Mata Kuliah:
Mistisisme
Fakultas Ilmu
Agama dan Dakwah
PRODI:
Perbandingan Agama
1.
Perbandingan antara mistisisme, dengan aliran kepercayaan/kebatinan
dan sufisme tentang: Pengertian, tujuan, konsep ketuhanan,hubungan antara Tuhan
dengan alam/manusia
Mistisisme
Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig),
tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau terselubung dalam
kekelaman (in het duister gehuld).Mistisisme juga dapat disebut sebagai manunggaling
kawulo-Gusti.
Mistik menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti subsistem yang ada
dalam semua agama dan system religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan
merasakan emosi bersatu dalam Tuhan. Mistik juga berarti
tasawuf dan suluk. Sedangkan mistis berarti mistik. Dalam artinya yang paling
luas, mistik dapat didefinisikan sebagai kesadaran terhadap kenyataan
tunggal-yang mungkin disebut kearifan, cahaya, cinta atau nihil.
Tujuan dari mistisisme adalah memperoleh hubungan langsung secara sadar
dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang barada dihadirat Tuhan.
Adapun konsep
ketuhanan, hubungan antara Tuhan dengan alam/manusia secara garis besarnya
adalah sebagai berikut:
· Kepercayaan
tentang adanya kontak antara manusia bumi dan tuhan
· Kepercayaan
tentang persatuan mesra ruh manusia dengan Tuhan
· Kepercayaan
kepada suatu kemungkinan terjadinya persatuan langsung manusia dengan Dzat
Ketuhanan dan perjuangan bergairah kepada persatuan itu
· Kepercayaan
kepada hal-hal yang rahasia dan hal-hal yang tersembunyi
· Kecenderungan
hati kepada kepercayaan yang menakjubkan atau kepada ilmu yang rahasi
Selain serba
mistis, ajarannya juga serba subyektif tidak obeyktif. Tidak ada pedoman dasar
yang universal dan yang otentik. Bersumber dari pribadi tokoh utamanya sehingga
paham mistik itu tidak sama satu sama lain meski tentang hal yang sama.
Sehingga pembahasan dan pengalaman ajarannya tidak mungkin dikendalikan atau
dikontrol dalam arti yang semestinya. Aliran Kepercayaan dan Kebatinan
Aliran kebatinan/kepercayaan sendiri, yang merupakan hasil kreasi manusia
yang meleburkan beberapa kepercayaan animisme, dinamisme, teknik-teknik yoga,
mistik, tasawuf, filsafat dan psikologi – dalam perkembangan selanjutnya mereka
memasukkan hipotesa ilmu kemoderenan sebagai penguat kepercayaannya
Aliran kebatina dalam sosio-kultural bangsa ini banyak di warnai oleh agama
– agama Pra Islam yang muncul di nusantara.
Tujuannya:
Setidaknya ada 4 corak yang mewarnai aliran kebatinan di Indonesia. Dan”
corak – corak inilah yang mempengaruhi tujuan penganutnya” . Menurut Prof.
Muhammad Muhsin Djayadiguna S.H. ada 4 corak yang mewarnainya yaitu:
“ScienceOcculties”
: Yaitu golongan yang hendak menggunakan kekuatan gaib untuk melayani berbagai
kebutuhan manusia.
“Mysticisme” Yaitu golongan yang
berusaha menyatukan jiwa manusia dengan Tuhan selama manusia hidup agar dapat
merasakan dan mengetahui hidup yang baqa sebelum mati.
“Metaphysic” Yaitu
golongan yang berniat mengenal tuhan dan menembus alam Rahasia
“Paransangkaning
Dumadi “ yaitu dari mana manusia ini dan kemana hidup itu akhirnya pergi.
“MoraleReligius“:Yaitu
golongan yang berhasrat untuk menempuh budi luhur di dunia ini serta berusaha
menciptakan masyarakat yang berdasarkan cinta kasih serta mengindahkan perintah
Tuhan.
Adapun konsep
ketuhanan aliran kebatinan : Pada umumnya paham ketuhanan yang dianut oleh
penganut alirankepercayaan dan kebatinan adalah panteisme. Pendasaran pada
konsepsiketuhanan yang berwatak panteisme ini karena ajaran pokok dalam aliran kepercayaan
adalah dimungkinkannya penyatuan atau Manunggaling Kawula lan Gusti yang
merupakan puncak dari kesempurnaan hidup manusia.
