Tuesday, 24 November 2015

Mistisisme


Mata Kuliah: Mistisisme
Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah
PRODI: Perbandingan Agama

1.      Perbandingan antara mistisisme, dengan aliran kepercayaan/kebatinan dan sufisme tentang: Pengertian, tujuan, konsep ketuhanan,hubungan antara Tuhan dengan alam/manusia

 Mistisisme     
Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).Mistisisme juga dapat disebut sebagai manunggaling kawulo-Gusti.
Mistik menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti subsistem yang ada dalam semua agama dan system religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dalam Tuhan. Mistik juga berarti tasawuf dan suluk. Sedangkan mistis berarti mistik. Dalam artinya yang paling luas, mistik dapat didefinisikan sebagai kesadaran terhadap kenyataan tunggal-yang mungkin disebut kearifan, cahaya, cinta atau nihil.
Tujuan dari mistisisme adalah memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang barada dihadirat Tuhan.
Adapun konsep ketuhanan, hubungan antara Tuhan dengan alam/manusia secara garis besarnya adalah sebagai berikut: 
·        Kepercayaan tentang adanya kontak antara manusia bumi dan tuhan
·        Kepercayaan tentang persatuan mesra ruh manusia dengan Tuhan
·        Kepercayaan kepada suatu kemungkinan terjadinya persatuan langsung manusia dengan Dzat Ketuhanan dan perjuangan bergairah kepada persatuan itu
·        Kepercayaan kepada hal-hal yang rahasia dan hal-hal yang tersembunyi
·        Kecenderungan hati kepada kepercayaan yang menakjubkan atau kepada ilmu yang rahasi
       Selain serba mistis, ajarannya juga serba subyektif tidak obeyktif. Tidak ada pedoman dasar yang universal dan yang otentik. Bersumber dari pribadi tokoh utamanya sehingga paham mistik itu tidak sama satu sama lain meski tentang hal yang sama. Sehingga pembahasan dan pengalaman ajarannya tidak mungkin dikendalikan atau dikontrol dalam arti yang semestinya. 

Aliran Kepercayaan dan Kebatinan
Aliran kebatinan/kepercayaan sendiri, yang merupakan hasil kreasi manusia yang meleburkan beberapa kepercayaan animisme, dinamisme, teknik-teknik yoga, mistik, tasawuf, filsafat dan psikologi – dalam perkembangan selanjutnya mereka memasukkan hipotesa ilmu kemoderenan sebagai penguat kepercayaannya
Aliran kebatina dalam sosio-kultural bangsa ini banyak di warnai oleh agama – agama Pra Islam yang muncul di nusantara.

Tujuannya:
Setidaknya ada 4 corak yang mewarnai aliran kebatinan di Indonesia. Dan” corak – corak inilah yang mempengaruhi tujuan penganutnya” . Menurut Prof. Muhammad Muhsin Djayadiguna S.H. ada 4 corak yang mewarnainya yaitu:
“ScienceOcculties” : Yaitu golongan yang hendak menggunakan kekuatan gaib untuk melayani berbagai kebutuhan manusia.
 “Mysticisme” Yaitu golongan yang berusaha menyatukan jiwa manusia dengan Tuhan selama manusia hidup agar dapat merasakan dan mengetahui hidup yang baqa sebelum mati.
“Metaphysic” Yaitu golongan yang berniat mengenal tuhan dan menembus alam Rahasia
“Paransangkaning Dumadi “ yaitu dari mana manusia ini dan kemana hidup itu akhirnya pergi.
“MoraleReligius“:Yaitu golongan yang berhasrat untuk menempuh budi luhur di dunia ini serta berusaha menciptakan masyarakat yang berdasarkan cinta kasih serta mengindahkan perintah Tuhan.
       Adapun konsep ketuhanan aliran kebatinan : Pada umumnya paham ketuhanan yang dianut oleh penganut alirankepercayaan dan kebatinan adalah panteisme. Pendasaran pada konsepsiketuhanan yang berwatak panteisme ini karena ajaran pokok dalam aliran kepercayaan adalah dimungkinkannya penyatuan atau Manunggaling Kawula lan Gusti yang merupakan puncak dari kesempurnaan hidup manusia.
Panteisme berpendapat bahwa alam sendiri itulah Tuhan. Pemikiran ini menyangkal kehadiran Yang Mahatinggi yang transenden dan yang bukan merupakan bagian dari alam. Tergantung akan pemahamannya, pandangan ini dapat dibandingkan sepadan dengan ateisme, deisme atau teisme.
Adapun konsep hubungan antara Tuhan dan alam/manusia: lebihbanyak menyatakan bahwa Tuhan itu telah memanifestasi menjadi keseluruhan alamdan manusia sendiri. Sedangkan atribusi ketuhanan yang dianut kebanyakan adalahTuhan yang bersifat non-Personal. KarenaTuhan itu sama dengan alam atau membabar menjadi alam semesta termasuk manusia di dalamnya.

