Monday, 30 November 2015

Ronggo Rekso Utomo (lanjutan pertama Bagian 1)




lanjutan pertama Bagian 1
 
Rekso saat itu berada di dekat Galuh Roro Rengganis membuang barang bawaannya ke tepian sungai dan tanpa pikir panjang Rekso terjun ke sungai menolong Galuh , diraihnya tangan Galuh yang kuning mulus dengan jemari yang lentik , lalu di angkatnya tubuh Galuh Roro Rengganis yang sudah basah kuyup oleh air sungai pegunungan yang dingin sekali kedalam pelukannya , dibawanya Galuh ke tepian yang berbatu besar ,tubuh Galuh dibaringkan di atas batu besar itu dengan posisi kepala agak kebawah . . lalu Rekso menekan perut Galuh ,  seketika itu Galuh Roro Rengganis tersedak  dan  memuntahkan air sungai yang telah banyak masuk kedalam perutnya saat tenggelam tadi .

Rekso              :    Galuh . . . kamu sudah sadar Galuh  . . . .

Galuh Roro Rengganis yang baru tersadar dari pingsan akibat tenggelam di sungai Sumber Kepodang menangis tersedu sedu karena sangat ketakutan , beberapa saat kemudian Galuh baru menyadari bila dirinya berada dalam pangkuan Rekso , Galuh menjadi bingung  dan  salah tingkah tidak  tahu harus berbuat apa , yang dilakukan adalah melanjutkan menangis .

Rekso              :    Sudah . . . sudahlah Galuh . . . . kamu sudah selamat . . . dan kamu sudah aman disini

Sambil menenangkan Galuh yang menangis tanpa disadarinya Rekso memeluk tubuh Galuh , Rekso baru sadar dengan apa yang dilakaukannya ketika Galuh Roro Rengganis berhenti menangis dan memandang wajah Rekso dengan tatapan mata yang tak dapat diartikan , sesaat kemudian Galuh pun memluk tubuh Rekso dengan erat .

Galuh              :    Kakang Rekso

Rekso tidak menyangka kalau Galuh akan memeluk dirinya , hati Rekso berdesir . . . dadanya berdebar kencang  . . . darahnya mengalir dengan cepat ke ubun-ubun seakan jantungnya mau copot , Rekso belum pernah sedekat ini dengan wanita selain ibunya yang sering memijit mijit kaki Rekso bila kecapekan seharian bekerja di sawah , Rekso bingung karena belum pernah mengalami perasaan seperti ini membuat  Rekso terbengong tak berkutik . 

Galuh              :    Terima kasih  . . . kakang telah menyelamatkan aku . . . , kalau tidak etah apa jadinya diriku ini . . . sekali lagi terima kasih ya kakang Rekso 
 
Mendengar perkataan Galuh Roro Rengganis yang lembut dan manja yang masih berada dalam pelukannya Rekso tersadar dari kebengongannya .

Rekso              :    Iyyy . . . iiiyya . . . iya Galuh . . . tidak apa apa , memang kuwajibanku untuk
menyelamatkan kamu .

Sebenarnya Galuh sendiri juga mengalami perasaan yang  sama  dengan Rekso , Galuh tidak menyangka kalau akan jatuh dan tenggelam dalam Sungai Sumber Kepodang  , karena kejadian itu begitu cepatnya dan tahu-tahu dia sudah berada dipelukan Rekso , ya . . . Rekso  . . . pemuda yang tampan  ; cerdas  ; giat dan rajin belajar di Padhepokan  , yang menjadi idaman para gadis di Padhepokan  dan di Desanya , Galuh sendiri sudah lama menaruh hati kepada Rekso , tetapi sebagai seorang wanita Galuh tidak berani berbuat banyak , hanya seringkali dia mencuri pandang untuk menatap Rekso dalam dalam  .  

Karena baju Galuh basah kuyup semuanya termasuk yang ada dalam bungkusan baju , maka Rekso mengambil bajunya yang kering untuk dipakaikan kepada Galuh agar tidak kedinginan .

Rekso              :    Galuh . . . tidak mungkin kamu pulang ke Padhepokan basah kuyup seperti ini , nanti kamu akan sakit , tapi yang ada disini hanya bajuku . . . sudahlah pakai saja . . . tidak apa apa yang penting tidak kedinginan  dan  tidak sakit .
 
Galuh tidak menyangka akan hal itu , dia tidak memikirkan tentang bajunya yang basah bisa membuat sakit , lalu dipandanginya Rekso dalam dalam  lalu diterimanya baju Rekso itu

Galuh              :    Lalu memakainya bagaimana .. ?
Rekso              :    Ya dimasukan ke badanmu  . . .
Galuh              :    Maksutku . . . pakaianku yang basah ini masih menempel di badanku . . .

Rekso tadi menjawap sekenanya saja , dia tidak mengerti sepenuhnya maksut perkataan Galuh , Rekso baru menyadari bila untuk memakai bajunya Galuh harus melepaskan semua pakaiannya yang basah itu sedangkan disitu ada Rekso .