Panteisme berpendapat bahwa alam sendiri itulah Tuhan. Pemikiran ini menyangkal kehadiran Yang Mahatinggi
yang transenden dan yang bukan merupakan bagian dari alam. Tergantung akan
pemahamannya, pandangan ini dapat dibandingkan sepadan dengan ateisme, deisme atau teisme.
Adapun konsep
hubungan antara Tuhan dan alam/manusia: lebihbanyak
menyatakan bahwa Tuhan itu telah memanifestasi menjadi keseluruhan alamdan
manusia sendiri. Sedangkan atribusi ketuhanan yang dianut kebanyakan
adalahTuhan yang bersifat non-Personal. KarenaTuhan itu sama dengan alam
atau membabar menjadi alam semesta termasuk manusia di dalamnya.
Sufisme
Para ulama tasawuf berbeda pendapat tentang asal usul penggunaan kata
tersebut. Ada yang berpendapat bahwa kata tersebut dinisbahkan kepada perkataan
ahl al-suffah.
“Kata shufi berhubungan dengan
perkataan ahl al-shuffah, yaitu nama yang diberikan kepada sebahagian
fakir miskin di kalangan orang-orang Islam pada masa awal Islam. Mereka adalah
di antara orang-orang yang tidak punya rumah, maka mereka menempati gubuk yang
telah dibangun oleh Rasulullah di luar masjid di Madinah.
Ada yang mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari kata shafa yang
berarti suci.
“Segolongan (ahli tasawuf) berkata:
bahwa pemberian nama shufiyah karena kesucian hatinya dan kebersihan tingkah
lakunya.” Dengan demikian mereka memiliki ciri khusus dalam aktifitas dan
ibadah mereka yaitu atas dasar kesucian hati dan untuk pembersihan jiwa dalam
rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka adalah orang yang selalu
memelihara dirinya dari berbuat dosa dan maksiat.Selanjutnya, ada yang
berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata shaff yang berarti barisan.
Ada yang menisbahkan kata tersebut kepada kata ash-shufu yang
berarti bulu atau wol kasar. Hal ini karena para sufi mengkhususkan diri mereka
dengan memakai pakaian yang berasal dari bulu domba. Hanya kain wol yang
dipakai kaum sufi adalah wol yang kasar bukan wol halus yang dipakai sekarang.
Memakai wol pada saat itu adalah sebagai simbol kesederhanaan dan kemiskinan.
Lawannya ialah memakai sutra, oleh orang-orang yang mewah hidupnya dikalangan
pemerintahan. Kaum sufi sebagai golongan yang hidup sederhana dan dalam keadaan
miskin, tetapi berhati suci dan mulia, menjauhi pemakaian sutra dan sebagai
gantinya memakai wol kasar
Ada juga yang menisbahkan kata tersebut kepada bahasa yunani yaitu saufi.
Istilah ini disamakan maknanya dengan kata hikmah yang berarti kebijaksanaan.
Kata Sophos dalam bahasa Yunani menunjukkan kondisi jiwa yang senantiasa
cenderung kepada kebenaran. Dan masih ada pendapat lain yang menghubungkan kata
tasawuf tersebut dengan perkataan lain. Yang jelas dari segi bahasa atau asal
usul penggunaan kata tersebut dapat dikatakan bahwa kata tasawuf berkonotasi
pada kebijakan, kesucian hati dari godaan hawa nafsu, memutuskan
ketergantungannya dengan kehidupan material yang dapat menggangu hubungan
dengan tuhan, hidup dalam kezuhudan dan menenggelamkan diri dalam ibadah
sehingga semakin dekat dengan-Nya.
Tujuan akhir ajaran tasawuf adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah (
taqarrub ila Allah) dalam rangka mencapai ridha-Nya, dengan mujahadah malalui
latihan (riyadhah) spiritual dan pembersihan jiwa, atau hati (tazkiyah
al-anfus). Jiwa dan tubuh bersifat saling mempengaruhi. Apabila jiwa sempurna
dan suci, maka perbuatan tubuh akan baik. Begitu pula sebaliknya, dengan
dihiasi akhlak yang diridhai oleh Allah.