Sufisme
Para ulama tasawuf berbeda pendapat tentang asal usul penggunaan kata tersebut. Ada yang berpendapat bahwa kata tersebut dinisbahkan kepada perkataan ahl al-suffah.
 “Kata shufi berhubungan dengan perkataan ahl al-shuffah, yaitu nama yang diberikan kepada sebahagian fakir miskin di kalangan orang-orang Islam pada masa awal Islam. Mereka adalah di antara orang-orang yang tidak punya rumah, maka mereka menempati gubuk yang telah dibangun oleh Rasulullah di luar masjid di Madinah.
Ada yang mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari kata shafa yang berarti suci.
 “Segolongan (ahli tasawuf) berkata: bahwa pemberian nama shufiyah karena kesucian hatinya dan kebersihan tingkah lakunya.” Dengan demikian mereka memiliki ciri khusus dalam aktifitas dan ibadah mereka yaitu atas dasar kesucian hati dan untuk pembersihan jiwa dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka adalah orang yang selalu memelihara dirinya dari berbuat dosa dan maksiat.Selanjutnya, ada yang berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata shaff yang berarti barisan.
Ada yang menisbahkan kata tersebut kepada kata ash-shufu yang berarti bulu atau wol kasar. Hal ini karena para sufi mengkhususkan diri mereka dengan memakai pakaian yang berasal dari bulu domba. Hanya kain wol yang dipakai kaum sufi adalah wol yang kasar bukan wol halus yang dipakai sekarang. Memakai wol pada saat itu adalah sebagai simbol kesederhanaan dan kemiskinan. Lawannya ialah memakai sutra, oleh orang-orang yang mewah hidupnya dikalangan pemerintahan. Kaum sufi sebagai golongan yang hidup sederhana dan dalam keadaan miskin, tetapi berhati suci dan mulia, menjauhi pemakaian sutra dan sebagai gantinya memakai wol kasar
Ada juga yang menisbahkan kata tersebut kepada bahasa yunani yaitu saufi. Istilah ini disamakan maknanya dengan kata hikmah yang berarti kebijaksanaan. Kata Sophos dalam bahasa Yunani menunjukkan kondisi jiwa yang senantiasa cenderung kepada kebenaran. Dan masih ada pendapat lain yang menghubungkan kata tasawuf tersebut dengan perkataan lain. Yang jelas dari segi bahasa atau asal usul penggunaan kata tersebut dapat dikatakan bahwa kata tasawuf berkonotasi pada kebijakan, kesucian hati dari godaan hawa nafsu, memutuskan ketergantungannya dengan kehidupan material yang dapat menggangu hubungan dengan tuhan, hidup dalam kezuhudan dan menenggelamkan diri dalam ibadah sehingga semakin dekat dengan-Nya.
Tujuan akhir ajaran tasawuf adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah ( taqarrub ila Allah) dalam rangka mencapai ridha-Nya, dengan mujahadah malalui latihan (riyadhah) spiritual dan pembersihan jiwa, atau hati (tazkiyah al-anfus). Jiwa dan tubuh bersifat saling mempengaruhi. Apabila jiwa sempurna dan suci, maka perbuatan tubuh akan baik. Begitu pula sebaliknya, dengan dihiasi akhlak yang diridhai oleh Allah.
Di kalangan para Sufi mendekatkan diri kepada Allah dapat ditempuh dengan berbagai maca cara melewati stasiun- stasiun atau maqamat-maqamat tertentu seperti zuhud, wara’, taubat, raja’, khauf, sabar dan seterusnya sampai pada puncaknya ke tingkat ma’rifat, bahkan sampai fana, bersatu dan menyatu dengan Tuhan ( ittihad) dan itulah kenikmatan tertinggi yang di alami dan dirasakan para Sufi yang tidak dapat dilukiskan dan di gambarkan dengan kata-kata ataupun simbol- simbol.Kendatipun pengalaman spiritual itu dicoba untuk dijelaskan dengan kata-kata atau apapun bentuknya, itu tidak akan sama persis dengan apa yang dialami oleh yang menceritakan ( Sufi
Adapun konsep ketuhanan bagi sufisme: Allah adalah dzat yang mutlak dan qadim sebab dia adalah pencipta  alam semesta. Ketika menjelaskan ayat “Fa ainama tuwallu fa tsamma wajhullah” ia katakan bahwa kemungkinan untuk memandang wajah Allah dimana-mana merupakan Union-Mistica. Para sufi menafsirfkan Wajah Allah adalah sebagai sifat-sifat Allah yaitu pengasih serta penyayang. Oleh

