Merekapun sama sama
mengambil kuda masing masing yang ditambatkan pada akar pohon beringin ,
perjalanan ke rumah paman Rekso tidak memakan waktu yang lama , karena rumah
paman Rekso berada di pinggiran kota , tepatnya mengarah ke jalan menuju kota
Kerajaan dan tak berapa lama merekapun
sampai di rumah paman Rekso dan seorang
perempuan parobaya menyambut kedatangan mereka dengan suka cita .
Nyai Dipo : Rekso
. . . oalah ngger . . . . kamu sudah besar ,
sekarang sudah jadi orang
Setelah turun dari
kudanya Rekso pun menyerahkan kuda itu kepada seorang pembantu di rumah
pamannya yang memang meminta kuda itu untuk dibawa ke beakang , Rekso pun
segera menghampiri bibinya lalu meraih tangan bibinya dan diciumnya berkali-kali
, bibinya pun membalas memeluk Rekso yang sudah dianggap anak sendiri , maklum
bibi Rekso tidak mempunyai anak , dulu pernah dimintanya Rekso kepada kakaknya
untuk diasuhnya tetapi ibu Rekso tidak mengijinkannya , karena dia juga hanya
punya anak Rekso satu-satunya .
Ki Dipoyono :
Buneee . . . cepat diajak masuk Rekso itu , suruh makan dan istirahat .
. . . nanti
Malam
akan kuajak keluar
Nyai Dipo : Hayo masuk ke rumah Rekso , aku sudah
siapkan makanan kesukaanmu ayam
Panggang
, kamu masih suka ayam panggang kan . . . ? aku juga buatkan sayur kesukaanmu
lo . . . . sayur asem sma sambal terasi
, hayo makan . . . pasti kamu sudah lapar .
Rekso : Baik bibi . . . . kok aku malah merepotkan
bibi
Nyai Dipo : Merepotkan bagaimana . . . ? kamu ini
anakku satu-satunya dan sudah lama sekali
Tidak
kesini , oh . . ya . . kabar ibumu bagaimana ? sehat sehat saja kan ?
Rekso : Ibu baik baik saja bibi . . . , ibu juga
titip salam buat bibi . . . kalau ada waktu bibi
Diminta
datang ke desa , mungkin pada hari selamatan wafatnya eyang
Nyai Dipo : Iya . . . pada selamatan wafatnya eyangmu
nanti kalau pamanmu bias mengantarkan. Bibi
akan kesana , kalau sudah selesai makan kamu istirahat dulu di kamarmu yang
dulu , tadi Suradi sudah saya suruh membersihkan karena kamar itu tidak pernah
ada yang menempati selain kamu .
Rekso : Baik bibi
Rekso pun segera makan
dengan lahapnya , karena memang dia sudah lapar , apalagi bibinya sudah
menyiapkan lauk dan sayuran kesukaannya , dulu sewaktu masih remaja Rekso
memang pernah tinggal beberapa bulan di rumah pamannya , waktu itu
dipertimbangkan daripada di desa kurang pengalamannya lebih baik Rekso tinggal
di kota yang ramai bersama paman dan bibinya , tetapi akirnya diputuskan Rekso
dikirim ke Padhepokan Windu Jati .
Setelah selesai makan
Rekso pergi ke serambi belakan rumah pamannya ,disitu ada dipan besar yang
biasa dipergunakan untuk duduk duduk bersama , di halaman belakang tampak
Suradi yang sedang membersihkan kuda yang sambil makan rumput hijau segar yang
telah disiapkan oleh Suradi , Rekso merebahkan dirinya di atas dipan besar itu
sambil mengamati pepohonan dan tanaman bunga di belakang rumah pamannya hingga
tanpa terasa Rekso yang kelelahan berkuda seharian itu tertidur lelap .