Di kalangan para Sufi mendekatkan diri kepada Allah dapat ditempuh
dengan berbagai maca cara melewati stasiun- stasiun atau maqamat-maqamat
tertentu seperti zuhud, wara’, taubat, raja’, khauf, sabar dan seterusnya
sampai pada puncaknya ke tingkat ma’rifat, bahkan sampai fana, bersatu dan
menyatu dengan Tuhan ( ittihad) dan itulah kenikmatan tertinggi yang di alami
dan dirasakan para Sufi yang tidak dapat dilukiskan dan di gambarkan dengan
kata-kata ataupun simbol- simbol.Kendatipun pengalaman spiritual itu dicoba
untuk dijelaskan dengan kata-kata atau apapun bentuknya, itu tidak akan sama
persis dengan apa yang dialami oleh yang menceritakan ( Sufi
Adapun konsep ketuhanan bagi sufisme: Allah adalah
dzat yang mutlak dan qadim sebab dia adalah pencipta alam semesta. Ketika menjelaskan ayat “Fa
ainama tuwallu fa tsamma wajhullah” ia katakan bahwa kemungkinan untuk
memandang wajah Allah dimana-mana merupakan Union-Mistica. Para sufi
menafsirfkan Wajah Allah adalah sebagai sifat-sifat Allah yaitu pengasih serta
penyayang. Oleh
Adapun konsep hubungan antara Tuhan dengan alam/manusia:
Ada tiga martabat perwujudan Tuhan. Diantaranya, martabat ahadiyah
atau la ta’ayyun, martabat wahdah atau ta’ayyun awwal,
martabat wahdiyyah atau ta’ayyun tsani.
- Martabat ahadiyah atau la ta’ayyun, yaitu alam pada saat itu masih merupakan hakikat gaib yang masih berada di dalam ilmu Tuhan.
- Martabat wahdah atau ta’ayyun awwal, yaitu sudah tercipta haqiqah Muhammadiyah yang potensial bagi terciptanya alam.
- Martabat wahdiyyah atau ta’ayyun tsani, yang disebut juga dengan a’yan tsabitah, dan dari sinilah alam tercipta.
Singkatnya, a’yan tsabitah yaitu potensi alam raya, yang menjadi
sumber dari pola-pola dasar luar (al-a’yan al-kharijiyyah),ciptaan dalam
bentuk konkretnya. Al-Sinkili menyimpulakan, meski a’yan al-kharijiyyah merupakan
emanasi dari Wujud Mutlak, mereka berbeda dari Tuhan itu sendiri hubungan
keduanya adalah seperti tangan dan bayangannya.
“Wujud Allah dan Allah Esa” adalah
bahwa alam ini merupakan sisi lahiriah dari hakikatnya yang batin, yaitu Allah,
itulah yang dimaksud Ibn Arabi. Dan ungkapan itu pada hakikatnya adalah alam
ini tidak ada, yang ada hanyalah Allah itu Esa. Jadi tidak bisa dikatakan,
bahwa alam ini berbeda atau bersatu dengan Allah. Al-Raniri pun sama memandang
alam ini merupakan tajalli Allah. Namun, tafsiran di atas membuatnya
lepas dari label panteisme Ibn Arabi.
Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna di dunia. Sebab, manusia
merupakan khalifah Allah yang sesuai dengan citra-Nya. Juga karena ia adalah mazhar
(tempat kenyataan asma dan sifat Allah paling lengkap dan menyeluruh).
Walaupun manusia sebagai tingkatan terakhir
penjelmaan, tetapi ia adalah tingkat yang paling penting dan merupakan
penjelmaan yang paling penuh dan sempurna. Menurutnya, ia adalah aliran atau
pancaran langsung dari zat yang mutlak. Hal ini menunjukkan semacam kesatuan
antara Allah dan manusia.
Berkaitan
dengan menyatunya Tuhan dan alam, ia mengatakan” Sebagaimana lautan tidak
bercerai dengan ombaknya, demikian juga Allah tidak bercerai dengan alam. Akan
tetapi keberadaannya bukan di dalam alam, bukan pula di luar alam, ia bukan di atas
dan bukan dibawah, bukan di kanan alam, bukan pula dikiri alam, bukan dihadapan
bukan pula di belakang alam. Ia tidak terpisahkan dan tidak pula bersatu dengan
alam, tidak dekat dan tidak jauh. Ada juga yang mengibaratkan dengan buah
kelapa dengan tempurungnya.
