lanjutan pertama Bagian 1
Rekso saat itu berada
di dekat Galuh Roro Rengganis membuang barang bawaannya ke tepian sungai dan
tanpa pikir panjang Rekso terjun ke sungai menolong Galuh , diraihnya tangan
Galuh yang kuning mulus dengan jemari yang lentik , lalu di angkatnya tubuh
Galuh Roro Rengganis yang sudah basah kuyup oleh air sungai pegunungan yang
dingin sekali kedalam pelukannya , dibawanya Galuh ke tepian yang berbatu besar
,tubuh Galuh dibaringkan di atas batu besar itu dengan posisi kepala agak
kebawah . . lalu Rekso menekan perut Galuh , seketika itu Galuh Roro Rengganis
tersedak dan memuntahkan air sungai yang telah banyak
masuk kedalam perutnya saat tenggelam tadi .
Rekso : Galuh . . . kamu sudah sadar Galuh . . . .
Galuh Roro Rengganis
yang baru tersadar dari pingsan akibat tenggelam di sungai Sumber Kepodang
menangis tersedu sedu karena sangat ketakutan , beberapa saat kemudian Galuh
baru menyadari bila dirinya berada dalam pangkuan Rekso , Galuh menjadi
bingung dan salah tingkah tidak tahu harus berbuat apa , yang dilakukan adalah
melanjutkan menangis .
Rekso : Sudah . . . sudahlah Galuh . . . . kamu
sudah selamat . . . dan kamu sudah aman disini
Sambil menenangkan
Galuh yang menangis tanpa disadarinya Rekso memeluk tubuh Galuh , Rekso baru
sadar dengan apa yang dilakaukannya ketika Galuh Roro Rengganis berhenti
menangis dan memandang wajah Rekso dengan tatapan mata yang tak dapat diartikan
, sesaat kemudian Galuh pun memluk tubuh Rekso dengan erat .
Galuh : Kakang Rekso
Rekso tidak menyangka
kalau Galuh akan memeluk dirinya , hati Rekso berdesir . . . dadanya berdebar
kencang . . . darahnya mengalir dengan
cepat ke ubun-ubun seakan jantungnya mau copot , Rekso belum pernah sedekat ini
dengan wanita selain ibunya yang sering memijit mijit kaki Rekso bila kecapekan
seharian bekerja di sawah , Rekso bingung karena belum pernah mengalami
perasaan seperti ini membuat Rekso
terbengong tak berkutik .
Galuh : Terima kasih . . . kakang telah menyelamatkan aku . . . ,
kalau tidak etah apa jadinya diriku
ini . . . sekali lagi terima kasih ya kakang Rekso
Mendengar perkataan
Galuh Roro Rengganis yang lembut dan manja yang masih berada dalam pelukannya
Rekso tersadar dari kebengongannya .
Rekso : Iyyy . . . iiiyya . . . iya Galuh . . .
tidak apa apa , memang kuwajibanku untuk
menyelamatkan
kamu .
Sebenarnya Galuh
sendiri juga mengalami perasaan yang sama dengan
Rekso , Galuh tidak menyangka kalau akan jatuh dan tenggelam dalam Sungai
Sumber Kepodang , karena kejadian itu
begitu cepatnya dan tahu-tahu dia sudah berada dipelukan Rekso , ya . . .
Rekso . . . pemuda yang tampan ; cerdas
; giat dan rajin belajar di Padhepokan
, yang menjadi idaman para gadis di Padhepokan dan di Desanya , Galuh sendiri sudah lama
menaruh hati kepada Rekso , tetapi sebagai seorang wanita Galuh tidak berani
berbuat banyak , hanya seringkali dia mencuri pandang untuk menatap Rekso dalam
dalam .
Karena baju Galuh basah
kuyup semuanya termasuk yang ada dalam bungkusan baju , maka Rekso mengambil
bajunya yang kering untuk dipakaikan kepada Galuh agar tidak kedinginan .
Rekso : Galuh . . . tidak mungkin kamu pulang ke
Padhepokan basah kuyup seperti ini , nanti kamu
akan sakit , tapi yang ada disini hanya bajuku . . . sudahlah pakai saja . . .
tidak apa apa yang penting tidak kedinginan
dan tidak sakit .
Galuh tidak menyangka
akan hal itu , dia tidak memikirkan tentang bajunya yang basah bisa membuat
sakit , lalu dipandanginya Rekso dalam dalam
lalu diterimanya baju Rekso itu
Galuh : Lalu memakainya bagaimana .. ?
Rekso : Ya dimasukan ke badanmu . . .
Galuh : Maksutku . . . pakaianku yang basah ini
masih menempel di badanku . . .
Rekso tadi menjawap
sekenanya saja , dia tidak mengerti sepenuhnya maksut perkataan Galuh , Rekso
baru menyadari bila untuk memakai bajunya Galuh harus melepaskan semua
pakaiannya yang basah itu sedangkan disitu ada Rekso .
