Jalanan masih sepi saat
Rekso memacu kudanya dengan kencang ,
karena hari masih pagi buta dan ayam jantan baru berkokok satu kali . Suara kaki kudanya memecah
keheningan pagi , hanya sesekali ditemuinya kelompok-kelompok kecil para
pedagang sayur yang berjalan kaki menuju kepasar .
Setelah dilewatinya
persawahan yang lumayan panjang dan melewati sebuah tikungan jalan yang
terdapat pohon Gintung yang besar dan menaiki sedikit tanjakan sampailah Rekso
di perempatan jalan , Rekso termangu-mangu sejenak di atas kudanya yang
terengah-engah , tak berapa lama terdengarlah kokok ayam jantan yang kedua kalinya pertanda sebentar
lagi pagi tiba dan Rekso turun dari kudanya menuju sebuah gardu yang ada di
perempatan jalan itu , lalu Rekso menambatkan kudanya pada sebatang perdu ,
lalu Rekso duduk di gardu sembari tercenung memikirkan ibunya yang
ditinggalkannya di rumah .
Masih terngiang di
telinga Rekso kata-kata ibunya sewaktu dia menyampaiakan niatnya kepada sang ibu :
Ibu Rekso :
Rekso . . . . . jika memang tekatmu sudah bulat ya sudah , kamu
berangkat
sana , Ibu hanya bisa mendo’akan kamu , semoga gusti
mengabulkan apa yang kamu cita-citakan Rekso . . . , dan lagi jika bapakmu
mengetahui tentang hal ini ibu yakin bapakmu juga setuju , asalkan kamu benar
benar madep mantep marang Gusti pasti keinginanmu dikabulkan .
Bangga dan mantap hati Rekso bila mendengar kata kata
ibunya yang selalu terngiang di telinganya , akan tetapi hati Rekso sangat
bimbang ; ragu bahkan selalu galau sejak
dia berangkat dari rumah tadi , karena dia selalu teringat kejadian semalam ,
Galuh Roro Rengganis wanita pujaan
hatinya yang selama ini selalu bersamanya disela sela kegiatan desa , wanita
yang telah berjanji sehidup semati dan dicintainya setengah mati , tadi malam
telah dipersunting seorang pemuda dari desa
sebelah .
Ki Surojo tadi malam memang telah
melaksanakan hajatan besar , karena Ki Surojo sedang melangsungkan perayaan
pernikahan Putri Tunggalnya Galuh Roro Rengganis yang
telah dipersunting seorang pemuda
anak seorang Demang Sempulur yang bernama Prasetyo .
Prasetyo adalah seorang pemuda kaya dan banyak temannya , dimana-mana dikenal
orang karena Prasetyo selalu royal terhadap teman-temannya . Sudah dua tahun
ini Prasetyo menjadi prajurit di Kadipaten Rogo Jampi yang
termasuk dalam Kerajaan Jenggala
Manik , dan entah kenapa Prasetyo
kembali ke tanah Kademangan Sempulur ,
kata orang Prasetyo dipersiapkan untuk menggantikan orang tuanya untuk menjadi Demang Sempulur .
Di dalam lamunannya
Rekso terbayang pertemuannya yang terakir dengan Galuh Roro Rengganis , saat
itu Rekso dan Galuh
janjian bertemu berduaan di
Sendang Jambe yang merupakan salah satu sumber air di desanya , tempat itu
disebut Sendang Jambe karena disitu ada sumber air yang bening yang dikelilingi pohon Jambe . Hari sudah
menjelang sore ketika mereka bertemu dan duduk berdua diatas batu besar yang
ada di atas sumber air , sambil memandangi ikan yang berenang kesana
kemari Rekso dan
Galuh berbicara serius sekali .
Rekso : Dinda . . . dinda Galuh . . . . , kuperhatikan dari tadi
sepertinya dirimu gundah
Sekali
. . . . . , sebenarnya ada apa dinda . .
. .
Galuh
tidak segera menjawap pertanyaan Rekso , dipegangnya tangan Rekso yang kokoh
itu . . . ditatapnya mata Rekso dengan mata yang berkaca kaca penuh air mata
yang hampir tumpah . . . yang akirnya
tumpah juga air mata itu mengalir di pipi Galuh Roro Rengganis . Rekso yang
memperhatikan Galuh menjadi semakin bingung dan digengamnya erat erat tangan
Galuh yang memegangnya.
Rekso : Apa yang terjadi Galuh . . .
Galuh : Kang Mas
Rekso Utomo . . . . . , sebenarnya sulit sekali aku hendak menyampaikan
Rekso : Katakanlah dinda . . . . .
Galuh :
Kang Mas . . . . . , aku akan dinikahkan dengan orang lain Kang Mas . . . . .
Bagaikan disambar petir
disiang bolong Rekso terkejut bukan
kepalang , seketika wajahnya memerah
dan terasa aliran darahnya
semakin cepat naik ke ubun-ubun . . . . , diambilnya sebuah batu kerikil lalu dilemparnya ke dalam air Sendang ,
pandangannya jauh menerawang ke atas langit .