Adapun sebab
orang menganut paham mistisisme
- Kurang puas yang berlebihan, bagi orang-orang yang hidup beragama secara bersungguh-sungguh merasa kurang puas dengan hidup menghamba kepada tuhan menurut ajaran agamanya yang ada saja.
- Rasa kecewa yang berlebihan, Orang yang hidupnya kurang bersungguh-sungguh dalam beragama atau orang yang tidak beragama merasa kecewa sekali melihat hasil usaha umat manusia di bidang science dan teknologi yang semula diandalkan dan diagungkan ternyata tidak dapat mendatangkan ketertiban, ketentraman dan kebahagiaan hidup. Malah mendatangkan hal-hal yang sebaliknya. Mereka 'lari' dari kehidupan modern menuju ke kehidupan yang serba subyektif, abstrak dan spekulatif sesuai dengan kedudukan sosialnya.
- Mencari hakekat yang sebenarnya, orang yang ingin mencari hakekat hidup sebenarnya juga ada yang terjebak bahwa kebenaran hanya akan didapat dari pengalaman mistiknya.
Di antara
mereka masih ada yang berusaha merasionalkan ajaran paham mistik yang
dianutnya, dan ada pula yang tegas-tegas lepas sama sekali dari tuntutan
kemajuan zaman ini.
Asbab Thulu’ Kepercayaan/Kebatinan
Kondisi Indonesia sendiri yang
masih terdapat kalangan orang-orang Jawa abangan, agama suku pedalaman yang
memiliki latar belakang tradisi kebudayaan spiritual nenek moyang yang masih
kuat dipengaruhi oleh spiritualitas Hindu-Budha atau Hindu-Jawa. Dalam kasus
aliran kebatinan ini, mereka yang Jawa abangan ini yang kemudian menganut
kepercayaan kejawen atau aliran kebatinan tertentu yang sesuai dengan pandangan
hidupnya.
Salah satu alasan munculnya aliran
kebatinan dipicu oleh dampak negatif dari modernisme yang menggerus nilai-nilai
moral, estetika, sehingga membawa manusia jatuh pada jurang materialisme.
Karena itu, aliran kebatinan hadir sebagai solusinya.
Masih banyak lagi faktor lainnya yang juga tak kalah
pentingnya sebagai pemicu kenapa orang menganut aliran kebatinan, diantaranyaPertama,
Ajaran kebatinan dipandang lebih sederhana dan mudah dipahami karena
menggunakan bahasa daerah, dibandingkan dengan ajaran agama lainnya. Kedua,
Amalan kebatinan dianggap tidak terlalu berat dibandingkan dengan amalan-amalan
yang diajarkan agama lainnya. Amalan kebatinan lebih menitikberatkan
penghayatan batin. Ketiga, di kalangan kebatinan ada yang dipercayai
memiliki ilmu gaib dan melayani pengobatan penyakit secara gaib yang ternyata
digemari oleh masyarakat. Keempat, Hak hidup dan kehidupan aliran
kebatinan atau kepercayaan dilindungi oleh pemerintah semenjak ketetapan MPR RI
tahun 1973 dan dikukuhkan kembali oleh Ketetapan MPR RI tahun 1978.
Asbab Thulu’ Sufisme
Pada awal perkembangan tasawuf, sekitar abad 1 dan
ke-2 H, tasawuf ditandai oleh menonjolnya sifat zuhud. Pada fase inilah muncul
zahid muslimyang termasyur di kota- kota seperti Madinah, Kufah, Basra, Balk,
dan juga kawasan Mesir. Mereka merupakan gerakan yang menginginkan agar kaum
muslim hidup secara sederhana, sebagaimana dicontohkan dalam kehidupan
Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dimulai dari masa awal perkembangan pada akhir abad ke-1 H
sampai kurang lebih abad ke-2H. Gerakan zuhud pertama kali muncul di Madinah,
Kuffah dan Basrah kemudian menyebar ke Khurasan dan Mesir. Awalnya merupakan
respon terhadap gaya hidup mewah para pembesar negara akhibat dari perolehan kekayaan
melimpah setelah Islam mengalami perluasan wilayah ke Suriah, Mesir,
Mesopotamia dan Persia. Dan dibawah ini karakteristik serta tokoh- tokohnya menurut tempat
perkembangannya:
Para ahli
sejarah tasawuf menilai bahwa timbulnya gerakan tersebut tidak terlepas dari
kondisi kehidupan masyarakat-terutama di kalangan istana Bani Umayyah- yang
oleh sahabat dinilai telah menyimpang terlalu jauh dari kehidupan yang
diajarkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat besar yang saleh dan sederhana.