Adapun konsep hubungan antara Tuhan  dengan alam/manusia:
Ada tiga martabat perwujudan Tuhan. Diantaranya, martabat ahadiyah atau la ta’ayyun, martabat wahdah atau ta’ayyun awwal, martabat wahdiyyah atau ta’ayyun tsani.
  1. Martabat ahadiyah atau la ta’ayyun, yaitu alam pada saat itu masih merupakan hakikat gaib yang masih berada di dalam ilmu Tuhan.
  2. Martabat wahdah atau ta’ayyun awwal, yaitu sudah tercipta haqiqah Muhammadiyah yang potensial bagi terciptanya alam.
  3. Martabat wahdiyyah atau ta’ayyun tsani, yang disebut juga dengan a’yan tsabitah, dan dari sinilah alam tercipta.
Singkatnya, a’yan tsabitah yaitu potensi alam raya, yang menjadi sumber dari pola-pola dasar luar (al-a’yan al-kharijiyyah),ciptaan dalam bentuk konkretnya. Al-Sinkili menyimpulakan, meski a’yan al-kharijiyyah merupakan emanasi dari Wujud Mutlak, mereka berbeda dari Tuhan itu sendiri hubungan keduanya adalah seperti tangan dan bayangannya.
 “Wujud Allah dan Allah Esa” adalah bahwa alam ini merupakan sisi lahiriah dari hakikatnya yang batin, yaitu Allah, itulah yang dimaksud Ibn Arabi. Dan ungkapan itu pada hakikatnya adalah alam ini tidak ada, yang ada hanyalah Allah itu Esa. Jadi tidak bisa dikatakan, bahwa alam ini berbeda atau bersatu dengan Allah. Al-Raniri pun sama memandang alam ini merupakan tajalli Allah. Namun, tafsiran di atas membuatnya lepas dari label panteisme Ibn Arabi.
Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna di dunia. Sebab, manusia merupakan khalifah Allah yang sesuai dengan citra-Nya. Juga karena ia adalah mazhar (tempat kenyataan asma dan sifat Allah paling lengkap dan menyeluruh).
 Walaupun manusia sebagai tingkatan terakhir penjelmaan, tetapi ia adalah tingkat yang paling penting dan merupakan penjelmaan yang paling penuh dan sempurna. Menurutnya, ia adalah aliran atau pancaran langsung dari zat yang mutlak. Hal ini menunjukkan semacam kesatuan antara Allah dan manusia.
Berkaitan dengan menyatunya Tuhan dan alam, ia mengatakan” Sebagaimana lautan tidak bercerai dengan ombaknya, demikian juga Allah tidak bercerai dengan alam. Akan tetapi keberadaannya bukan di dalam alam, bukan pula di luar alam, ia bukan di atas dan bukan dibawah, bukan di kanan alam, bukan pula dikiri alam, bukan dihadapan bukan pula di belakang alam. Ia tidak terpisahkan dan tidak pula bersatu dengan alam, tidak dekat dan tidak jauh. Ada juga yang mengibaratkan dengan buah kelapa dengan tempurungnya.