Rekso              :    Begini saja Galuh . . . aku akan membelakangimu menghadap ke tempat lain
kemudian kamu lepas bajumu , jangan kawatir . . . aku tidak akan menoleh kebelakang kok
Galuh              :     Benar ya . . . jangan menoleh kebelakan
Rekso              :    Benar Galuh . . . aku tidak menoleh
Galuh              :    Nanti kakang melirik . . . .

Galuh pun segera melepas pakaiannya yang basah karena tercebur kedalam sungai tadi , dilepasnya baju kebayak dari kain Lurik  . . . lalu dibukanya kemben yang mengikat jarik yang dipergunakannya .
Rekso              :    Sudah selesai . . .
Galuh              :    Belum . . . 

Perasaan Rekso yang berdiri bersingkuran dengan Galuh berkecamuk tidak karuan , dia membayang Galuh yang melepas melepas pakaian dibelakangnya tubuhnya pasti mulus . . . dengan kulit yang kuning langsat . . . waoo . . . tubuh Rekso bergetar  . . . nafasnya terengah-engah   dan  Huck . . huck . .  Rekso tersedak 

Galuh              :    Ada apa kakang . . .
Rekso              :    Tid . .tid . . tidak ada apa apa . . . Galuh

Dengan gelagapan Rekso menjawap pertanyaan Galuh yang mendengar dirinya tersedak , sebenarnya Galuh juga mengalami hal yang sama , sebagai seorang perempuan dia harus melepas pakaiannya disamping  seorang  laki laki di sungai Sumber Lepodang , tetapi harus bagaimana lagi keadaan ini memang tidak bisa dihindarinya . . . dia yakin Rekso tidak akan berbuat yang tidak semestinya . Namun begitu ada perasaan yang lain di dalam hatinya . . . Galuh merasa tenang dan aman bersama Rekso . . . , satu persatu dikenakannya pakaian pemberian Rekso sampai semuanya terpasang pada tubuhnya , lalu disentuhnya punggung Rekso yang berdiri membelakanginya .

Galung             :    Sudah selesai kakang . . .

Rekso membalikan badangnya menghadap Galuh Roro Rengganis , dipandanginya tajam tajam Galuh yang menggunakan pakaiannya , memang terlihat kebesaran karena tubuh Rekso memang lebih besar daripada tubuh Galuh , lalu Rekso tersenyum melihat Galuh Roro Rengganis memakai pakaian pria . 

Galuh                :    Kenapa kakang . . . .
Rekso              :    Kamu terlihat seperti seorang priya yang sangat tampan . . . tetapi sepertinya ada yang kurang  . . . 
 
Lalu Rekso membuka bungkusan pakaiannya dan diambil sebuah ikat kepala yang kemudian dikenakannya di kepala Galuh Roro Rengganis .

Rekso              :    Nah . . . sekarang sudah lengkap . . . kamu kelihatan tampan sekali berpakaian seperti ini Galuh . . .
Galuh              :    Terima kasih kakang Rekso . . .

Mereka berdua sama sama tersenyum . . . senyuman yang mengandung sejuta makna 

Rekso              :    Sekarang mari kita naik ke jalan di atas sana , teman teman semua menunggu disana

Keduanya pun menaiki tebing sungai Sumber Kepodang yang tidak seberapa tinggi lalu melewati tepian sungai naik ke jalan setapak dimana teman temannya menunggu , sejak saat itu hubungan Rekso dan Galuh lambat laun semakin akrap dan akirnya terjalin hubungan cinta dua insan manusia .

Penjual nasi     :     Permisi  Denmas . . . .

Rekso tersentak dari lamunannya  saat  mendengar suara  seseorang menyapanya dari dekat , dengan tergopoh gopoh penuh rasa malu  Rekso bangkit dari duduknya dan melihat didekatnya ada seorang ibu tua yang menggendong sebuah bakul agak besar , lebih terkejut lagi ternyata hari sudah pagi  dan  matahari mulai menampakan sinarnya yang jatuh di atas dedaunan .