Di Madinah,
Sa’id bin Musayyab (w. 91 H), murid dan menantu Abu Hurairah ra (salah seorang
ahl as-suffah), mencontohkan hidup zuhud kepada para pengikutnya. Dalam suatu
riwayat disebutkan bahwa suatu kali ia ditawari sejumlah tiga puluh lima ribu
dirham uang perak. Ia menolaknya dan beliau memandang para penguasa Bani
Umayyah-kata Ibnu Khallikan, penulis biografi tokoh-tokoh Islam klasik- sebagai
tiran, sehingga tidak mau membaiat Abdul Malik bin Marwan ketika naik tahta
kerajaan.
Menurut
catatan sejarah dari sahabat Nabi yang pertama sekali melembagakan tasawuf
dengan cara mendirikan madrasah tasawuf adalah Huzaifah bin Al-Yamani,
sedangkan Imam Sufi yang pertama dalam sejarah Islam adalah Hasan Al-Basri
(21-110 H) seorang ulama tabi’in, murid pertama dari Huzaifah Al-Yamani beliau
dianggap tokoh sentral dan yang paling pertama meletakkan dasar metodologi ilmu
tasawuf. Hasan Al-Basri adalah orang yang pertama memperaktekkan, berbicara
menguraikan maksud tasawuf sebagai pembuka jalan generasi berikutnya.
Tasawuf
sebagai sebuah disiplin keilmuan Islam, baru muncul pada abad ke II H/XIII M,
atau paling tidak dalam bentuk yang lebih jelas pada abad ke III H/X M. Namun,
sebagai pengalaman spiritual, tasawuf telah ada sejak adanya manusia, Usianya
setua manusia. Semua nabi dan Rasul adalah Sufi, yang tidak lain adalah manusia
sempurna ( insan kamil). Nabi Muhammad adalah Sufi terbesar karena beliau
adalah manusia sempurna yang paling sempurna.
Perbandingan antara mistisisme dan ascetisme dalam aspek tujuan, pemikiran dan pengalaman
Asketikisme atau asketisme berasal
dari bahasa Yunani: áskēsis, artinya latihan atau praktik. Bisa
juga diartikan dengan pelaksanaan, lalu ism artinya ajaran atau paham.
Itu berarti Asketisme merupakan paham
yang menjelaskan gaya hidup yang ditandai dengan berpantang dari berbagai macam
kesenangan duniawi atau menarik diri dari dunia untuk menjalani kehidupan”bertapa”,
ini juga menjadi bentuk-bentuk paraktik disiplin untuk mencapai tujuan religius
dan spiritual.
Asketisme
dalam istilah Arab (Islam) dikenal dengan “zuhud”, secara etimologi berarti ragaba
‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan
meninggalkannya. Zahada fi al-dunya berarti mengosongkan diri dari
kesenangan dunia untuk ibadah.
Sedangkan
zuhud secara terminologi adalah hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya
mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana dia tetap bekerja
dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi tidak menguasai kecenderungan kalbu
mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya.
Itu tadi penjelasan mengenai pengertian
asketisme atau zuhud. Berikutnya jika melihat sejarah mengenai pertumbuhan
serta perkembangan tasawuf dalam hal ini lebih dikhususkan kepada tahap zuhud
atau asketisme, ada beberapa tahapan. Dr.
Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani dalam bukunya yang berjudul “Madkhal
ila al-Tashawwuf al-Islam” yang diterjemahkan oleh Ahmad Rofi’ ‘Utsmani
dengan judul “Sufi dari Zaman ke Zaman” menerangkan bahwa sejarah perkembangan
tasawuf terbagi dalam beberapa tahapan. Tahapan-tahapan
tersebut adalah sebagai berikut:
Dimulai
dari masa awal perkembangan pada akhir abad ke-1 H sampai kurang lebih abad
ke-2H. Gerakan zuhud pertama kali muncul di Madinah, Kuffah dan Basrah kemudian
menyebar ke Khurasan dan Mesir. Awalnya merupakan respon terhadap gaya hidup
mewah para pembesar negara akhibat dari perolehan kekayaan melimpah setelah
Islam mengalami perluasan wilayah ke Suriah, Mesir, Mesopotamia dan Persia. Dan
dibawah ini karakteristik serta tokoh-
tokohnya menurut tempat perkembangannya:
Madinah: Aliran Madinah lebih cenderung pada pemikiran angkatan pertama
kaum muslimin (shalaf) dan berpegang teguh pada asketisisme serta
kerendah hatian Nabi SAW.aliran ini juga tidak begitu terpengaruh
perubahan-perubahan sosial yang berlangsung pada masa dinasti Ummayah dan
prinsipnya tidak berubah sekalipun mendapat tekanan dari penguasa bani Ummayah.