Adapun sebab orang menganut paham mistisisme
  1. Kurang puas yang berlebihan, bagi orang-orang yang hidup beragama secara bersungguh-sungguh merasa kurang puas dengan hidup menghamba kepada tuhan menurut ajaran agamanya yang ada saja.
  2. Rasa kecewa yang berlebihan, Orang yang hidupnya kurang bersungguh-sungguh dalam beragama atau orang yang tidak beragama merasa kecewa sekali melihat hasil usaha umat manusia di bidang science dan teknologi yang semula diandalkan dan diagungkan ternyata tidak dapat mendatangkan ketertiban, ketentraman dan kebahagiaan hidup. Malah mendatangkan hal-hal yang sebaliknya. Mereka 'lari' dari kehidupan modern menuju ke kehidupan yang serba subyektif, abstrak dan spekulatif sesuai dengan kedudukan sosialnya.
  3. Mencari hakekat yang sebenarnya, orang yang ingin mencari hakekat hidup sebenarnya juga ada yang terjebak bahwa kebenaran hanya akan didapat dari pengalaman mistiknya.
Di antara mereka masih ada yang berusaha merasionalkan ajaran paham mistik yang dianutnya, dan ada pula yang tegas-tegas lepas sama sekali dari tuntutan kemajuan zaman ini.
Asbab Thulu’ Kepercayaan/Kebatinan
Kondisi Indonesia sendiri yang masih terdapat kalangan orang-orang Jawa abangan, agama suku pedalaman yang memiliki latar belakang tradisi kebudayaan spiritual nenek moyang yang masih kuat dipengaruhi oleh spiritualitas Hindu-Budha atau Hindu-Jawa. Dalam kasus aliran kebatinan ini, mereka yang Jawa abangan ini yang kemudian menganut kepercayaan kejawen atau aliran kebatinan tertentu yang sesuai dengan pandangan hidupnya.
Salah satu alasan munculnya aliran kebatinan dipicu oleh dampak negatif dari modernisme yang menggerus nilai-nilai moral, estetika, sehingga membawa manusia jatuh pada jurang materialisme. Karena itu, aliran kebatinan hadir sebagai solusinya.
Masih banyak lagi faktor lainnya yang juga tak kalah pentingnya sebagai pemicu kenapa orang menganut aliran kebatinan, diantaranyaPertama, Ajaran kebatinan dipandang lebih sederhana dan mudah dipahami karena menggunakan bahasa daerah, dibandingkan dengan ajaran agama lainnya. Kedua, Amalan kebatinan dianggap tidak terlalu berat dibandingkan dengan amalan-amalan yang diajarkan agama lainnya. Amalan kebatinan lebih menitikberatkan penghayatan batin. Ketiga, di kalangan kebatinan ada yang dipercayai memiliki ilmu gaib dan melayani pengobatan penyakit secara gaib yang ternyata digemari oleh masyarakat. Keempat, Hak hidup dan kehidupan aliran kebatinan atau kepercayaan dilindungi oleh pemerintah semenjak ketetapan MPR RI tahun 1973 dan dikukuhkan kembali oleh Ketetapan MPR RI tahun 1978.

