Monday, 16 November 2015

Ronggo Rekso Utomo (Bagian 1)


BAGIAN  I  :   BINGKAI  HATI  YANG  TAK  BERPENGHUNI

Jalanan masih sepi saat Rekso  memacu kudanya dengan kencang , karena hari masih pagi buta  dan  ayam jantan baru berkokok  satu kali . Suara kaki kudanya memecah keheningan pagi , hanya sesekali ditemuinya kelompok-kelompok kecil para pedagang sayur yang berjalan kaki menuju kepasar .

Setelah dilewatinya persawahan yang lumayan panjang dan melewati sebuah tikungan jalan yang terdapat pohon Gintung yang besar dan menaiki sedikit tanjakan sampailah Rekso di perempatan jalan , Rekso termangu-mangu sejenak di atas kudanya yang terengah-engah , tak berapa lama terdengarlah kokok ayam jantan yang kedua kalinya pertanda sebentar lagi pagi tiba dan Rekso turun dari kudanya menuju sebuah gardu yang ada di perempatan jalan itu , lalu Rekso menambatkan kudanya pada sebatang perdu , lalu Rekso duduk di gardu sembari tercenung memikirkan ibunya yang ditinggalkannya di rumah .

Masih terngiang di telinga Rekso kata-kata ibunya sewaktu dia menyampaiakan niatnya kepada sang ibu :
Ibu Rekso        :     Rekso . . . . . jika memang tekatmu sudah bulat ya sudah , kamu berangkat
sana , Ibu hanya bisa mendo’akan kamu , semoga gusti mengabulkan apa yang kamu cita-citakan Rekso . . . , dan lagi jika bapakmu mengetahui tentang hal ini ibu yakin bapakmu juga setuju , asalkan kamu benar benar madep mantep marang Gusti pasti keinginanmu dikabulkan .

Bangga  dan  mantap hati Rekso bila mendengar kata kata ibunya yang selalu terngiang di telinganya , akan tetapi hati Rekso sangat bimbang ; ragu  bahkan selalu galau sejak dia berangkat dari rumah tadi , karena dia selalu teringat kejadian semalam , Galuh Roro Rengganis  wanita pujaan hatinya yang selama ini selalu bersamanya disela sela kegiatan desa , wanita yang telah berjanji sehidup semati dan dicintainya setengah mati , tadi malam telah dipersunting seorang pemuda dari desa  sebelah .

Ki Surojo  tadi malam memang telah melaksanakan hajatan besar , karena Ki Surojo sedang melangsungkan perayaan pernikahan Putri Tunggalnya Galuh Roro Rengganis  yang  telah dipersunting  seorang pemuda anak seorang  Demang  Sempulur  yang bernama Prasetyo .

Prasetyo  adalah seorang pemuda kaya  dan banyak temannya , dimana-mana dikenal orang karena Prasetyo selalu royal terhadap teman-temannya . Sudah dua tahun ini Prasetyo menjadi prajurit di Kadipaten Rogo Jampi  yang  termasuk  dalam Kerajaan  Jenggala Manik  , dan entah kenapa Prasetyo kembali ke tanah Kademangan  Sempulur , kata orang Prasetyo dipersiapkan untuk menggantikan orang tuanya untuk menjadi  Demang Sempulur .

Di dalam lamunannya Rekso terbayang pertemuannya yang terakir dengan Galuh Roro Rengganis , saat itu Rekso  dan  Galuh  janjian bertemu berduaan  di Sendang Jambe yang merupakan salah satu sumber air di desanya , tempat itu disebut Sendang Jambe karena disitu ada sumber air yang bening  yang dikelilingi pohon Jambe . Hari sudah menjelang sore ketika mereka bertemu dan duduk berdua diatas batu besar yang ada di atas sumber air , sambil memandangi ikan yang berenang kesana kemari  Rekso  dan  Galuh  berbicara serius sekali .
Rekso              :     Dinda . . . dinda  Galuh . . . . , kuperhatikan dari tadi sepertinya dirimu gundah
Sekali . . . . . , sebenarnya ada apa  dinda . . . .

Galuh tidak segera menjawap pertanyaan Rekso , dipegangnya tangan Rekso yang kokoh itu . . . ditatapnya mata Rekso dengan mata yang berkaca kaca penuh air mata yang hampir tumpah  . . . yang akirnya tumpah juga air mata itu mengalir di pipi Galuh Roro Rengganis . Rekso yang memperhatikan Galuh menjadi semakin bingung dan digengamnya erat erat tangan Galuh yang memegangnya.
Rekso              :    Apa yang terjadi Galuh . . .
Galuh              :     Kang Mas  Rekso Utomo . . . . . , sebenarnya sulit sekali aku hendak menyampaikan
Rekso              :    Katakanlah dinda . . . . .
Galuh              :     Kang Mas . . . . . ,  aku akan dinikahkan dengan orang lain  Kang Mas . . . . .

