Saturday, 14 November 2015

Keajaiban Prasangka



Allah hamparkan untuk kesekian kali bukti di hadapanku melalui kejadian demi kejadian bahwa “Allah bersama prasangka hamba-Nya”. Sering sekali bahkan mungkin kata-kata itu sudah melekat di pikiran bahwa jika kita berprasangka maka prasangka itulah yang akan Allah berikan. Akan tetapi kita sering menyepelekan atau menganggapnya sambil lalu karena seringnya kita mendengar kata itu. Serasa ditampar, Allah engingatkan dengan rentetan kejadian yang menyadarkanku.

Bermula ketika waktu itu aku menjadi panitia dalam suatu acara. Prasangka burukku bermain, bahwa tidak akan ada banyak peserta yang hadir. Aku berfikir bahwa kegiatan yang kugawangi waktu itu memang bagus tapi peserta yang notabene adalah mahasiswa tidak akan terlalu antusias. Maka benarlah prediksiku yang sok menjadi mbah dukun itu. Bisa dihitung dengan jari peserta yang hadir saat itu.

Dilanjutkan dengan urusan pekerjaan sampingan sebagai manager marketing di bidang penjualan dan peternakan kambing atau sapi. Ketika itu pula fikiranku mengatakan bahwa, “Aku  tidak  bisa menjualkan  kambing atau sapi.” Padahal  aku sendiri sadar bahwa kemampuan berbicara pun menguasai dan relasi pun banyak tapi tidak cukup untuk mematahkan prasangka burukku. Aku merasa hanya mampu berjualan online saja. Maka benarlah hanya sedikit bonus yang kudapat padahal aku sedang membutuhkan uang.

Seperti pagi yang bersua dengan embun, seorang ustadzah yang mengetahui kondisiku saat itu mengatakan sekali lagi dengan tegas padaku, “Dik, Allah itu bersama prasangka hamba-Nya. Allah itu dekat, lebih dekat daripada urat nadimu. Perlu bukti apalagi?” Fikiran itu terngiang sampai akhirnya kukeberanikan untuk mencoba menawarkan dagangan ke beberapa relasi. Awalnya jawabannya negative tapi kukuatkan lagi prasangka baik itu dan Subhanallah… semua belum terlambat. Masih ada relasi yang membutuhkan kambing atau sapi.

Benar-benar Allah itu dekat, Allah buktikan. Sejak itu, bukti apalagi yang aku butuhkan karena semua sudah Allah hamparkan untuk mematahkan prasangka-prasangka buruk itu dan menjadikan prasangka baik sebagai modal utama. Wallahua’lam bish showab. 

(My Lovely)

No comments:

Post a Comment