Asbab Thulu’ Sufisme
Pada awal perkembangan tasawuf, sekitar abad 1 dan ke-2 H, tasawuf ditandai oleh menonjolnya sifat zuhud. Pada fase inilah muncul zahid muslimyang termasyur di kota- kota seperti Madinah, Kufah, Basra, Balk, dan juga kawasan Mesir. Mereka merupakan gerakan yang menginginkan agar kaum muslim hidup secara sederhana, sebagaimana dicontohkan dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dimulai dari masa awal perkembangan pada akhir abad ke-1 H sampai kurang lebih abad ke-2H. Gerakan zuhud pertama kali muncul di Madinah, Kuffah dan Basrah kemudian menyebar ke Khurasan dan Mesir. Awalnya merupakan respon terhadap gaya hidup mewah para pembesar negara akhibat dari perolehan kekayaan melimpah setelah Islam mengalami perluasan wilayah ke Suriah, Mesir, Mesopotamia dan Persia. Dan dibawah ini karakteristik serta  tokoh- tokohnya menurut tempat perkembangannya:
Para ahli sejarah tasawuf menilai bahwa timbulnya gerakan tersebut tidak terlepas dari kondisi kehidupan masyarakat-terutama di kalangan istana Bani Umayyah- yang oleh sahabat dinilai telah menyimpang terlalu jauh dari kehidupan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat besar yang saleh dan sederhana.
Di Madinah, Sa’id bin Musayyab (w. 91 H), murid dan menantu Abu Hurairah ra (salah seorang ahl as-suffah), mencontohkan hidup zuhud kepada para pengikutnya. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa suatu kali ia ditawari sejumlah tiga puluh lima ribu dirham uang perak. Ia menolaknya dan beliau memandang para penguasa Bani Umayyah-kata Ibnu Khallikan, penulis biografi tokoh-tokoh Islam klasik- sebagai tiran, sehingga tidak mau membaiat Abdul Malik bin Marwan ketika naik tahta kerajaan.
Menurut catatan sejarah dari sahabat Nabi yang pertama sekali melembagakan tasawuf dengan cara mendirikan madrasah tasawuf adalah Huzaifah bin Al-Yamani, sedangkan Imam Sufi yang pertama dalam sejarah Islam adalah Hasan Al-Basri (21-110 H) seorang ulama tabi’in, murid pertama dari Huzaifah Al-Yamani beliau dianggap tokoh sentral dan yang paling pertama meletakkan dasar metodologi ilmu tasawuf. Hasan Al-Basri adalah orang yang pertama memperaktekkan, berbicara menguraikan maksud tasawuf sebagai pembuka jalan generasi berikutnya.
Tasawuf sebagai sebuah disiplin keilmuan Islam, baru muncul pada abad ke II H/XIII M, atau paling tidak dalam bentuk yang lebih jelas pada abad ke III H/X M. Namun, sebagai pengalaman spiritual, tasawuf telah ada sejak adanya manusia, Usianya setua manusia. Semua nabi dan Rasul adalah Sufi, yang tidak lain adalah manusia sempurna ( insan kamil). Nabi Muhammad adalah Sufi terbesar karena beliau adalah manusia sempurna yang paling sempurna.

Perbandingan antara mistisisme dan ascetisme dalam aspek tujuan, pemikiran dan pengalaman

