Allah hamparkan untuk kesekian kali bukti di hadapanku
melalui kejadian demi kejadian bahwa “Allah bersama prasangka hamba-Nya”.
Sering sekali bahkan mungkin kata-kata itu sudah melekat di pikiran bahwa jika
kita berprasangka maka prasangka itulah yang akan Allah berikan. Akan tetapi
kita sering menyepelekan atau menganggapnya sambil lalu karena seringnya kita
mendengar kata itu. Serasa ditampar, Allah engingatkan dengan rentetan kejadian
yang menyadarkanku.
Bermula ketika waktu itu aku menjadi panitia dalam suatu
acara. Prasangka burukku bermain, bahwa tidak akan ada banyak peserta yang
hadir. Aku berfikir bahwa kegiatan yang kugawangi waktu itu memang bagus tapi
peserta yang notabene adalah mahasiswa tidak akan terlalu antusias. Maka
benarlah prediksiku yang sok menjadi mbah dukun itu. Bisa dihitung dengan jari
peserta yang hadir saat itu.
Dilanjutkan dengan urusan pekerjaan sampingan sebagai
manager marketing di bidang penjualan dan peternakan kambing atau sapi. Ketika
itu pula fikiranku mengatakan bahwa, “Aku
tidak bisa menjualkan kambing atau sapi.” Padahal aku sendiri sadar bahwa kemampuan berbicara pun
menguasai dan relasi pun banyak tapi tidak cukup untuk mematahkan prasangka
burukku. Aku merasa hanya mampu berjualan online saja. Maka benarlah hanya
sedikit bonus yang kudapat padahal aku sedang membutuhkan uang.
Seperti pagi yang bersua dengan embun, seorang ustadzah yang
mengetahui kondisiku saat itu mengatakan sekali lagi dengan tegas padaku, “Dik,
Allah itu bersama prasangka hamba-Nya. Allah itu dekat, lebih dekat daripada
urat nadimu. Perlu bukti apalagi?” Fikiran itu terngiang sampai akhirnya
kukeberanikan untuk mencoba menawarkan dagangan ke beberapa relasi. Awalnya
jawabannya negative tapi kukuatkan lagi prasangka baik itu dan Subhanallah…
semua belum terlambat. Masih ada relasi yang membutuhkan kambing atau sapi.
Benar-benar Allah itu dekat, Allah buktikan. Sejak itu,
bukti apalagi yang aku butuhkan karena semua sudah Allah hamparkan untuk
mematahkan prasangka-prasangka buruk itu dan menjadikan prasangka baik sebagai
modal utama. Wallahua’lam bish showab.
(My Lovely)

No comments:
Post a Comment