Rekso              :     Silahkan . . . . silahkan  ibu
Penjual nasi     :     Pagi-pagi kok sudah melamun . . . aden ini mau kemana . . ?  maaf ya  den  ibu
Mau jualan  nasi disini
Rekso              :     Saya  sedang istirahat  ibu . . . ( jawap Rekso sekenanya )
Penjual nasi     :     Sepertinya Angger ini bukan orang sini  ya
Rekso              :     Benar  Bu . . . saya memang bukan  orang sisni
Penjual nasi     :     Angger  dari mana  dan  mau kemana ?
Rekso              :     Saya  berasal  dari  Kademangan  Menganti
Penjual nasi     :     Oooo  . . . dari Kademangan Menganti  to , ya  tidak jauh jauh banget  , terus
Angger mau kemana  kok pagi-pagi sekali sudah sampai di sini ?
Rekso              :     Saya  mau ke kota  ibu . . .
Penjual nasi     :     Kalu belum sarapan pagi  hayo  silahkan sarapan , mumpung masih hangat  lo . .
Rekso              :     Kebetulan  memang sya belum makan pagi bu , ada jualan nasi apa to  bu . . ?
Penjual nasi     :     Ibu hanya jual  nasi pecel  sama nasi  mangut  ngger
Rekso              :     Ya  sudah  bu  saya beli nasi pecelnya  satu  bungkus
Penjual nasi     :     Baiklah ngger  ini silakan dinikmati
Rekso menikmati sarapan pagi nasi pecel di gardu dekat perempatan jalan itu yang telah didudukinya agak lama sambil melamun , setelah selesai makan dan pamitan ibu penjual nasi Rekso mengambil kudanya yang ditambatkannya pada sebatang perdu , dia menaiki kuda itu berjalan perlahan lahan sambil hatinya menimbang nimbang , ya . . . . Rekso memang frustasi karena kekasih hatinya telah menikah dengan pemuda lain yang lebih kaya  dan  anak seorang Demang , Rekso memutuskan dalam hati . . . hidup ini harus berjalan terus  dan aku harus berhasil menjadi orang yang sukses , persetan dengan cinta . . . .  persetan dengan semua ini . . . semuanya bagaikan  gombal  yang takberguna . . .  tetapi . . .  tak apalah  asal Galuh bisa bahagia  dia bisa menerima , walau dengan sejuta duka lara . . . . entah kapan . . . suatu ketika nanti  dia akan kembali ke desa ini .

Bingkai  hatiku yang tlah terpasang gambar mu  wahai  Galuh  . . . . . .
Kugantung  dalam  dinding  jiwaku
Setiap  saat  kupandang
Setiap  saat  kupeluk  dan  kucium . . . . .
Namun  sekejap  .  .  .  . 
Kau  lenyap  .  .  .  .
Dibawa  angin  berbisa
Dan  aku  tak kuasa  melawan  bayu perkasa
Hatiku hancur  .  .  .  .jiwaku lebur  .  .  .  .
Remuk .  .  .  .  runtuh .  .  .
Oleh musna  gambarmu
Tapi  biarlah .  .  . kan kucari jalanku sendiri

Kembali dipacunya kuda kesayangannya di jalan yang sepi , tetapi ketika memasuki sebuah desa dan jalanan menjadi agak ramai Rekso memperlambat lari kudanya karena banyak anak kecil dan orang orang berlalu lalang di jalan , sesekali dihentikannya kudanya karena  ada gerobak yang ditarik sapi sedang memotong jalan , dengan pasti dan mantap Rekso bertekat bulat untuk bertemu dengan pamannya  yang telah berjajni menunggunya di kota Kadipaten .

Ketika  hari sudah siang  dan sinar matahari tepat di atas ubun ubun  Rekso masuk pintu gerbang kota Kadipaten   Candi Sari , ditelusurinya jalanan di kota itu yang memang menjadi semakin ramai , warung warung  dan  toko  kelontong semakin banyak dibuka oleh para pedagang , setelah melewati sebuah pasar dari jauh Rekso bias melihat pohon beringin yang berada di alun-alu  kota  dan dia bergegas menuju alun-alun itu .

Setelah sampai dibawah pohon beringin yang ada di alun-alun itu Rekso melihat seorang laki-laki yang duduk dibawah rindangnya pohon beringin dan Rekso menyapa lelaki itu .

Rekso              :     Paman . . . . Paman Dipoyono

Lelaki yang duduk di bawah pohon beringin memalingkan mukanya kearah Rekso  lalu menjawap

Ki Dipoyono   :     Hai . .  kamu  Rekso . . . . sudah dating to . . . ., hayo sini duduk dulu
Rekso              :     Iya paman .  .  .  . terima kasih
Ki Dipoyono   :     Hayo sini kamu minum dulu , kau pasti haus  , pak . . .  dawetnya satu lagi
Ini  keponakanku  baru datang

Pamannya Rekso memesankan dawet untuk Rekso , memang dibawah pohon beringin di alun-alun itu setiap hari selalu mangkal penjual dawet , selain dawetnya memang enak tempatnya strategis  dan dinaungi rindangnya pohon beringin , Rekso yang kehausan senang banget menikmati dawet di kota kadipaten , karena walau di desanya ada penjual dawet tetapi tidak seenak ini , dan lagi sejak dia makan nasi pecel di gardu dekat perempatan perutnya belum terisi apa-apa .

Setelah Rekso selesai minum dawet  dan  cukup istirahat beberapa lamanya pamannya pun mengajak Rekso menuju rumahnya .

Ki Dipoyono   :     Hayo . . . Rekso . . . kita pulang ke rumah paman , di rumah bibimu sudah menunggu
Rekso              :     Baiklah paman . . . akupun sudah cukup beristirahat

(bersambung)

(Karman) 

No comments:

Post a Comment