Asketikisme atau asketisme berasal dari bahasa Yunani: áskēsis, artinya latihan atau praktik. Bisa juga diartikan dengan pelaksanaan, lalu ism artinya ajaran atau paham. Itu berarti Asketisme  merupakan paham yang menjelaskan gaya hidup yang ditandai dengan berpantang dari berbagai macam kesenangan duniawi atau menarik diri dari dunia untuk menjalani kehidupan”bertapa”, ini juga menjadi bentuk-bentuk paraktik disiplin untuk mencapai tujuan religius dan spiritual.
           Asketisme dalam istilah Arab (Islam) dikenal dengan “zuhud”, secara etimologi berarti ragaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah.
      Sedangkan zuhud secara terminologi adalah hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana dia tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya.
Itu tadi penjelasan mengenai pengertian asketisme atau zuhud. Berikutnya jika melihat sejarah mengenai pertumbuhan serta perkembangan tasawuf dalam hal ini lebih dikhususkan kepada tahap zuhud atau asketisme, ada beberapa tahapan. Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani dalam bukunya yang berjudul “Madkhal ila al-Tashawwuf al-Islam” yang diterjemahkan oleh Ahmad Rofi’ ‘Utsmani dengan judul “Sufi dari Zaman ke Zaman” menerangkan bahwa sejarah perkembangan tasawuf terbagi dalam beberapa tahapan. Tahapan-tahapan  tersebut adalah sebagai berikut:
Dimulai dari masa awal perkembangan pada akhir abad ke-1 H sampai kurang lebih abad ke-2H. Gerakan zuhud pertama kali muncul di Madinah, Kuffah dan Basrah kemudian menyebar ke Khurasan dan Mesir. Awalnya merupakan respon terhadap gaya hidup mewah para pembesar negara akhibat dari perolehan kekayaan melimpah setelah Islam mengalami perluasan wilayah ke Suriah, Mesir, Mesopotamia dan Persia. Dan dibawah ini karakteristik serta  tokoh- tokohnya menurut tempat perkembangannya:
Madinah: Aliran Madinah lebih cenderung pada pemikiran angkatan pertama kaum muslimin (shalaf) dan berpegang teguh pada asketisisme serta kerendah hatian Nabi SAW.aliran ini juga tidak begitu terpengaruh perubahan-perubahan sosial yang berlangsung pada masa dinasti Ummayah dan prinsipnya tidak berubah sekalipun mendapat tekanan dari penguasa bani Ummayah. Sehingga aliran ini tetap konsisten pada ajaran-ajaran Islam. dari kalangan sahabat Nabi Muhammad SAW yaitu Abu Ubaidah al-Jarrah, Abu Dzar Al-Ghiffari, Salman Al Farisi, serta Abdullan ibn Mas’ud. Dari kalangan Tabi’in: Said ibn Musayyab, dan Salim ibn Abdullah
Basrah : Corak yang menonjol dari Aliran Basrah adalah asketisisme dan rasa takut yang berlebih-lebihan. Mereka berlebih-lebihan dalam asketisisme, kerendahhatian, dan ibadah mereka daripada apa yang diketahui tentang para sahabat. Diantara tokonya: Hasan Al Bashri, Malik ibn Dinar, Fadhl Al Raqqasyi, Kahmas ibn Al hadan Al Qais, Shalih al Murri dan Abut Wahid ibn Zaid
Kuffah: Aliran Kuffah bercorak idealis, menyukai hal-hal aneh dalam nahwu, hal-hal imagi dalam puisi, dan harfiah dalam hal Hadits. Dalam aqidah, mereka cenderung pada aliran Syi’ah dan Raja’iyyah. Tokohnya: Al Rabi ibn Khasim, Said ibn Jubair, Thawus ibn Kisan, Sufyan Al Tsauri, Al Laits ibn Said, Sufyan ibn Unaiyah
Mesir: Aliran asketisisme di Mesir ini sama dengan aliran asketisisme di Madinah. Aliran Mesir menjadikan Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai dasar-dasar dalam bersikap Zuhud. Tokohnya:Salim ibn Altar al Tajihi, Abdurrahman Al Hujairah, Abdullah ibn Umar. Dan pada masa- masa terakhir tahap ini muncul tokoh- tokoh sufi sejati. Diantaranya, Ibrahim ibn Adham, Fudhail ibn Iyadh, Dawud Al Tha’i dan Rabi’ah Al Adawiyyah.
           Menurut Abu al-Wafa’ aliran asketisme abad pertama dan kedua hijriyah dapat disimpulkan dengan beberapa karekteristik berikut:
1.      Asketisisme ini berdasarkan ide menjauhi hal-hal duniawi, demi meraih pahala akhirat, dan memelihara dari azab neraka. ide ini berakar pada ajaran-ajaran al-Qur’an dan sunnah, dan terkena dampak berbagai kondisi sosio-politik yang berkembang pada masyarakat Islam kala itu.
2.      Asketisisme ini bercorak praktis. dan .para pendirinya tidak menaruh perhatian untuk menyusun prinsip-prinsip teoritis atas asketisismenya tersebut. Sarana-sarana praktisnya merupakan hidup dalam ketenangan dan kesederhanaan secara penuh, sedikit makan maupun minum, banyak beribadah mengingat Allah, berlebih-lebihan dalam merasa berdosa. tunduk mutlak pada kehendak Allah, dan berserah diri kepada-Nya. Dengan begitu. asketisisme ini mengarah pada tujuan moral.
3.      Motivasi asketisisme, yakni rasa yang muncul dan landasan amal keagamaan secara sungguh-sungguh. Sernentara pada akhir abad kedua hijriah. di tangan Rabi’ah al-Adawivvah. Muncul motivasi cinta kepada Allah. yang bebas dan rasa takut terhadap azabNva maupun rasa harap terhadap pahala-Nya. Hal ini mencerminkan penyucian diri dan abstraksi dalam hubungan antara manusia dengan Allah.
4.      Asketisisme sebagai asketis yang terakhir, khususnya di Khurasan, dan pada Rabiah al Adawiyyah ditandai kedalaman rnembuat analisa, yang bisa dipandang sebagai pandahuluan tasawuf. kelompok ini sekalipun dekat dengan tasawuf, tidak dipandarng sebagai para sufi dalam pengertiannya yang terinci. Mereka lebih tepat dipandang sehagai cikal bakal para sufi abad - abad ketiga dan keempat Hijriyah.
Dari pemaparan diatas mengenai asketisme atau lebih kita kenal dengan istilah zuhud bisa disimpulkan bahwa asketisme sendiri merupakan cikal bakal dari tasawuf. Bisa dibahasakan pula bahwa asketisme merupakan “sufisme klasik” dan tasawuf atau mistisisme adalah “sufisme modern/kontemporer”. Selanjutnya akan dibahas mengenai tasawuf, diistilahkan pula dengan mistisisme.