Rekso : Begini saja Galuh . . . aku akan
membelakangimu menghadap ke tempat lain
kemudian
kamu lepas bajumu , jangan kawatir . . . aku tidak akan menoleh kebelakang kok
Galuh : Benar ya . . . jangan menoleh kebelakan
Rekso : Benar Galuh . . . aku tidak menoleh
Galuh : Nanti kakang melirik . . . .
Galuh pun segera
melepas pakaiannya yang basah karena tercebur kedalam sungai tadi , dilepasnya
baju kebayak dari kain Lurik . . . lalu
dibukanya kemben yang mengikat jarik yang dipergunakannya .
Rekso : Sudah selesai . . .
Galuh : Belum . . .
Perasaan Rekso yang
berdiri bersingkuran dengan Galuh berkecamuk tidak karuan , dia membayang Galuh
yang melepas melepas pakaian dibelakangnya tubuhnya pasti mulus . . . dengan
kulit yang kuning langsat . . . waoo . . . tubuh Rekso bergetar . . . nafasnya terengah-engah dan
Huck . . huck . . Rekso tersedak
Galuh : Ada apa kakang . . .
Rekso : Tid . .tid . . tidak ada apa apa . . .
Galuh
Dengan gelagapan Rekso
menjawap pertanyaan Galuh yang mendengar dirinya tersedak , sebenarnya Galuh
juga mengalami hal yang sama , sebagai seorang perempuan dia harus melepas
pakaiannya disamping seorang laki laki di sungai Sumber Lepodang , tetapi
harus bagaimana lagi keadaan ini memang tidak bisa dihindarinya . . . dia yakin
Rekso tidak akan berbuat yang tidak semestinya . Namun begitu ada perasaan yang
lain di dalam hatinya . . . Galuh merasa tenang dan aman bersama Rekso . . . ,
satu persatu dikenakannya pakaian pemberian Rekso sampai semuanya terpasang
pada tubuhnya , lalu disentuhnya punggung Rekso yang berdiri membelakanginya .
Galung : Sudah selesai kakang . . .
Rekso membalikan
badangnya menghadap Galuh Roro Rengganis , dipandanginya tajam tajam Galuh yang
menggunakan pakaiannya , memang terlihat kebesaran karena tubuh Rekso memang
lebih besar daripada tubuh Galuh , lalu Rekso tersenyum melihat Galuh Roro
Rengganis memakai pakaian pria .
Galuh : Kenapa kakang . . . .
Rekso : Kamu terlihat seperti seorang priya yang
sangat tampan . . . tetapi sepertinya ada yang kurang . . .
Lalu Rekso membuka
bungkusan pakaiannya dan diambil sebuah ikat kepala yang kemudian dikenakannya
di kepala Galuh Roro Rengganis .
Rekso : Nah . . . sekarang sudah lengkap . . . kamu
kelihatan tampan sekali berpakaian seperti ini
Galuh . . .
Galuh : Terima kasih kakang Rekso . . .
Mereka berdua sama sama
tersenyum . . . senyuman yang mengandung sejuta makna
Rekso : Sekarang mari kita naik ke jalan di atas
sana , teman teman semua menunggu disana
Keduanya pun menaiki
tebing sungai Sumber Kepodang yang tidak seberapa tinggi lalu melewati tepian
sungai naik ke jalan setapak dimana teman temannya menunggu , sejak saat itu
hubungan Rekso dan Galuh lambat laun semakin akrap dan akirnya terjalin
hubungan cinta dua insan manusia .
Penjual nasi :
Permisi Denmas . . . .
Rekso tersentak dari
lamunannya saat mendengar suara seseorang menyapanya dari dekat , dengan
tergopoh gopoh penuh rasa malu Rekso
bangkit dari duduknya dan melihat didekatnya ada seorang ibu tua yang
menggendong sebuah bakul agak besar , lebih terkejut lagi ternyata hari sudah
pagi dan
matahari mulai menampakan sinarnya yang jatuh di atas dedaunan .
Rekso : Silahkan . . . . silahkan ibu
Penjual nasi :
Pagi-pagi kok sudah melamun . . . aden ini mau kemana . . ? maaf ya
den ibu
Mau
jualan nasi disini
Rekso : Saya
sedang istirahat ibu . . . (
jawap Rekso sekenanya )
Penjual nasi :
Sepertinya Angger ini bukan orang sini
ya
Rekso : Benar
Bu . . . saya memang bukan orang
sisni
Penjual nasi :
Angger dari mana dan
mau kemana ?
Rekso : Saya
berasal dari Kademangan
Menganti
Penjual nasi :
Oooo . . . dari Kademangan
Menganti to , ya tidak jauh jauh banget , terus
Angger
mau kemana kok pagi-pagi sekali sudah
sampai di sini ?
