Melihat dari konteks di atas maka di bolehkan bernadzar mensedekahkan seluruh harta apabila di lakukan hanya memperoleh ridho Allah semata.
Apabila orang yang bernadzar tidak melakukan nadzarnya baik karena tidak mampu atau tidak mau, maka konsekuensinya melihat dulu jenis nadzarnya apakah termasuk nadzar ibadah, mubah, maksiat, makruh atau syirik. maka harus membayar kafarah yamin (tebusan sumpah).

B.     Saran
Pemakalah menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini memiliki banyak kekurangan, maka dari itu diperlukan koreksi bagi para pembaca, dan pemakalah berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, dan menambah pengetauhan keilmuan bagi para pembaca.




Daftar Pustaka
Lihat Fathul Qorib "Kitab al-Ayman wa al-Nudzur" atau dalam Al Umm li Asy-Syafi'i, Kitab al-Nudzur, Vol. II/278.
Imam Syafi'i. Lihat Imam Syafi'i Kitab al-Umm, "Kitab an-Nudzur", Vol. II hlm. 279.
http://www.alkhoirot.net/2012/02/hukum-nadzar.html#1
http://ekosupiyan.blogspot.com/2011/06/makruh-pekerjaannya-tapi-wajib.html
Hasan saleh,kajian  fiqh  nabawi  dan fiqh  kontemporer(Jakarta, PT Raja  Grafindo Persada;2008).hlm.242..
syamsudin, Menyingkap Dosa-dosa Besar(Jakarta: Pustaka Amani.1989).hlm.138
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam(Bandung: Sinar BaruAlgensido,2004).hlm. 483.
akusuhendar. Fiqih Ibadah( http:/.wordpress.com/2011/04/20/sumpah-kifarat-dan-nazar/)
akusuhendar. Fiqih Ibadah( http:/.wordpress.com/2011/04/20/sumpah-kifarat-dan-nazar/)
http://alliguntur.blogspot.com/2013/05/makalah-fiqih-tentang-sumpah-dan-nazar.html