Iring-iringan berkuda
itu berjalan perlahan menyusuri jalanan kota Kadipaten
Candi Sari yang masih sepi karena hari memang masih sangat pagi buta , di ufuk
timur matahari belum menampakan diri hanya samar samar terlihat sedikit sinar
merah jingga pertanda pagihari akan menjelang , mereka sengaja tidak memacu
kudanya karena akan membangunkan para penduduk sepanjang jalan yang dilewatinya
.
Beberapa saat kemudian
rombongan berkuda itu sampai di gerbang kota Kadipaten Candi Sari dan mereka terus berjalan menuju keluar kota
yang mengarah ke Kota Kerajaan Jenggolo Manik , mereka terus menyusuri jalan
yang berpasir halus yang Nampak jelas bekas
roda roda pedati dan terkadang jalan itu berbatu kecil-kecil yang ditata
rapi , semakin lama mereka semakin jauh meninggalkan kota Kadipaten Candi
Sari dan lambat laun hari mulai terang
karena di ufuk timur matahari terlihat
bulat dengan warna merah , pemandangan di kanan kiri jalan itu mulai terlihat
dengan jelas , di sebelah kanan jalan terlihat ladang yang di belakangnya
terdapat bukit dengan pepohonan yang rimbun , sedangkan di sebelah kiri jalan
terhampar persawahan dengan tanaman padi yang subur menghijau yang sebentar
lagi padi ini akan segera berbuah , dikejauhan sana Nampak aliran sungai yang
berliku-liku dengan air yang tenang menandakan banyaknya air yang cukup untuk
mengairi persawahan yang sekian luasnya .
Ki Prawiro yang berkuda
paling depan mulai memacu kudanya diikuti oleh penunggang kuda lainnya semakin cepat
. . . semakin cepat . . . akirnya iring-iringan itu berpacu dengan cepat ,
mereka tidak kawatir terperosok dijalan itu karena sudah terang benderang dan
sinar mata hari mulai terasa sedikit menyengat kulit , di jalanan itu Nampak
debu mengepul karena hempasan kaki kuda – kuda yang sedang berpacu , Ki Prawiro
yang menunggang kuda paling depan memperlambat lari kudanya diikuti oleh
penunggang kuda di belakangnya dan akirnya kuda kuda itu hanya berlari kecil ,
para penunggang kuda yang di belakang baru tahu ternyata di depan mereka ada
pedati yang berjalan sangat lambat karena penuh dengan muatan bamboo yang entah
mau dibawa kemana , mereka mendahului pedati itu satu demi satu kemudian kuda
kuda itu kembali dipacu dengan cepat .
Perjalanan mereka
memasuki sebuah hutan dan jalanan mulai menanjak , semakin masuk kedalam hutan
jalanan itu semakin menanjak dan kuda kuda itu berjalan dengan pelan pelan ,
selain jalannya menanjak juga banyak bebatuan yang bisa membuat kuda kuda itu
terpeleset apabila tidak hati-hati , mereka terus berjalan hingga tiba di
lambung bukit dimana mereka bisa melihat sisi seberang bukit itu yang mana
tampak pemandangan sangat indah sampai nun jauh disana terbentang persawahan
dan ladang .
Ki Prawiro menghentikan
kudanya menepi jalan lalu turun dari pelana kemudian menambatkan kudanya pada
sebatang perdu , para penunggang kuda yang lain mengikuti apa yang dilakukan Ki
Prawiro yang kemudian mereka beristirahat duduk di atas sebuah batu besar yang
ada di bawah pohon randu alas yang berdaun lebat dan rindang , kuda kuda yang
ditambatkan pada perdu perdu di pinggir jalan itupun mulai makan rumput yang
tumbuh subur di sepanjang jalan itu .
Ki Prawiro :
Kita beristirahat sejenak di sini . . . . ngger . .
. .
Sentanu :
Baiklah Paman . . . .
Ki Prawiro :
Setahu saya kalian ini pada saling belum kenal antara satu dengan yang
lainnya . . .untuk itu silahkan kalian saling
berkenalan , karena nantinya kalian harus saling kerja sama .
. . walaupun pada hal-hal
tertentu kalian juga harus saling berlomba .
Empat orang anak muda yang pergi ke Kota Raja bersama Ki
Prawiro itupun saling berkenalan , ada seorang anak muda yang berparas tampan
dengan baju yang sangat bagus , pemuda ini bernama Sundoko , Sundoko adalah anak seorang saudagar kaya dari Kota
Kadipaten Candi Sari , namun sayangnya pemuda ini berperilaku agak sombong ,
dia mengikuti kepergian ke Kota Kerajaan ini karena dipaksa oleh orang tuannya
yang sudah kerepotan untuk mendidik Sundoko yang sangat nakal sekali , dia
sering membuat onar dimana-mana terutama sering berkelahi bersama teman
temannya di tempat perjudian sabung ayam , ayah Sundoko juga sangat geram
kepada anaknya itu yang selalu menghambur-hamburkan uangnya untuk berfoya-foya
dengan teman temannya , setiap kali ayahnya memarahi Sundoko ibunya selalu
membela dan memanjakannya , yang ke dua adalah anak muda yang berpenampilan sangat
rapi , anak muda yang kedua ini sangat pendiam tetapi selalu memperhatikan
semua hal di sekitarnya , pemuda ini bernama Waskito Budi , Waskito Budi adalah
putra seorang Abdi Dalem Adipati Candi Sari yang sudah lama bersahabat dengan
Ki Prawiro , anank ini memang dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya agar
kelak di kemudian hari bisa menjadi Punggowo Kerajaan Jenggolo Manik , setidak
tidaknya itulah yang diinginkan kedua orang tuanya , yang ketiga adalah Sentanu
, Sentanu ini masih ada pertalian darah dengan Ki Prawiro , karena Sentanu
adalah anak adik kandung Ki Prawiro , ayah Sentanu menjadi kepala Padukuhan di
Kademangan Ngadipuro yang tidak jauh
dari Kota Kadipaten Candi Sari , sedangkan yang keempat adalah Rekso Utomo .