Sehingga aliran ini tetap konsisten pada ajaran-ajaran Islam. dari kalangan sahabat Nabi Muhammad
SAW yaitu Abu Ubaidah al-Jarrah, Abu Dzar Al-Ghiffari, Salman Al Farisi, serta
Abdullan ibn Mas’ud. Dari kalangan Tabi’in: Said ibn Musayyab, dan Salim ibn
Abdullah
Basrah : Corak yang menonjol dari Aliran Basrah adalah asketisisme dan rasa
takut yang berlebih-lebihan. Mereka berlebih-lebihan dalam asketisisme, kerendahhatian, dan ibadah
mereka daripada apa yang diketahui tentang para sahabat. Diantara tokonya: Hasan Al Bashri, Malik ibn Dinar, Fadhl Al Raqqasyi, Kahmas
ibn Al hadan Al Qais, Shalih al Murri dan Abut Wahid ibn Zaid
Kuffah: Aliran Kuffah bercorak idealis, menyukai hal-hal aneh
dalam nahwu, hal-hal imagi dalam puisi, dan harfiah dalam hal Hadits. Dalam
aqidah, mereka cenderung pada aliran Syi’ah dan Raja’iyyah. Tokohnya:
Al Rabi ibn Khasim, Said ibn Jubair, Thawus ibn Kisan, Sufyan Al Tsauri, Al
Laits ibn Said, Sufyan ibn Unaiyah
Mesir: Aliran asketisisme di Mesir ini sama dengan aliran asketisisme
di Madinah. Aliran Mesir menjadikan Al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai dasar-dasar
dalam bersikap Zuhud. Tokohnya:Salim ibn Altar al Tajihi, Abdurrahman
Al Hujairah, Abdullah ibn Umar. Dan pada masa- masa terakhir tahap ini muncul
tokoh- tokoh sufi sejati. Diantaranya, Ibrahim ibn Adham, Fudhail ibn Iyadh,
Dawud Al Tha’i dan Rabi’ah Al Adawiyyah.
Menurut Abu al-Wafa’ aliran asketisme abad pertama dan kedua hijriyah dapat
disimpulkan dengan beberapa karekteristik berikut:
1. Asketisisme ini berdasarkan
ide menjauhi hal-hal duniawi, demi meraih pahala akhirat, dan memelihara dari
azab neraka. ide ini berakar pada ajaran-ajaran al-Qur’an dan sunnah, dan
terkena dampak berbagai kondisi sosio-politik yang berkembang pada masyarakat
Islam kala itu.
2. Asketisisme ini
bercorak praktis. dan .para pendirinya tidak menaruh perhatian untuk menyusun
prinsip-prinsip teoritis atas asketisismenya tersebut. Sarana-sarana praktisnya
merupakan hidup dalam ketenangan dan kesederhanaan secara penuh, sedikit makan maupun
minum, banyak beribadah
mengingat Allah, berlebih-lebihan dalam merasa berdosa. tunduk mutlak pada
kehendak Allah, dan berserah diri kepada-Nya. Dengan begitu. asketisisme ini
mengarah pada tujuan moral.
3. Motivasi asketisisme, yakni rasa yang muncul dan landasan
amal keagamaan secara sungguh-sungguh. Sernentara pada akhir abad kedua
hijriah. di tangan Rabi’ah al-Adawivvah. Muncul motivasi cinta kepada Allah.
yang bebas dan rasa takut terhadap azabNva maupun rasa harap terhadap
pahala-Nya. Hal ini mencerminkan penyucian diri dan abstraksi dalam hubungan
antara manusia dengan Allah.