Hari telah menjelang
sore ketika Rekso terbangun karena mendengar ringkikan kuda yang dimasukan
kedalam kandang oleh Suradi , dengan perlahan dia bangkit dari tidurnya dan
duduk di atas dipan besar itu , diamatinya lingkungan sekelilingnya ternyata
suasana sudah agak redup karena matahari sudah berada di ufuk barat ,
dilangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi yang ada di bagian belakang rumah
itu lalu Rekso segera membersihkan badan , sambil membayangkan dia akan diajak
kemana oleh pamannya nanti malam ,
setelah selesai mandi Rekso segera berganti pakaian lalu menuju ke
ruang depan , yang ternyata bibinya sudah berada di situ .
Nyai Dipo
: Eee
. . . kamu sudah bangun ngger . . . . , waduh . .
. kamu terlihat ganteng
dan gagah
ngger , wah . . wah . . bibi bangga sekali terhadapmu
Rekso : Ah . . . bibi bisa saja , paman Dipo kemana
bibi . . . kok tidak kelihatan
Nyai Dipo : Pamanmu keluar rumah sedari tadi . . . ,
katanya kerumah temannya
Rekso : Teman
paman siapa ya biii . . .
Nyai Dipo : Wah . . . aku ya gak tahu , teman pamanmu
kan banyak , tadi katanya mau
mengajak
kamu pergi
Rekso : Iya bibi . . . aku juga menunggu mau diajak
kemana
Nyai Dipo : Ya
sudah . . . . . ditunggu saja
Mereka berduapun
melanjutkan pembicaraan di ruang depan itu sambil menunggu kedatangan paman
Rekso hingga tanpa disadarinya situasi diluar rumah sudah gelap karena malam
telah tiba .
Tak berapa lama
kemudian di depan rumah terlihat paman Rekso masuk ke dalam pekarangan rumah
bersama dengan seseorang yang belum pernah dikenal oleh Rekso , dalam hati dia
menduga ini pasti teman paman itu , dan tak lama kemudian paman Rekso dan
temannya itu masuk kedalam rumah .
Ki Dipoyono : Mari
. . mari . . . silahkan masuk Ki Prawiro
Nyai Dipo
: Eeeee . . . . kang Wiro . . ., silahkan masuk kang . . . silakan
Ki Prawiro :
Terima kasih . . . terima kasih
nyai Dipo . . .
Nyai Dipo :
Silahkan duduk kakang . . . , kutinggal ke belakang dulu ya . . sebentar
Ki Prawiro :
Ya . . . nyai . . . . silahkan
Ki Dipoyono : Ki
Prawiro . . . . . inilah keponakanku yang aku ceritakan itu . . . .
Rekso . .
ini
Ki Prawiro yang ingin aku perkenalkan
kepadamu
Rekso beringsut
mendekati Ki Prawiro seraya memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Ki
Prawiro
Rekso : Saya
Rekso Utomo . . . . Ki
Ki Prawiro : Ya . . ya . . pamanmu sudah banyak
menceritakan kepadaku tentang dirimu ,
Rekso
. .
. apa tekatmu sudah bulat untuk menjadi prajurit Kerajaan angger . . .
Rekso : Saya sudah mantap untuk menjadi prajurit Ki
. . .
Ki Prawiro : Menjadi
prajurit itu tidak gampang lo ngger . . . , dan lagi menjadi prajurit itu
sangat
berat , banyak peperangan yang harus dihadapi
Rekso : Benar Ki Prawiro .
. . saya memang sudah bertekat
untuk menjdi seorang
prajurit
Kerajaan
Ki Prawiro :
Bila karena frustasi atau putus
asa atau hanya sebagai pelarian saja lebih baik
kamu
jangan menjadi prajurit , karena jadinya akan tidak baik nantinya
Rekso sangat terkejut
mendengar ucapan Ki Prawiro . . . seakan Ki Prawiro mengetahui apa isi hati
Rekso yang sebenarnya , tapi dia harus bias menyembunyikan semua itu di hadapan
Ki Prawiro dan Pamannya sendiri , maka dengan perlahan nafasnya ditariknya
dengan teratur agar peredaran darah di dalam tubuhnya tidak nampak bergejolak ,
dia juga berusaha menenangkan hatinya dan Rekso berusaha tersenyum agar
semuanya Nampak wajar .