Mistisisme (Definisi, Sejarah serta Karakteristik)
            Kata mistisisme berasal dari bahasa Yunani “Meyein” yang artinya menutup mata. Kata mistik biasanya digunakan untuk menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan tentang misteri. Dalam arti luas, mistik dapat didefinisikan sebagai kesadaran terhadap kenyataan tunggal, yang mungkin disebut kearifan, cahaya, cinta atau nihil.
Mistisisme dalam Islam disebut dengan tasawuf, dan oleh para orientalis Barat disebut dengan sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis khusus dipakai dalam mistisisme Islam, dan tidak dipakai dalam agama-agama lainnya.
Tasawuf atau mistisisme sebagaimana dengan mistisisme diluar agama Islam mempunyai tujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan.
Berkembangnya tasawuf tersebut tidak lepas dari motivasi atau desakan oleh keadaan saat itu, terutama pada abad 9 ajaran tasawuf semakin menyebar luas kesetiap penjuru. Dimana pada masa klassik 750-1250 M umat islam telah meraih kejayaan yang sangat luar biasa, tapi moral dan akhlak mereka sangat rusak bahkan diantara mereka telah lalai tugasnya sebagai khalifah Allah. Dengan krisis moral itulah sebagian umat islam menjauhi dari yang menduniawi dan mengkonsentrasikan terhadap pendekatan kepada Allah karena meditasi sebagai jalan yang tepat untuk memperbaiki moral mereka. Tapi tindakan mereka telah melapaui batas, mereka asyik meditasi dan tidak menghiraukan kehidupan soasial, ilmu pengetahuan, dan lain sehingga dari tindakan para sufi tersebut tasawuf dianggap sebab penyebab hancurnya peradaban islam.
Pada abad pertama dan kedua hijriah, ajaran mistisisne cenderung bersifat  asketik (zuhud). Sikap ini banyak dipandang sebagai pengantar kemunculan tasawuf. Pada fase ini dari kalangan muslim yang lebih memusatkan dirinya pada ibadah dan tidak mementingkan kehidupan dunia.
Pada abad pertama hijriyah ajaran tasawuf dipraktekkan oleh para sahabat, kemudian untuk  abad kedua hijriyah dipraktekan oleh para tabi’in. Tokoh yang sangat popular sebagai seorang Asketik pada masa Tabi’in adalah Hasan Basri (624-728 M)  dengan ajaran  Raja dan Khauf untuk mendekatkan diri kepada Allah, Rabi’atul adawiyah (713-801 M) konsep ajarannya menggunakan pendekatan Mahabbah.
Dalam segi ajarannyapun pada abad pertama dan kedua ini masih murni menganut konsep-konsep kehidupan rasullah yang bersandar kepada al-Qur’an dan Al-Hadist, memang sewajarnya mempunyai pandangan demikian karena umat islam pada waktu itu tidak berinteraksi dengan peradaban-peradaban dengan negara-negara lain, sehingga ajaran tasawuf masih murni.
Mulai abad ke-3 dan ke-4 H terdapat dua kecenderungan para tokoh, sehingga mengakibatkan ajaran mistisime terbagi menjadi 2 macam pendekatan, yaitu:
a.         Cenderung pada kajian tasawuf yang bersifat akhlak yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah Shirah Nabawaiyah  (Tasawuf Sunni). Tasawwuf sunni ialah aliran tasaawuf  yang berusaha memadukan asapek hakekat dan syari’at,  yang senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan diri kepada Allah, dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh terhadap ajaran Al-Qur’an, Sunnah dan Shirah para sahabat. Dalam kehidupan sehari-hari para pengamal tasawwuf ini berusaha untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat keduniawian, jabatan, dan menjauhi hal-hal yang  dapat mengganggu kekhusua’an ibadahnya.