Mereka saling
berjabatan tangan dan saling menyebutkan nama masing masing untuk berkenalan ,
hanya Sundoko yang terlihat malas malasan untuk berkenalan dengan yang lain ,
dia hanya menanggapi perkenalan itu dengan dingin lalu dia mengambil posisi
duduk dipuncak batu besar yang ebntuknya memang seperti gunung atau seperti
tumpeng , karena perhentian itu memang terkenal dengan sebutan palerenan watu
tumpeng .
Ki Prawiro :
Angger semuanya . . . hari sudah
siang sebentar lagi mata hari akan condong
kebarat
, yang membawa bekal silahkan dimakan , karena kita bisa sampai di perkampungan
sekitar nanti sore .
Tanpa ada yang menjawap
mereka segera mengeluarkan bekal masing masing , ternyata semua orang di
rombongan kecil itu membawa bekal , tak terkecuali Ki Prawiro juga membawa
bekal , hanya bekal Ki Prawiro tidak sebanyak bekal para anak anak muda itu . .
Ki Prawiro hanya mengeluarkan dua buah lepet dari beras ketan yang dibungkus
daun kokrok ( semacam daun rotan ) , sedangkan para pemuda yang lain
mengeluarkan bekal mereka yang besar besar yang berisi makanan yang enak enak ,
maklumlah para ibu mereka sangat kawatir anak mereka kelaparan ditengah jalan ,
Rekso juga tidak ketinggalan . . . dibukanya bekal yang dibuatkan oleh bibinya
, Rekso sendiri tidak tahu isinya apa yang pasti bekal itu besar juga , setelah
bungkusan kain yang menutupi bekal itu dibuka ternyata di dalamnya ada dua
bungkusan dari daun pisang , yang satu gulungan daun pisang yang didalamnya
berisi nasi pulen . . . Rekso tersenyum
memandangi gulungan nasi dalam daun pisang buatan bibinya itu , karena sama
persis seperti buatan ibunya di deasa kalau membawakan bekal jika dia pergi ke
Padhepokan Windu Jati , lalu Rekso membuka bungkusan satunya yang agak kecil
dari bungkusan nasi dan ternyata isinya dua paha ayam panggang yang di tumpuki
dengan serundeng kelapa muda , Sentanu yang duduk di dekat Rekso memandangi
bekal yang dibuka Rekso , Rekso yang melihat Sentanu seperti itu lalu
menyodorkan lauknya kearah Sentanu . . . Sentanu memandangi Rekso dan paha ayam
panggang itu dengan tajam penuh selidik lalu diambil sepotong paha ayam
panggang itu tanpa ada keraguan sedikitpun lalu ditaruh diatas bekal nasinya ,
lalu lauk pauknya sendiri yang telah dibuatkan oleh ibunya yang ternyata adalah
sambal goring ati langsung ditaruh dihadapan Rekso dan mereka duduk berhadapan
makan bersama .
Selama istirahat makan
itu Rekso sesekali memperhatikan jalanan
dan hutan di sekelilingnya ,
Rekso juga memperhatikan kalau Waskito
Budi juga melakukan hal yang sama , tak seberapa lama kemudian Waskito Budi
mendekati Rekso sambil berbisik perlahan .
Waskito :
Apa kamu merasakan apa yang kurasakan . . . aku sedari tadi juga
memperhatikan
kamu
Rekso : Ya . . . aku mengerti apa yang kamu
maksutkan . . . kita harus tetap waspada
tetapi
jangan terlihat mencolok biar yang lainnya tidak ketakutan
Waskito :
Aku setuju
Waskito kemudian
kembali duduk di tempatnya semula , sedangkan Sentani yang mendengar
pembicaraan itu menjadi bingung dan heran
. . . benaknya bertanya tanya . .
. ada apa . . . ? dia pun mulai mengamati dengan teliti melalalui
pandangan dan pendengarannya , Rekso
yang sudah terbiasa dengan kondisi hutan
dan lingkungan pedesaan , juga pengalamannya sebagai murit Padhepokan
Windu Jati sudah curiga sedari tadi ,
sama dengan Waskito yang curiga bahwa dihutan dengan pepohonan yang besar besar
itu tidak ada terlihat seekor binatang pun bahkan suara burung yang biasanya
selalu berkicau di mana-mana kali ini tiada seekorpun yang ada di situ , hal
ini menjadikan keanehan . . . pasti para penghuni hutan ini menyingkir karena
ada penghuni lain yang membuat mereka ketakutan di tempat itu .
Benar juga kecurigaan
kedua pemuda itu . . . karena tak berapa lama dari balik semak di seberang
jalan itu muncul seorang yang bertubuh tinggi besar dengan wajah menyeramkan ,
begitu muncul orang itu langsung mendekati mereka dan berhenti berkacak
pinggang dengan garang sambil tertawa keras keras , seketika itu pula dari
balik pohon besar di sebelah kanan dan kiri mereka duduk muncul tiga orang yang bertampang seram dengan rambut
panjang acak acakan , mereka maju sambil matanya melotot mendekati tempat duduk Ki Prawiro beserta
rombongan kecilnya , dari belakang batu besar yang diduduki rombongan kecil itu
yang lepas dari perhatian mereka terdengar suara teriakan sangat keras yang
membuat mereka sangat terkejut .
bersambung
(Karman)

No comments:
Post a Comment