Ki Prawiro :
Baiklah Rekso . . . .bila memang begitu besok pagi-pagi sekali kita
berangkat
menuju
kota Kerajaan bersama beberapa pemuda yang lain , aku dan pamanmu tadi sudah
membicarakan rencana keberangkatan ini
Rekso : Baik Ki . . . . . saya menurut saja dengan
apa yang telah dibicarakan denagn
paman
Ki Dipoyono : Benar
Rekso . . . . tadi kami berdua sudah membicarakan tentang hal itu dan
segala
sesuatunya juga sudah aku persiapkan , bahkan untuk bekalmu di perjalanan besok
juga sudah dipersiapkan oleh bibimu
Rekso : Terima kasih paman
Mereka kemudian
melanjutkan pembicaraan diruang depan itu dengan obrolan-obrolan ringan ,
kadangkala diselungi dengan gelak tawa karena obrolannya lucu dan bibi Rekso
juga menghidangankan makanan ubi rebus
dan pisang bakar sedangkan
minumannya dibuatkan wedang sere dengan gula aren , sambil menikmati hidangan
yang disediakan mereka melanjutkan pembicaraan hingga dari jauh terdengan bunyi
kenthongan yang dipukul sepuluh kali
pertanda malam telah larut menunjukan pukul sepuluh malam , Ki Prawiro akirnya
mohon diri untuk pulang .
Ki Prawiro :
Hari sudah larut malam Ki Dipo . . . sebaiknya aku mohondiri , agar
besok
tidak
terlambat bangun pagi
Ki Dipoyono : Baik
. . . baik Ki Prawiro . . . . .
Ki Prawiro :
Rekso . . . aku pulang dulu , persiapkan dirimu untuk berangkat ke kota
Kerajaan
besok pagi-pagi sekali
Rekso : Baik
Ki Prawiro . . . saya akan mempersiapkan diri , terima kasih Ki . . .
Ki Prawiro :
Mari Nyai Dipo . . . terima kasih
hidangannya
Nyai Dipo :
Mari . . mari Ki Prawiro . . .
saya titip keponakan ku ya Ki . . . .
Ki Prawiro :
Iya . . iya Nyai . . . jangan kawatir , mari semuanya
Sepulangnya Ki Prawiro
dari rumah Ki Dipoyono , merekapun segera beristirahat , karena besok pagi-pagi
sekali Rekso harus berangkat ke kota Kerajaan bersama Ki Prawiro dan
beberapa pemuda yang lain , Rekso masuk kedalam kamar yang dipersiapkan
buatnya lalu direbahkan dirinya di pembaringan kayu yang dulu pernah
ditidurinya setiap malam , dipejamkan matanya agar segera dapat tidur , tetapi
angan-angan Rekso menerawang jauh kemana-mana , walau matanya terpejam tetapi
dipelupuk matanya selalu terbayang hal-hal yang dialaminya , terbayang ibunya
yang ditinggalkan di desa , terbayang Padhepokan Windu Jati yang telah
menggembleng dirinya , terbayang Galuh Roro Rengganis yang telah dipersunting
orang lain terbayang . . . terbayang
. . . hingga Rekso terlelap dalam tidur nyenyak ,
Rekso terbangun ketika mendengar suara memanggil namanya beberapa kali .
Ki Dipoyono :
Rekso . . . Rekso . . . bangun ngger . . . hari sudah pagi
Rekso membuka matanya
yang masih terasa mengantuk , diusap mukanya dengan telapak tangan beberapa
kali lalu dia bangkit dari pembaringan dari kayu itu , dihisapnya nafasnya
dalam dalam beberapa kali untuk mendapatkan kesegaran tubuh .
