Sore itu aku sibuk di ruang tamu mungil keluarga kami. Meja
persegi panjang yang sudah mulai terlihat tua itu penuh dengan buku-bukuku yang
berserakan. Tiba-tiba terdengar ayah berdehem tak jauh dari meja yang jadi
kekuasaanku itu sekarang. Ternyata sedari tadi, ayah mengamati gerak-gerikku
yang tak jelas. Kutanyakan hal itu pada ayah. Ayah hanya mengatakan, “Teruslah
belajar agar kelak tak menyesal, Nak.” Seolah ayah mengetahui jalan fikiranku,
aku terkesimak dengan kata-kata beliau.
Tanpa kusadari, wajahku mulai memanas dan ada bulir bulir
bening yang siap menetes dari pelupuk mataku. Tak tahan aku berlari ke ruang
tengah yang bersebelahan dengan ruang tamu di rumah mungil kami. Kupeluk ibu
sambil menahan isak yang sangat lirih. Serasa tengorokan tercekat. Saat ibu
mulai membelai rambutku, tak bisa lagi kutahan. Tumpah ruah segala tangis yang
dengan rapi kubendung sejak pagi tadi. Dalam tangisku yang dalam di pelukan
beliau, ibu sangat setuju dengan perkataan ayah. Aku harus bersyukur selalu
karena sampai detik ini, kami masih berkecukupan walau sederhana termasuk
pendidikanku yang masih terus berlanjut.
Kakek yang sedari tadi tersenyum-senyum simpul melihatku
semakin terkekeh. Aku pun menanyakan hal itu padanya dan nasihat itu mengalir
mencerminkan guratan-guratan di dahinya yang menandakan pengalamannya yang
sudah bertahun-tahun menjalani hidup, “Anak shaleh harus baik, sehat jasmani
dan rohani.” Berkalimat-kalimat yang beliau sampaikan, hanya sepenggal kalimat
itu saja yang bisa kudengar karena isakku makin menjadi.
Tak berapa lama, nenek cantikku datang dari kebun belakang
dengan menggendong cimi, kucing kesayangan keluarga kami. Mendengar suara gaduh
dari dalam, nenek buru-buru masuk. Tak perlu menanyakan perihal kegaduhan itu,
ibu sudah bercerita panjang lebar, “Ini lho nek, jagoan kita ini sedang pusing
dengan nilai ujiannya yang semakin menurun. Dia khawatir tidak bisa masuk ke
sekolah yang diimpikannya.” “Oalah le..le..begitu saja koq nangis. Insya Allah,
nenek yakin kamu bisa masuk sekolah favoritmu itu. Jagoan nenek ini kan anak
baik, sayang binatang sayang lingkungan, tentu Allah tak akan mengecewakan
hamba-Nya yang baik. Tapi, berusaha itu harus. Belajar salah satunya. Kemarin
kenapa bisa mendapat nilai jelek itu diingat-ingat lagi, kenapa bisa begitu…”
Perlahan-lahan tangisku mereda. Kata-kata nenek yang begitu
panjang tapi menenangkan. Bagai mendapat bertetes-tetes embun. Setelah seluruh
air mata serasa tertumpah tak berbisa, hatiku lega. Bagaikan rumah kotor yang
kini sudah bersih. Tiba-tiba aku berfikir, seandainya hal itu aku pendam begitu
saja, tentu aku akan semakin bingung. Tapi karena akhirnya semua bisa kutanyakan
pada ayah, ibu, bahkan kakek dan nenek, aku tahu harus melakukan apa. Pesan
mereka, jika kita bisa bersyukur, saling menyayangi, saling menjaga, maka orang
lain, bahkan alam pun akan turut serta. Kusayang adik, bintang berkelip cantik.
Kujaga sahabat, alam memelukku erat.
(My Lovely)
Puisi
Kutanya, Kutahu Harus Apa
Kutanya ayah, ia berkata
"terus belajar agar kelak tak menyesal"
Kupeluk ibu, ia setuju
aku harus bersyukur selalu
Kutanya kakek, ia menasihati
"anak saleh harus baik, sehat jasmani dan rohani"
Kutanya, kutahu harus apa
kusayang adik, bintang berkelip cantik
kujaga sahabat, alam memelukku erat
(A. Rosdianahangka)

No comments:
Post a Comment