Monday, 28 December 2015

Pendadaran Calon Prajurit (Renggo Rekso Utomo Bagian 2)




Iring-iringan berkuda  itu berjalan perlahan menyusuri jalanan kota  Kadipaten   Candi Sari  yang masih sepi karena  hari memang masih sangat pagi buta , di ufuk timur matahari belum menampakan diri hanya samar samar terlihat sedikit sinar merah jingga pertanda pagihari akan menjelang , mereka sengaja tidak memacu kudanya karena akan membangunkan para penduduk sepanjang jalan yang dilewatinya .

Beberapa saat kemudian rombongan berkuda itu sampai di gerbang kota Kadipaten Candi Sari  dan mereka terus berjalan menuju keluar kota yang mengarah ke Kota Kerajaan Jenggolo Manik , mereka terus menyusuri jalan yang berpasir halus yang Nampak jelas bekas  roda roda pedati dan terkadang jalan itu berbatu kecil-kecil yang ditata rapi , semakin lama mereka semakin jauh meninggalkan kota Kadipaten Candi Sari  dan lambat laun hari mulai terang karena di ufuk timur  matahari terlihat bulat dengan warna merah , pemandangan di kanan kiri jalan itu mulai terlihat dengan jelas , di sebelah kanan jalan terlihat ladang yang di belakangnya terdapat bukit dengan pepohonan yang rimbun , sedangkan di sebelah kiri jalan terhampar persawahan dengan tanaman padi yang subur menghijau yang sebentar lagi padi ini akan segera berbuah , dikejauhan sana Nampak aliran sungai yang berliku-liku dengan air yang tenang menandakan banyaknya air yang cukup untuk mengairi persawahan yang sekian luasnya .

Ki Prawiro yang berkuda paling depan mulai memacu kudanya diikuti oleh penunggang kuda lainnya semakin cepat . . . semakin cepat . . . akirnya iring-iringan itu berpacu dengan cepat , mereka tidak kawatir terperosok dijalan itu karena sudah terang benderang dan sinar mata hari mulai terasa sedikit menyengat kulit , di jalanan itu Nampak debu mengepul karena hempasan kaki kuda – kuda yang sedang berpacu , Ki Prawiro yang menunggang kuda paling depan memperlambat lari kudanya diikuti oleh penunggang kuda di belakangnya dan akirnya kuda kuda itu hanya berlari kecil , para penunggang kuda yang di belakang baru tahu ternyata di depan mereka ada pedati yang berjalan sangat lambat karena penuh dengan muatan bamboo yang entah mau dibawa kemana , mereka mendahului pedati itu satu demi satu kemudian kuda kuda itu kembali dipacu dengan cepat .

Perjalanan mereka memasuki sebuah hutan dan jalanan mulai menanjak , semakin masuk kedalam hutan jalanan itu semakin menanjak dan kuda kuda itu berjalan dengan pelan pelan , selain jalannya menanjak juga banyak bebatuan yang bisa membuat kuda kuda itu terpeleset apabila tidak hati-hati , mereka terus berjalan hingga tiba di lambung bukit dimana mereka bisa melihat sisi seberang bukit itu yang mana tampak pemandangan sangat indah sampai nun jauh disana terbentang persawahan dan ladang .

Ki Prawiro menghentikan kudanya menepi jalan lalu turun dari pelana kemudian menambatkan kudanya pada sebatang perdu , para penunggang kuda yang lain mengikuti apa yang dilakukan Ki Prawiro yang kemudian mereka beristirahat duduk di atas sebuah batu besar yang ada di bawah pohon randu alas yang berdaun lebat dan rindang , kuda kuda yang ditambatkan pada perdu perdu di pinggir jalan itupun mulai makan rumput yang tumbuh subur di sepanjang jalan itu .

Ki Prawiro       :    Kita beristirahat sejenak di sini . . . . ngger .  .  .  .
Sentanu           :    Baiklah Paman . . . .
Ki Prawiro       :    Setahu saya kalian ini pada saling belum kenal antara satu dengan yang
lainnya  . . .untuk itu silahkan kalian saling berkenalan , karena nantinya kalian harus saling kerja sama  .  .  . walaupun pada hal-hal tertentu kalian juga harus saling berlomba .

Empat orang  anak muda yang pergi ke Kota Raja bersama Ki Prawiro itupun saling berkenalan , ada seorang anak muda yang berparas tampan dengan baju yang sangat bagus , pemuda ini bernama Sundoko , Sundoko  adalah anak seorang saudagar kaya dari Kota Kadipaten Candi Sari , namun sayangnya pemuda ini berperilaku agak sombong , dia mengikuti kepergian ke Kota Kerajaan ini karena dipaksa oleh orang tuannya yang sudah kerepotan untuk mendidik Sundoko yang sangat nakal sekali , dia sering membuat onar dimana-mana terutama sering berkelahi bersama teman temannya di tempat perjudian sabung ayam , ayah Sundoko juga sangat geram kepada anaknya itu yang selalu menghambur-hamburkan uangnya untuk berfoya-foya dengan teman temannya , setiap kali ayahnya memarahi Sundoko ibunya selalu membela dan memanjakannya , yang ke dua adalah anak muda yang berpenampilan sangat rapi , anak muda yang kedua ini sangat pendiam tetapi selalu memperhatikan semua hal di sekitarnya , pemuda ini bernama Waskito Budi , Waskito Budi adalah putra seorang Abdi Dalem Adipati Candi Sari yang sudah lama bersahabat dengan Ki Prawiro , anank ini memang dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya agar kelak di kemudian hari bisa menjadi Punggowo Kerajaan Jenggolo Manik , setidak tidaknya itulah yang diinginkan kedua orang tuanya , yang ketiga adalah Sentanu , Sentanu ini masih ada pertalian darah dengan Ki Prawiro , karena Sentanu adalah anak adik kandung Ki Prawiro , ayah Sentanu menjadi kepala Padukuhan di Kademangan Ngadipuro  yang tidak jauh dari Kota Kadipaten Candi Sari , sedangkan yang keempat adalah Rekso Utomo .