Suasana menjadi sunyi
beberapa lamanya , hanya suara gemericik air dan kecipak ikan dalam Sendang
yang memecah keheningan , perlahan Rekso berpaling kearah Galuh Roro
Rengganis , dipandanginya wajah yang ayu
itu dan dipegangnya erat-erat tangan
Galuh , Galuhpun memandang wajah Rekso dengan tatapan mata yang berkaca-kaca .
Rekso : Katakan
Dinda . . . . . katakan siapa orang itu
Dengan meneteskan air
mata yang berlinangan dan bibir yang kelu Galuh Roro Rengganis berkata sambil
terbata-bata .
Galuh : Kakang
Prasetyo . . . . , Prasetyo yang
akan dinikahkan dengan aku
Rekso : Prasetyo
anak Demang itu ?
Galuh : Iya
kakang
Tak kuasa menahan
derasnya air mata akirnya pecahlah tangisan Galuh Roro Rengganis , dipeluknya
erat-erat tubuh Rekso sembari menangis sesenggukan . Rekso pun tak kuasa
menahan tetesan air mata yang sedari tadi ditahan-tahannya , namun Rekso
berusaha untuk kuat dan tidak menangis .
Dengan perlahan di
lepaskannya pelukan Galuh Roro Rengganis , diusapnya air mata Galuh dengan
menggunakan jemarinya lalu
dibaringkannya Galuh diatas pangkuannya sembari membelainya rambut Galuh yang
hitam dan panjang sampai menjurai diatas batu tempat mereka duduk .
Lama sekali keduanya
membisu tak bersuara , hanya gejolak hati yang tak karuan yang berkecamuk
didalam dada masing-masing , dan tak terasa sore tlah tiba dan mereka pulang .
Lamunan Rekso yang
duduk di Gardu dekat perempatan jalan buyar ketika didepannya melintas kereta
kuda , sepertinya seorang Demang atau seorang saudagar berangkat pagi-pagi
menuju ke kota Kadipaten , kemudian Rekso menengok kearah kudanya yang masih
terikat pada sebatang perdu dekat Gardu , tetapi kegundahan hati Rekso Utomo
belum juga hilang , dia kembali teringat pada ibunya , teringat pada
pekerjaannya di sawah yang ditinggalkannya , siapa nanti yang akan menggarap
sawahnya , tapi dia juga sudah menghubungi pamannya yang berada di kota
Kadipaten lewat seorang pedagang yang ke kota dan pamannya juga memberikan
balasan lewat pedagang itu pula , hati Rekso berkecamuk dan lamunannya kembali
tentang perkenalannya dengan Galuh Roro Rengganis .
Rekso Utomo dan
Galuh Roro Rengganis sebenarnya
sudah lama berkenalan , mereka pernah sama-sama berguru di padhepokan Windu
Jati yang terletak di lereng Gunung Wilis sisi timur , kenangan yang paling
indah bagi Rekso Utomo dan Galuh Roro Rengganis adalah , pernah suatu ketika Rekso diberi tugas oleh
Ki Ajar Pamulang pimpinan Padhepokan
Windu Jati , Rekso ditugasi untuk memimpin sekelompok murit Pahepokan untuk
pertandingan persahabatan ke Padhepokan Windu Gumilang yang berada di lereng
Gunung Wilis sisi barat , pimpinan Padhepokan Windu Gumilang ini tidak lain adalah
adik seperguruan Ki Ajar Pamulang
sendiri , sebenarnya pertandingan persahabatan ini juga kurang pas disebut
pertandingan , karena terlebih saling unjuk kebolehan dan tukar pengalaman dan
ilmu , semacam belajar bersama mulai ilmu bela diri dan olah kanuragan ; ilmu
pertanian dan pengolahan besi atau pande juga ilmu sastra dan perbintangan .
Pada saat pulang dari
padhepokan Windu Gumilang inilah terjadi kenangan indah antara Rekso dan
Galuh Roro Rengganis , saat mereka menuruni lereng Gunung Wilis sisi
Timur menuju Padhepokan Windu Jati jalannya melewati sebuah sungai yang airnya
deras dengan batu batu pegunungan yang sangat licin , sungai ini bernama sungai
Sumber Kepodang , karena sungai yang
bermata air di lereng gunung wilis dan mengalir sepanjang lembah yang tepiannya
banyak ditumbuhi pohon mangga kepodang , dan saat menyeberangi sungai ini Galuh
terpeleset jatuh kedalam sungai dan
hanyut terbawa arus sungai
Galuh : Tolong . . !!! tolong . . !!! tol . . heb .
. heb . . .
Galuh Roro Rengganis
muncul . . tenggelam . . didalam air
sungai Sumber kepodang yang sangat dingin .
(bersambung)
(Karman)

No comments:
Post a Comment