Rekso : Saya
mau ke kota ibu . . .
Penjual nasi :
Kalu belum sarapan pagi hayo silahkan sarapan , mumpung masih hangat lo . .
Rekso : Kebetulan
memang sya belum makan pagi bu , ada jualan nasi apa to bu . . ?
Penjual nasi :
Ibu hanya jual nasi pecel sama nasi
mangut ngger
Rekso : Ya
sudah bu saya beli nasi pecelnya satu
bungkus
Penjual nasi :
Baiklah ngger ini silakan
dinikmati
Rekso menikmati sarapan
pagi nasi pecel di gardu dekat perempatan jalan itu yang telah didudukinya agak
lama sambil melamun , setelah selesai makan dan pamitan ibu penjual nasi Rekso mengambil
kudanya yang ditambatkannya pada sebatang perdu , dia menaiki kuda itu berjalan
perlahan lahan sambil hatinya menimbang nimbang , ya . . . . Rekso memang
frustasi karena kekasih hatinya telah menikah dengan pemuda lain yang lebih
kaya dan
anak seorang Demang , Rekso memutuskan dalam hati . . . hidup ini harus
berjalan terus dan aku harus berhasil
menjadi orang yang sukses , persetan dengan cinta . . . . persetan dengan semua ini . . . semuanya
bagaikan gombal yang takberguna . . . tetapi . . .
tak apalah asal Galuh bisa
bahagia dia bisa menerima , walau dengan
sejuta duka lara . . . . entah kapan . . . suatu ketika nanti dia akan kembali ke desa ini .
Bingkai hatiku yang tlah terpasang gambar mu wahai Galuh . . . . . .
Kugantung dalam
dinding jiwaku
Setiap saat
kupandang
Setiap saat
kupeluk dan kucium . . . . .
Namun sekejap
. . .
.
Kau lenyap
. . . .
Dibawa angin
berbisa
Dan aku
tak kuasa melawan bayu perkasa
Hatiku
hancur .
. . .jiwaku lebur
. . . .
Remuk
. .
. . runtuh .
. .
Oleh
musna gambarmu
Tapi biarlah .
. . kan kucari jalanku sendiri
Kembali dipacunya kuda
kesayangannya di jalan yang sepi , tetapi ketika memasuki sebuah desa dan
jalanan menjadi agak ramai Rekso memperlambat lari kudanya karena banyak anak
kecil dan orang orang berlalu lalang di jalan , sesekali dihentikannya kudanya
karena ada gerobak yang ditarik sapi
sedang memotong jalan , dengan pasti dan mantap Rekso bertekat bulat untuk
bertemu dengan pamannya yang telah
berjajni menunggunya di kota Kadipaten .
Ketika hari sudah siang dan sinar matahari tepat di atas ubun
ubun Rekso masuk pintu gerbang kota
Kadipaten Candi Sari , ditelusurinya
jalanan di kota itu yang memang menjadi semakin ramai , warung warung dan toko
kelontong semakin banyak dibuka oleh
para pedagang , setelah melewati sebuah pasar dari jauh Rekso bias melihat
pohon beringin yang berada di alun-alu
kota dan dia bergegas menuju
alun-alun itu .
Setelah sampai dibawah
pohon beringin yang ada di alun-alun itu Rekso melihat seorang laki-laki yang
duduk dibawah rindangnya pohon beringin dan Rekso menyapa lelaki itu .
Rekso : Paman . . . . Paman Dipoyono
Lelaki yang duduk di
bawah pohon beringin memalingkan mukanya kearah Rekso lalu menjawap
Ki Dipoyono :
Hai . . kamu Rekso . . . . sudah dating to . . . ., hayo
sini duduk dulu
Rekso : Iya paman . .
. . terima kasih
Ki Dipoyono :
Hayo sini kamu minum dulu , kau pasti haus , pak . . .
dawetnya satu lagi
Ini keponakanku
baru datang
Pamannya Rekso memesankan
dawet untuk Rekso , memang dibawah pohon beringin di alun-alun itu setiap hari
selalu mangkal penjual dawet , selain dawetnya memang enak tempatnya
strategis dan dinaungi rindangnya pohon
beringin , Rekso yang kehausan senang banget menikmati dawet di kota kadipaten
, karena walau di desanya ada penjual dawet tetapi tidak seenak ini , dan lagi
sejak dia makan nasi pecel di gardu dekat perempatan perutnya belum terisi
apa-apa .
Setelah Rekso selesai
minum dawet dan cukup istirahat beberapa lamanya pamannya pun
mengajak Rekso menuju rumahnya .
Ki Dipoyono :
Hayo . . . Rekso . . . kita pulang ke rumah paman , di rumah bibimu
sudah menunggu
Rekso : Baiklah paman . . . akupun sudah cukup
beristirahat
(bersambung)
(Karman)

No comments:
Post a Comment