4. Asketisisme
sebagai asketis yang terakhir, khususnya di Khurasan, dan pada Rabiah al Adawiyyah
ditandai kedalaman
rnembuat analisa, yang bisa dipandang sebagai pandahuluan tasawuf. kelompok ini
sekalipun dekat dengan tasawuf, tidak dipandarng sebagai para sufi dalam
pengertiannya yang terinci. Mereka lebih tepat dipandang sehagai cikal bakal
para sufi abad - abad ketiga dan keempat Hijriyah.
Dari pemaparan diatas mengenai asketisme atau lebih kita
kenal dengan istilah zuhud bisa disimpulkan bahwa asketisme sendiri merupakan
cikal bakal dari tasawuf. Bisa dibahasakan pula bahwa asketisme merupakan
“sufisme klasik” dan tasawuf atau mistisisme adalah “sufisme modern/kontemporer”.
Selanjutnya akan dibahas mengenai tasawuf, diistilahkan pula dengan mistisisme.
Mistisisme
(Definisi, Sejarah serta Karakteristik)
Kata mistisisme berasal dari bahasa
Yunani “Meyein” yang artinya menutup mata. Kata mistik biasanya
digunakan untuk menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan tentang
misteri. Dalam arti luas, mistik dapat didefinisikan sebagai kesadaran terhadap
kenyataan tunggal, yang mungkin disebut kearifan, cahaya, cinta atau nihil.
Mistisisme dalam Islam disebut dengan tasawuf, dan oleh para
orientalis Barat disebut dengan sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis
khusus dipakai dalam mistisisme Islam, dan tidak dipakai dalam agama-agama
lainnya.
Tasawuf atau mistisisme sebagaimana dengan mistisisme diluar
agama Islam mempunyai tujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari
dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan.
Berkembangnya tasawuf tersebut tidak lepas dari
motivasi atau desakan oleh keadaan saat itu, terutama pada abad 9 ajaran
tasawuf semakin menyebar luas kesetiap penjuru. Dimana pada masa klassik
750-1250 M umat islam telah meraih kejayaan yang sangat luar biasa, tapi moral
dan akhlak mereka sangat rusak bahkan diantara mereka telah lalai tugasnya
sebagai khalifah Allah. Dengan krisis moral itulah sebagian umat islam menjauhi
dari yang menduniawi dan mengkonsentrasikan terhadap pendekatan kepada Allah
karena meditasi sebagai jalan yang tepat untuk memperbaiki moral mereka. Tapi
tindakan mereka telah melapaui batas, mereka asyik meditasi dan tidak
menghiraukan kehidupan soasial, ilmu pengetahuan, dan lain sehingga dari
tindakan para sufi tersebut tasawuf dianggap sebab penyebab hancurnya peradaban
islam.
Pada abad pertama dan kedua
hijriah, ajaran mistisisne cenderung bersifat asketik (zuhud). Sikap ini
banyak dipandang sebagai pengantar kemunculan tasawuf. Pada fase ini dari
kalangan muslim yang lebih memusatkan dirinya pada ibadah dan tidak
mementingkan kehidupan dunia.
Pada abad pertama hijriyah
ajaran tasawuf dipraktekkan oleh para sahabat, kemudian untuk abad kedua
hijriyah dipraktekan oleh para tabi’in. Tokoh yang sangat popular sebagai
seorang Asketik pada masa Tabi’in adalah Hasan Basri (624-728 M) dengan ajaran
Raja dan Khauf untuk mendekatkan diri kepada Allah,
Rabi’atul adawiyah (713-801 M) konsep ajarannya menggunakan pendekatan Mahabbah.
Dalam segi ajarannyapun pada abad pertama dan
kedua ini masih murni menganut konsep-konsep kehidupan rasullah yang bersandar
kepada al-Qur’an dan Al-Hadist, memang sewajarnya mempunyai pandangan demikian
karena umat islam pada waktu itu tidak berinteraksi dengan peradaban-peradaban
dengan negara-negara lain, sehingga ajaran tasawuf masih murni.
Mulai abad ke-3 dan ke-4 H terdapat dua
kecenderungan para tokoh, sehingga mengakibatkan ajaran mistisime terbagi
menjadi 2 macam pendekatan, yaitu:
a.