Bagaikan disambar petir disiang bolong  Rekso terkejut bukan kepalang , seketika wajahnya memerah  dan  terasa aliran darahnya semakin cepat naik ke ubun-ubun . . . . , diambilnya sebuah batu kerikil  lalu dilemparnya ke dalam air Sendang , pandangannya jauh menerawang ke atas langit .
Suasana menjadi sunyi beberapa lamanya , hanya suara gemericik air dan kecipak ikan dalam Sendang yang memecah keheningan , perlahan Rekso berpaling kearah Galuh Roro Rengganis  , dipandanginya wajah yang ayu itu  dan dipegangnya erat-erat tangan Galuh , Galuhpun memandang wajah Rekso dengan tatapan mata yang berkaca-kaca .
Rekso              :     Katakan  Dinda . . . . . katakan siapa orang itu

Dengan meneteskan air mata yang berlinangan dan bibir yang kelu Galuh Roro Rengganis berkata sambil terbata-bata .
Galuh              :     Kakang  Prasetyo . . . . , Prasetyo  yang akan dinikahkan dengan aku
Rekso              :     Prasetyo  anak Demang  itu ?
Galuh              :     Iya  kakang

Tak kuasa menahan derasnya air mata akirnya pecahlah tangisan Galuh Roro Rengganis , dipeluknya erat-erat tubuh Rekso sembari menangis sesenggukan . Rekso pun tak kuasa menahan tetesan air mata yang sedari tadi ditahan-tahannya , namun Rekso berusaha untuk kuat dan tidak menangis .
Dengan perlahan di lepaskannya pelukan Galuh Roro Rengganis , diusapnya air mata Galuh dengan menggunakan jemarinya  lalu dibaringkannya Galuh diatas pangkuannya sembari membelainya rambut Galuh yang hitam dan panjang sampai menjurai diatas batu tempat mereka duduk .
Lama sekali keduanya membisu tak bersuara , hanya gejolak hati yang tak karuan yang berkecamuk didalam dada masing-masing , dan tak terasa sore tlah tiba dan mereka pulang .

Lamunan Rekso yang duduk di Gardu dekat perempatan jalan buyar ketika didepannya melintas kereta kuda , sepertinya seorang Demang atau seorang saudagar berangkat pagi-pagi menuju ke kota Kadipaten , kemudian Rekso menengok kearah kudanya yang masih terikat pada sebatang perdu dekat Gardu , tetapi kegundahan hati Rekso Utomo belum juga hilang , dia kembali teringat pada ibunya , teringat pada pekerjaannya di sawah yang ditinggalkannya , siapa nanti yang akan menggarap sawahnya , tapi dia juga sudah menghubungi pamannya yang berada di kota Kadipaten lewat seorang pedagang yang ke kota dan pamannya juga memberikan balasan lewat pedagang itu pula , hati Rekso berkecamuk dan lamunannya kembali tentang perkenalannya dengan Galuh Roro Rengganis .

Rekso Utomo  dan  Galuh Roro Rengganis  sebenarnya sudah lama berkenalan , mereka pernah sama-sama berguru di padhepokan Windu Jati yang terletak di lereng Gunung Wilis sisi timur , kenangan yang paling indah bagi Rekso Utomo  dan  Galuh Roro Rengganis adalah  , pernah suatu ketika Rekso diberi tugas oleh Ki Ajar Pamulang  pimpinan Padhepokan Windu Jati , Rekso ditugasi untuk memimpin sekelompok murit Pahepokan untuk pertandingan persahabatan ke Padhepokan Windu Gumilang yang berada di lereng Gunung Wilis sisi barat , pimpinan Padhepokan Windu Gumilang ini tidak lain adalah adik seperguruan  Ki Ajar Pamulang sendiri , sebenarnya pertandingan persahabatan ini juga kurang pas disebut pertandingan , karena terlebih saling unjuk kebolehan dan tukar pengalaman dan ilmu , semacam belajar bersama mulai ilmu bela diri dan olah kanuragan ; ilmu pertanian dan pengolahan besi atau pande juga ilmu sastra dan perbintangan .

Pada saat pulang dari padhepokan Windu Gumilang inilah terjadi kenangan indah antara Rekso  dan  Galuh Roro Rengganis , saat mereka menuruni lereng Gunung Wilis sisi Timur menuju Padhepokan Windu Jati jalannya melewati sebuah sungai yang airnya deras dengan batu batu pegunungan yang sangat licin , sungai ini bernama sungai Sumber Kepodang  , karena sungai yang bermata air di lereng  gunung wilis  dan mengalir sepanjang lembah yang tepiannya banyak ditumbuhi pohon mangga kepodang , dan saat menyeberangi sungai ini Galuh terpeleset  jatuh kedalam sungai dan hanyut terbawa arus sungai
Galuh              :    Tolong . . !!! tolong . . !!! tol . . heb . . heb . . .
Galuh Roro Rengganis muncul  . . tenggelam . . didalam air sungai Sumber kepodang yang sangat dingin .

(bersambung)

(Karman) 

No comments:

Post a Comment