b.                       Cenderung pada kajian yang bersifat filsafat metafisika (Tasawuf Falsafi).  Secara garis besar tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional. Tasawuf ini menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya yang berasal dari berbagai macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya. Rata-rata para tokoh tasawuf falsafi dipengaruhi oleh pemikiran yunani, india, dan Persia yang mengakibatkan mistisisme dalam islam bersifat rasio.
Tasawuf  Falsafi yang mencapai puncak kejayaannya di tangan Al-Hallaj. Baru setelah al-Hallaj meninggal pada abad ke-5 H,  Tasawuf Sunni mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat. Abad ke-5 H boleh dikatakan sebagai masa kemunduran Tasawuf  Falsafi dan berjayanya Tasawuf Sunni, dengan tokoh-tokohnyaya itu Abu Qasim abdul Karim al-Qusyairi (376-466 H), Abu Ismail Abdullah binMuhammad al-Ansari al-Harawi (396-481 H) dan al-Ghazali (450-478 H).
            Setelah fase tasawuf falsafi, selanjutnya fase perkembangan tarekat (Abad ke 7H hingga seterusnya). Meskipun tarekat telah dikenal sejak jauh sebelumnva. seperti tarekat Junaidiyvah yang didirikan oleh Abu Al Qasim Al Juanid Al Baghdadi (w. 297 H) atau Nuriyyah yang didirikan oleh Abu Hasan lbn Muhammad Nuri (w. 295).baru pada masa-masa ini tarekat berkembang dengan pesat. Seperti tarekat Qadariyyah ( mengkaitkan tasawuf dengan AI-Qur’an dan sunnah) yang didirikan oleh Abdul Qadir Al Jilani (w. 561 H) di jilan ( Wilayah Iran sekarang ). Tarekat Rifa’iyyah (meliputi tentang zuhud, ma’rifat dan cinta) didirikan oleh Ahmad Rifai (w. 578 H) dan tarek Suhrawadiyyah ( mengenai aturan-aturan  tarekat) yang didirikan oleh Abu Najib Al Suhrawardi (w. 563 H). Tarekat  Naqsabandiyah yang memiliki pengikut paling luas dan tarekat ini sekarang telah memiliki banyak variasi
Secara umum, tujuan terpenting dari sufi adalah agar berada sedekat mungkin dengan Allah. Akan tetapi apabila di perhatikan karakteristik tasawuf secara umum, terlihat adanya tiga sasaran “antara” dari tasawuf yaitu; pertama, tasawuf yang bertujuan untuk pembinaan aspek moral. Kedua, tasawuf yang bertujuan untuk ma’rifatullah melalui penyingkapan langsung atau metode “Al-kasyf al-hijab”. Ketiga, tasawuf yang bertujuan untuk membahas bagaimana system pengenalan dan pendekatan diri kepada Allah secara mistis filosofis, pengkajian garis hubungan antara Tuhan dengan mahluk, terutama hubungan manusia dengan Tuhan.
Dari uraian singkat tentang tujuan asketisme serta mistisisme ini terlihat adanya keragaman dalam tujuan itu. Namun dapat di rumuskan  bahwa, tujuan akhir dari sufisme adalah etika murni atau psikologi murni, dan atau keduanya secara bersamaan yaitu : (a) penyerahan diri dari sepenuhnya kepada kehendak mutlak Tuhan karena Dialah penggerak utama dari seluruh alam ini; (b) penanggala secara total semua keinginan pribadi dan melepas diri dari sifat-sifat jelek yang berkenaan dari kehidupan duniawi-teresterial-yang di istilahkan sebagai “fana al-ma’asi wa baqa al-ta’ah”;dan (c) peniadaan kesadaran terhadap “diri sendiri” serta pemusatan diri pada perenungan terhadap Tuhan semata, tiada yang di cari kecuali Dia.

(DAS)




No comments:

Post a Comment