Cenderung pada kajian tasawuf yang
bersifat akhlak yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah Shirah
Nabawaiyah (Tasawuf Sunni). Tasawwuf sunni ialah aliran tasaawuf
yang berusaha memadukan asapek hakekat dan syari’at, yang senantiasa
memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan diri kepada Allah,
dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh terhadap ajaran Al-Qur’an,
Sunnah dan Shirah para sahabat. Dalam kehidupan sehari-hari para pengamal
tasawwuf ini berusaha untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat
keduniawian, jabatan, dan menjauhi hal-hal yang dapat mengganggu
kekhusua’an ibadahnya.
b. Cenderung pada
kajian yang bersifat filsafat metafisika (Tasawuf Falsafi). Secara garis besar tasawuf falsafi adalah tasawuf yang
ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional. Tasawuf ini
menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya yang berasal dari
berbagai macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya. Rata-rata
para tokoh tasawuf falsafi dipengaruhi oleh pemikiran yunani, india, dan Persia
yang mengakibatkan mistisisme dalam islam bersifat rasio.
Tasawuf
Falsafi yang mencapai puncak kejayaannya di tangan Al-Hallaj. Baru setelah
al-Hallaj meninggal pada abad ke-5 H, Tasawuf
Sunni mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat. Abad ke-5 H boleh dikatakan
sebagai masa kemunduran Tasawuf Falsafi dan berjayanya Tasawuf Sunni,
dengan tokoh-tokohnyaya itu Abu Qasim abdul Karim al-Qusyairi (376-466 H), Abu
Ismail Abdullah binMuhammad al-Ansari al-Harawi (396-481 H) dan al-Ghazali
(450-478 H).
Setelah
fase tasawuf falsafi, selanjutnya fase perkembangan tarekat (Abad ke 7H hingga
seterusnya). Meskipun tarekat telah dikenal sejak jauh sebelumnva. seperti
tarekat Junaidiyvah yang didirikan oleh Abu Al Qasim Al Juanid Al Baghdadi (w.
297 H) atau Nuriyyah yang didirikan oleh Abu Hasan lbn Muhammad Nuri (w. 295).baru pada
masa-masa ini tarekat berkembang
dengan pesat. Seperti tarekat Qadariyyah ( mengkaitkan tasawuf dengan AI-Qur’an dan
sunnah) yang didirikan oleh Abdul Qadir Al Jilani (w. 561 H) di jilan ( Wilayah
Iran sekarang ). Tarekat Rifa’iyyah (meliputi tentang zuhud,
ma’rifat dan cinta) didirikan oleh Ahmad Rifai (w. 578 H) dan tarek
Suhrawadiyyah ( mengenai aturan-aturan tarekat)
yang didirikan oleh Abu Najib Al Suhrawardi (w. 563 H). Tarekat
Naqsabandiyah yang memiliki pengikut paling luas dan tarekat ini sekarang
telah memiliki banyak variasi
Secara
umum, tujuan terpenting dari sufi adalah agar berada sedekat mungkin dengan
Allah. Akan tetapi apabila di perhatikan karakteristik tasawuf secara umum,
terlihat adanya tiga sasaran “antara” dari tasawuf yaitu; pertama,
tasawuf yang bertujuan untuk pembinaan aspek moral. Kedua, tasawuf
yang bertujuan untuk ma’rifatullah melalui penyingkapan langsung atau metode “Al-kasyf
al-hijab”. Ketiga, tasawuf yang bertujuan untuk membahas bagaimana
system pengenalan dan pendekatan diri kepada Allah secara mistis filosofis,
pengkajian garis hubungan antara Tuhan dengan mahluk, terutama hubungan manusia
dengan Tuhan.
Dari
uraian singkat tentang tujuan asketisme serta mistisisme ini terlihat adanya
keragaman dalam tujuan itu. Namun dapat di rumuskan bahwa, tujuan akhir
dari sufisme adalah etika murni atau psikologi murni, dan atau keduanya secara
bersamaan yaitu : (a) penyerahan diri dari sepenuhnya kepada kehendak mutlak
Tuhan karena Dialah penggerak utama dari seluruh alam ini; (b) penanggala
secara total semua keinginan pribadi dan melepas diri dari sifat-sifat jelek
yang berkenaan dari kehidupan duniawi-teresterial-yang di istilahkan sebagai “fana
al-ma’asi wa baqa al-ta’ah”;dan (c) peniadaan kesadaran terhadap “diri
sendiri” serta pemusatan diri pada perenungan terhadap Tuhan semata, tiada yang
di cari kecuali Dia.

No comments:
Post a Comment