Monday, 14 December 2015

Renggo Rekso Utomo (Lanjutan ketiga Bagian 1)

Ki Dipoyono   :    Ini sebuah pusaka untukmu Rekso . . . . pusaka itu sebenarnya bukan miliku . . .
pusaka ini adalah milik ayahmu yang dititipkannya kepadaku dan harus keberikan kepadamu bila kamu sudah dewasa ngger . . . terimalah pusaka ini yang merupakan warisan dari orang tuamu

Lebih terkejut lagi hati Rekso menerima keris pusaka itu , bahkan matanya berkaca kaca seakan air matanya akan tumpah dipipinya , tetapi sebagai seorang lelaki apalagi dia gemblengan dari sebuah Padhepokan yang termashur di lereng gunung Wilis , sedapat dapatnya Rekso menahan air mata itu jatuh dari pelupuk matanya , dengan tangan yang bergetar Rekso menerima keris pusaka itu dari tangan pamannya , diamatinya benda itu tajam tajam seolah dia ingin mengenali seluruh bentuk dan lekuk serta guratan guratan keris itu untuk disimpan didalam ingatannya 

Rekso              :    Terima kasih paman . . . . terima kasih paman , terima kasih bibi . . . . untuk
semua yang telah paman  dan  bibi lakukan kepadaku , saya tidak tahu dengan apa Rekso akan membalas semua kebaikan ini kepada paman  dan  bibi . . .

Rekso kemudian memeluk pamannya erat erat seakan ungkapan rasa terima kasih yang tak terhingga , kemudian dipeluknya bibi satu-satunya itu erat erat dan tak bias tertahan lagi pecahlah tangis Rekso di pelukan bibinya , tangisan Rekso kali ini benar benar mengandung sejuta makna , tangisan kegembiraan  dan  haru atas semuanya dari paman  dan  bibinya , tangisan kesedihan meninggalkan ibunya sendirian di desa , tangisan yang lama tertahan atas nasip cintanya terhadap Galuh Roro Rengganis , semuanya tumpah jadi satu didalam pelukan wanita paruhbaya yang tak lain adik dari ibunya .

Nyai Dipo sendiri juga meneteskan air mata ketika keponakannya menangis dipelukannya , tetapi tangis nyai Dipo adalah tangis bahagia karena bias membantu keponakannya yang sangat dicintainya bahkan sudah dianggap seperti anak sendiri , sedangkan Ki Dipoyono  justru tersenyum menyaksikan yang terjadi diahadapannya itu .

Nyai  Dipo      :    Sudah .  .  . sudah . . . . ngger . . . . , jangan terlarut dalam tangisan  . . . . tidak
baik bagi seorang lelaki . . . . bibi mengerti perasaanmu  ngger
Ki Dipoyono   :    Sudahlah Rekso . . . . hayo segera berkemas , kita tunggu datangnya Ki
Prawiro di depan rumah

Rekso pun melepaskan pelukannya kepada bibinya , lalu diusapnya air mata yang ada di pipinya dengan kain yang dipakainya , lalu diambilnya semua bekal yang telah disiapkan dibawa kedepan rumah .

Di halaman depan rumah Ki Dipoyono ternyata Suradi sudah menunggu disamping kuda milik Rekso yang ditambatkan pada sebatang pohon kedondong yang tumbuh subur dan berbuah lebat di halaman rumah itu , dulu Rekso sering memanjat pohon kedondong itu untuk memetik buahnya .

Suradi pun segera menyongsong bawaan yang ada ditangan Rekso kemudian diikat dengan baik diatas pelana kuda itu  dan tak seberapa lama terlihat dad empat  orang penunggang kuda yang berhenti di depan rumah Ki Dipoyono , dan salah seorang dari rombongan kecil itupun turun dari kuda , setelah menambatkan kudanya pada pagar perdu halaman rumah Ki Dipoyono orang itu pun melangkah masuk ke halaman depan rumah Ki Dipoyono , seseorang itu tak lain adalah Ki Prawiro .

Ki Prawiro       :    Bagimana . . . ? Rekso . . . . sudah siap untuk berangkat . . . ?
Rekso               :    Saya sudah siap berangkat Ki Prawiro
Ki Prawiro       :    Kalau begitu ayo kita segera berangkat . . . karena perjalanan kita akan jauh
Ki Dipoyono . . . kami berangkat dulu . . . . mari nyai Dipo . . .
Ki Dipoyono   :    Mari . . . mari . . . Ki Prawiro , selamat jalan  sampai tujuan
Nyai  Dipo      :    Iya . . . iya . . . Kakang . . . . hati-hati dijalan
Rekso              :    Paman  dan  Bibi . . . . saya mohon pamit , pergi untuk waktu yang belum tahu
. . . aku mohon do’a  dan  restu  dari  paman  dan bibi .  .  .  bila nanti berkunjung ke desa untuk selamatan wafatnya eyang tolong sampaikan semuanya kepada ibu .  .  .  . dan sekali lagi terima kasih atas segalanya yang telah paman  dan  bibi lakukan buat Rekso
Ki Dipoyono   :    Rekso  . . . . aku do’akan semoga kamu bias menjadi orang yang berguna
untuk Kerajaan  ini  .  .  . menjadi prajurit yang linuwih . . . . yang bisa dibanggakan dan mengangkat derajat keluarga . . . . kamu harus kiat berlatih  dan  belajar , jangan merasa pintar . . . . menurutlah sama Ki Prawiro yang akan membimbingmu disana .
Nyai  Dipo      :    Iya . . . iya  . . . ngger anakku . . . . bibi akan selalu berdo’ untuk kamu . . .
semoga kamu selamat  dan  terhindar dari mara bahaya dimanapun kamu berada . . . . dan senantiasa GUSTI  akan selalu melindungi dirimu , pasti nanti kusampaikan semuanya kepada ibumu . . . . berangkatlah nak dengan restuku .
Rekso              :    Terima kasih paman  .  .  . terima kasih  bibi . .  . saya pergi dulu

Kemudian Rekso memeluk paman  dan  bibinya erat erat , lalu dijabatnya tangan Suradi yang memberikan tali kuda kepadanya .

Rekso              :    Suradi .  .  .  . tolong jaga paman  dan  bibiku
Suradi              :    Baik  denmas

Rekso pun naik ke atas kuda dan perlahan kudanya melangkah keluar halaman rumah itu diikuti paman  dan  bibinya serta Suradi yang mengikuti di belakangnya sampai di pinggir jalan , sedangkan para penunggang kuda yang lain sudah siap sedari tadi menunggu Rekso yang berpamitan kepada paman dan  bibinya segera menjalankan kudanya beriringan dengan Ki Prawiro yang berada paling depan dari rombongan kecil itu .

Sekali lagi Rekso menoleh kearah paman  dan  bibinya sembari melambaikan tangannya , Ki Dipoyono  dan  Nyai Dipo  juga melambaikan tangannya kepada Rekso  sambil memandangi kepergian Rekso sampai iring-iringan itu hilang di kegelapan pagi .

bersambung

(Karman) 

No comments:

Post a Comment