Friday, 13 November 2015

Kutanya, Kutahu Harus Apa

Gubahan puisi ke prosa...


Sore itu aku sibuk di ruang tamu mungil keluarga kami. Meja persegi panjang yang sudah mulai terlihat tua itu penuh dengan buku-bukuku yang berserakan. Tiba-tiba terdengar ayah berdehem tak jauh dari meja yang jadi kekuasaanku itu sekarang. Ternyata sedari tadi, ayah mengamati gerak-gerikku yang tak jelas. Kutanyakan hal itu pada ayah. Ayah hanya mengatakan, “Teruslah belajar agar kelak tak menyesal, Nak.” Seolah ayah mengetahui jalan fikiranku, aku terkesimak dengan kata-kata beliau.

Tanpa kusadari, wajahku mulai memanas dan ada bulir bulir bening yang siap menetes dari pelupuk mataku. Tak tahan aku berlari ke ruang tengah yang bersebelahan dengan ruang tamu di rumah mungil kami. Kupeluk ibu sambil menahan isak yang sangat lirih. Serasa tengorokan tercekat. Saat ibu mulai membelai rambutku, tak bisa lagi kutahan. Tumpah ruah segala tangis yang dengan rapi kubendung sejak pagi tadi. Dalam tangisku yang dalam di pelukan beliau, ibu sangat setuju dengan perkataan ayah. Aku harus bersyukur selalu karena sampai detik ini, kami masih berkecukupan walau sederhana termasuk pendidikanku yang masih terus berlanjut.

Kakek yang sedari tadi tersenyum-senyum simpul melihatku semakin terkekeh. Aku pun menanyakan hal itu padanya dan nasihat itu mengalir mencerminkan guratan-guratan di dahinya yang menandakan pengalamannya yang sudah bertahun-tahun menjalani hidup, “Anak shaleh harus baik, sehat jasmani dan rohani.” Berkalimat-kalimat yang beliau sampaikan, hanya sepenggal kalimat itu saja yang bisa kudengar karena isakku makin menjadi.

Tak berapa lama, nenek cantikku datang dari kebun belakang dengan menggendong cimi, kucing kesayangan keluarga kami. Mendengar suara gaduh dari dalam, nenek buru-buru masuk. Tak perlu menanyakan perihal kegaduhan itu, ibu sudah bercerita panjang lebar, “Ini lho nek, jagoan kita ini sedang pusing dengan nilai ujiannya yang semakin menurun. Dia khawatir tidak bisa masuk ke sekolah yang diimpikannya.” “Oalah le..le..begitu saja koq nangis. Insya Allah, nenek yakin kamu bisa masuk sekolah favoritmu itu. Jagoan nenek ini kan anak baik, sayang binatang sayang lingkungan, tentu Allah tak akan mengecewakan hamba-Nya yang baik. Tapi, berusaha itu harus. Belajar salah satunya. Kemarin kenapa bisa mendapat nilai jelek itu diingat-ingat lagi, kenapa bisa begitu…”

Perlahan-lahan tangisku mereda. Kata-kata nenek yang begitu panjang tapi menenangkan. Bagai mendapat bertetes-tetes embun. Setelah seluruh air mata serasa tertumpah tak berbisa, hatiku lega. Bagaikan rumah kotor yang kini sudah bersih. Tiba-tiba aku berfikir, seandainya hal itu aku pendam begitu saja, tentu aku akan semakin bingung. Tapi karena akhirnya semua bisa kutanyakan pada ayah, ibu, bahkan kakek dan nenek, aku tahu harus melakukan apa. Pesan mereka, jika kita bisa bersyukur, saling menyayangi, saling menjaga, maka orang lain, bahkan alam pun akan turut serta. Kusayang adik, bintang berkelip cantik. Kujaga sahabat, alam memelukku erat.

(My Lovely) 


Puisi 

Kutanya, Kutahu Harus Apa

Kutanya ayah, ia berkata
"terus belajar agar kelak tak menyesal" 

Kupeluk ibu, ia setuju
aku harus bersyukur selalu

Kutanya kakek, ia menasihati
"anak saleh harus baik, sehat jasmani dan rohani"

Kutanya, kutahu harus apa
kusayang adik, bintang berkelip cantik
kujaga sahabat, alam memelukku erat

(A. Rosdianahangka) 

No comments:

Post a Comment