Mereka saling berjabatan tangan dan saling menyebutkan nama masing masing untuk berkenalan , hanya Sundoko yang terlihat malas malasan untuk berkenalan dengan yang lain , dia hanya menanggapi perkenalan itu dengan dingin lalu dia mengambil posisi duduk dipuncak batu besar yang ebntuknya memang seperti gunung atau seperti tumpeng , karena perhentian itu memang terkenal dengan sebutan palerenan watu tumpeng .

Ki Prawiro       :     Angger semuanya . . . hari sudah siang sebentar lagi mata hari akan condong
kebarat , yang membawa bekal silahkan dimakan , karena kita bisa sampai di perkampungan sekitar nanti sore .

Tanpa ada yang menjawap mereka segera mengeluarkan bekal masing masing , ternyata semua orang di rombongan kecil itu membawa bekal , tak terkecuali Ki Prawiro juga membawa bekal , hanya bekal Ki Prawiro tidak sebanyak bekal para anak anak muda itu . . Ki Prawiro hanya mengeluarkan dua buah lepet dari beras ketan yang dibungkus daun kokrok ( semacam daun rotan ) , sedangkan para pemuda yang lain mengeluarkan bekal mereka yang besar besar yang berisi makanan yang enak enak , maklumlah para ibu mereka sangat kawatir anak mereka kelaparan ditengah jalan , Rekso juga tidak ketinggalan . . . dibukanya bekal yang dibuatkan oleh bibinya , Rekso sendiri tidak tahu isinya apa yang pasti bekal itu besar juga , setelah bungkusan kain yang menutupi bekal itu dibuka ternyata di dalamnya ada dua bungkusan dari daun pisang , yang satu gulungan daun pisang yang didalamnya berisi nasi pulen  . . . Rekso tersenyum memandangi gulungan nasi dalam daun pisang buatan bibinya itu , karena sama persis seperti buatan ibunya di deasa kalau membawakan bekal jika dia pergi ke Padhepokan Windu Jati , lalu Rekso membuka bungkusan satunya yang agak kecil dari bungkusan nasi dan ternyata isinya dua paha ayam panggang yang di tumpuki dengan serundeng kelapa muda , Sentanu yang duduk di dekat Rekso memandangi bekal yang dibuka Rekso , Rekso yang melihat Sentanu seperti itu lalu menyodorkan lauknya kearah Sentanu . . . Sentanu memandangi Rekso dan paha ayam panggang itu dengan tajam penuh selidik lalu diambil sepotong paha ayam panggang itu tanpa ada keraguan sedikitpun lalu ditaruh diatas bekal nasinya , lalu lauk pauknya sendiri yang telah dibuatkan oleh ibunya yang ternyata adalah sambal goring ati langsung ditaruh dihadapan Rekso dan mereka duduk berhadapan makan bersama .

Selama istirahat makan itu Rekso sesekali memperhatikan jalanan  dan  hutan di sekelilingnya , Rekso  juga memperhatikan kalau Waskito Budi juga melakukan hal yang sama , tak seberapa lama kemudian Waskito Budi mendekati Rekso sambil berbisik perlahan .

Waskito           :    Apa kamu merasakan apa yang kurasakan . . . aku sedari tadi juga
memperhatikan kamu
Rekso              :    Ya . . . aku mengerti apa yang kamu maksutkan . . . kita harus tetap waspada
tetapi jangan terlihat mencolok biar yang lainnya tidak ketakutan
 Waskito          :    Aku setuju

Waskito kemudian kembali duduk di tempatnya semula , sedangkan Sentani yang mendengar pembicaraan itu menjadi bingung  dan  heran  . . . benaknya bertanya tanya  . . . ada apa . . . ? dia pun mulai mengamati dengan teliti melalalui pandangan  dan pendengarannya , Rekso yang sudah terbiasa dengan kondisi hutan  dan lingkungan pedesaan , juga pengalamannya sebagai murit Padhepokan Windu Jati  sudah curiga sedari tadi , sama dengan Waskito yang curiga bahwa dihutan dengan pepohonan yang besar besar itu tidak ada terlihat seekor binatang pun bahkan suara burung yang biasanya selalu berkicau di mana-mana kali ini tiada seekorpun yang ada di situ , hal ini menjadikan keanehan . . . pasti para penghuni hutan ini menyingkir karena ada penghuni lain yang membuat mereka ketakutan di tempat itu .

Benar juga kecurigaan kedua pemuda itu . . . karena tak berapa lama dari balik semak di seberang jalan itu muncul seorang yang bertubuh tinggi besar dengan wajah menyeramkan , begitu muncul orang itu langsung mendekati mereka dan berhenti berkacak pinggang dengan garang sambil tertawa keras keras , seketika itu pula dari balik pohon besar di sebelah kanan dan kiri mereka duduk muncul tiga  orang yang bertampang seram dengan rambut panjang acak acakan , mereka maju sambil matanya melotot  mendekati tempat duduk Ki Prawiro beserta rombongan kecilnya , dari belakang batu besar yang diduduki rombongan kecil itu yang lepas dari perhatian mereka terdengar suara teriakan sangat keras yang membuat mereka sangat terkejut .


bersambung

(Karman)


No comments:

Post a Comment