Ki Dipoyono :
Ini sebuah pusaka untukmu Rekso . . . . pusaka itu sebenarnya bukan
miliku . . .
pusaka
ini adalah milik ayahmu yang dititipkannya kepadaku dan harus keberikan
kepadamu bila kamu sudah dewasa ngger . . . terimalah pusaka ini yang merupakan
warisan dari orang tuamu
Lebih terkejut lagi
hati Rekso menerima keris pusaka itu , bahkan matanya berkaca kaca seakan air
matanya akan tumpah dipipinya , tetapi sebagai seorang lelaki apalagi dia
gemblengan dari sebuah Padhepokan yang termashur di lereng gunung Wilis ,
sedapat dapatnya Rekso menahan air mata itu jatuh dari pelupuk matanya , dengan
tangan yang bergetar Rekso menerima keris pusaka itu dari tangan pamannya ,
diamatinya benda itu tajam tajam seolah dia ingin mengenali seluruh bentuk dan
lekuk serta guratan guratan keris itu untuk disimpan didalam ingatannya
Rekso : Terima kasih paman . . . . terima kasih
paman , terima kasih bibi . . . . untuk
semua
yang telah paman dan bibi lakukan kepadaku , saya tidak tahu
dengan apa Rekso akan membalas semua kebaikan ini kepada paman dan
bibi . . .
Rekso kemudian memeluk
pamannya erat erat seakan ungkapan rasa terima kasih yang tak terhingga ,
kemudian dipeluknya bibi satu-satunya itu erat erat dan tak bias tertahan lagi
pecahlah tangis Rekso di pelukan bibinya , tangisan Rekso kali ini benar benar
mengandung sejuta makna , tangisan kegembiraan
dan haru atas semuanya dari
paman dan bibinya , tangisan kesedihan meninggalkan
ibunya sendirian di desa , tangisan yang lama tertahan atas nasip cintanya
terhadap Galuh Roro Rengganis , semuanya tumpah jadi satu didalam pelukan
wanita paruhbaya yang tak lain adik dari ibunya .
Nyai Dipo sendiri juga
meneteskan air mata ketika keponakannya menangis dipelukannya , tetapi tangis
nyai Dipo adalah tangis bahagia karena bias membantu keponakannya yang sangat
dicintainya bahkan sudah dianggap seperti anak sendiri , sedangkan Ki
Dipoyono justru tersenyum menyaksikan
yang terjadi diahadapannya itu .
Nyai Dipo : Sudah .
. . sudah . . . . ngger . . . . ,
jangan terlarut dalam tangisan . . . .
tidak
baik
bagi seorang lelaki . . . . bibi mengerti perasaanmu ngger
Ki Dipoyono :
Sudahlah Rekso . . . . hayo segera berkemas , kita tunggu datangnya Ki
Prawiro
di depan rumah
Rekso pun melepaskan
pelukannya kepada bibinya , lalu diusapnya air mata yang ada di pipinya dengan
kain yang dipakainya , lalu diambilnya semua bekal yang telah disiapkan dibawa
kedepan rumah .
Di halaman depan rumah
Ki Dipoyono ternyata Suradi sudah menunggu disamping kuda milik Rekso yang
ditambatkan pada sebatang pohon kedondong yang tumbuh subur dan berbuah lebat
di halaman rumah itu , dulu Rekso sering memanjat pohon kedondong itu untuk
memetik buahnya .
Suradi pun segera
menyongsong bawaan yang ada ditangan Rekso kemudian diikat dengan baik diatas
pelana kuda itu dan tak seberapa lama
terlihat dad empat orang penunggang kuda
yang berhenti di depan rumah Ki Dipoyono , dan salah seorang dari rombongan
kecil itupun turun dari kuda , setelah menambatkan kudanya pada pagar perdu
halaman rumah Ki Dipoyono orang itu pun melangkah masuk ke halaman depan rumah
Ki Dipoyono , seseorang itu tak lain adalah Ki Prawiro .
Ki Prawiro :
Bagimana . . . ? Rekso . . . . sudah siap untuk berangkat . . . ?
Rekso : Saya sudah siap berangkat Ki Prawiro
Ki Prawiro :
Kalau begitu ayo kita segera berangkat . . . karena perjalanan kita akan
jauh
Ki
Dipoyono . . . kami berangkat dulu . . . . mari nyai Dipo . . .
Ki Dipoyono :
Mari . . . mari . . . Ki Prawiro , selamat jalan sampai tujuan
Nyai Dipo : Iya . . . iya . . . Kakang . . . .
hati-hati dijalan
Rekso : Paman
dan Bibi . . . . saya mohon pamit
, pergi untuk waktu yang belum tahu
.
. . aku mohon do’a dan restu
dari paman dan bibi .
. . bila nanti berkunjung ke desa untuk selamatan
wafatnya eyang tolong sampaikan semuanya kepada ibu . .
. . dan sekali lagi terima kasih
atas segalanya yang telah paman dan bibi lakukan buat Rekso
Ki Dipoyono :
Rekso . . . . aku do’akan semoga
kamu bias menjadi orang yang berguna
untuk
Kerajaan ini .
. . menjadi prajurit yang linuwih
. . . . yang bisa dibanggakan dan mengangkat derajat keluarga . . . . kamu
harus kiat berlatih dan belajar , jangan merasa pintar . . . .
menurutlah sama Ki Prawiro yang akan membimbingmu disana .
Nyai Dipo : Iya . . . iya . . . ngger anakku . . . . bibi akan selalu
berdo’ untuk kamu . . .
semoga
kamu selamat dan terhindar dari mara bahaya dimanapun kamu
berada . . . . dan senantiasa GUSTI akan
selalu melindungi dirimu , pasti nanti kusampaikan semuanya kepada ibumu . . .
. berangkatlah nak dengan restuku .
Rekso : Terima kasih paman .
. . terima kasih bibi . .
. saya pergi dulu
Kemudian Rekso memeluk
paman dan bibinya erat erat , lalu dijabatnya tangan
Suradi yang memberikan tali kuda kepadanya .
Rekso : Suradi .
. . . tolong jaga paman
dan bibiku
Suradi : Baik
denmas
Rekso pun naik ke atas
kuda dan perlahan kudanya melangkah keluar halaman rumah itu diikuti paman dan
bibinya serta Suradi yang mengikuti di belakangnya sampai di pinggir
jalan , sedangkan para penunggang kuda yang lain sudah siap sedari tadi
menunggu Rekso yang berpamitan kepada paman dan
bibinya segera menjalankan kudanya beriringan dengan Ki Prawiro yang
berada paling depan dari rombongan kecil itu .
Sekali lagi Rekso
menoleh kearah paman dan bibinya sembari melambaikan tangannya , Ki
Dipoyono dan Nyai Dipo
juga melambaikan tangannya kepada Rekso
sambil memandangi kepergian Rekso sampai iring-iringan itu hilang di
kegelapan pagi .
bersambung
(Karman)

No comments:
Post a Comment