Rekso : Iya
paman . . . Rekso sudah bangun
Ki Dipoyono :
Cepat bersihkan dirimu lalu berkemas . . . sebentar lagi Ki Prawiro
datang
Rekso : Baik paman
Kemudian Resko
melangkah ke kamar madi dibelakang rumah untuk membersihkan diri , tak lama
kemudian Rekso kembali masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian dan tak
lupa dibungkusnya semua pakaian yang dibawanya , setelah itu Rekso menuju ruang
depan dan disitu paman dan bibinya telah menunggunya .
Nyai Dipo : Rekso . . . sudah kamu kemasi barang barang
mu ngger . . .
Rekso : Sudah bibi . . .
Nyai Dipo : Ini sudah kusiapkan sarapan . . . biar
perutmu tidak kosong , perjalananmu nanti
Akan
panjang ngger . . .
Ki Dipoyono :
Hayo . . . kamu makan dulu Rekso . .
Rekso : Baik paman . . . baik bibi . . .
Kemudian Rekso
mengambil nasi sedikit dan lauk seperti yang dimakannya kemarin , pelan pelan
Rekso sarapan karena sebenarnya perutnya tidak biasa sarapan sepagi ini ,
Nyai Dipo : Makanmu kok sedikit ngger . . . kenapa . .
?
Rekso : Tidak apa apa kok bibi . . . .
Nyai Dipo : Ini sudah saya siapkan bekal makan untuk di
jalan nanti . . . kota
Kerajaan
itu
kan jauh sekali dan belum tentu pada saat perutmu lapar kamu
mendapatkan warung makan .
Ki Dipoyono :
Rekso . . . kepergianmu ke kota Kerajaan untuk menjadi prajurit ini
belum bisa
diketahui
untuk waktu berapa lamanya . . . .
bias sebulan dua bulan bila kamu gagal . . . tetapi bisa juga setahun . . . dua
tahun . . . bahkan lima sampai sepuluh tahun baru kamu
kembali bila kau menjadi prajurit yang pinunjul
Ki Dipoyono kemudian
masuk kedalam bilik kecil yang ada di ruangan itu , tak berapa lama Ki Dipoyono
keluar dengan membawa dua bungkusan kaian yang satu besar dan
yang satu kecil lalu duduk berhadapan dengan Rekso yang telah selesai makan
. Rekso memperhatikan barang yang dibawa pamannya itu dengan penuh tanda Tanya
, karena Rekso belum pernah melihat benda itu dan pamannya tidak pernah
menceritakan apapun kepadanya .
Ki Dipoyono :
Rekso . . . . ini paman sudah siapkan cukup lama untuk kamu ngger . . .
Ki Dipoyono kemudian
menyerahkan bungkusan kecil dan bungkusan besar itu kepada Rekso , Rekso
menerima barang itu dengan sejuta perasaan sukaria ; takjub dan penuh hormat
kepada pamannya yang begitu besar perhatian kepada dirinya , dalam hati dia
bimbang dengan apa Rekso akan membalas semua kebaikan paman dan
bibinya .
Ki Dipoyono :
Ini pemberianku dan bibimu berupa uang dan
perhiasan yang tak seberapa ,
uang
dan perhiasan ini memang sudah lama sekali kami kumpulkan yang akan kami
berikan kepadamu bila kelak kamu hidup berumah tangga . .
. . tetapi paman rasa sekarang
inilah saatnya untuk kuberikan kepadamu .
Nyai Dipo : Benar .
. . anakku . . . memang kami mengumpulkannya
untuk kamu ,
pergunakanlah
untuk bekal di kota Raja . . . . ingat . . . kamu harus berhemat , jangan hidup boros dan berfoya foya .
Ki Dipoyono :
Dengarkan nasehat bibimu Rekso
. . .
Ki Dipoyono kemudian
membuka bungkusan kain yang besar yang ternyata adalah sebuah keris pusaka yang
bagus sekali , dari kerangka dan
pamornya terlihat jelas bahwa pusaka itu
terawat dengan baik dan diberikannya benda itu kepada Rekso
(Karman)

No comments:
Post a Comment